Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Filsafat>Sumber-Sumber Pengetahuan

Sumber-Sumber Pengetahuan

oleh: Rajasukses    
ª
 

Ada 2 cara pokok mendapatkan pengetahuan dengan benar:
pertama, mendasarkan diri dengan rasio. Kedua, mendasarkan diri dengan
pengalaman. Kaum rasionalis mengembangkan rasionalisme, dan pengalaman
mengembangkan empirisme. Kaum rasionalis mengembangkan metode
deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dari ide
yang diangapnya jelas dan dapat diterima. Ide ini menurut mereka bukan
ciptaan pikiran manusia. Prinsip itu sudah ada, jauh sebelum manusia
memikirkannya (idelisme).
Di samping rasionalisme dan pengalaman masih ada cara lain
yakni intuisi atau wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan
tanpa melalui proses penalaran, bersifat personal dan tak bisa diramalkan.
Sedangkan wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan
kepada manusia.
Masalah yang muncul dalam sumber pengetahuan adalah dikotomi
atau gap antara sumber ilmu umum dan ilmu agama. Bagi agama Islam
sumber ilmu yang paling otoritatif adalah Alquran dan Hadis. Bagi ilmu
umum (imuwan sekuler) satunya-satunya yang valid adalah pengalaman
empiris yang didukung oleh indrawi melalui metode induksi. Sedangkan
metode deduksi yang ditempuh oleh akal dan nalar sering dicurigai secara
apriopri (yakni tidak melalui pengalaman). Menurut mereka, setinggitingginya
pencapaian akal adalah filsafat. Filsafat masih dipandang terlalu
spekulatif untuk bisa mengkonstruksi bangunan ilmiah seperti yang
diminta kaum positivis. Adapun pengalaman intuitif sering dianggap hanya
sebuah halusinasi atau ilusi belaka. Sedangkan menurut agamawan pengalaman
intuitif dianggap sebagai sumber ilmu, seperti para nabi memperoleh
wahyu ilahi atau mistikus memperoleh limpahan cahaya Ilahi. Masalah berikutnya adalah pengamatan. Sains modern menentukan
obyek ilmu yang sah adalah segala sesuatu sejauh ia dapat diobservasi
(the observables) atau diamati oleh indra. Akibatnya muncul penolakan
dari filosof logika positivisme yang menganggap segala pernyataan yang
tidak ada hubungan obyek empirisnya sebagai nonsens. Perbedaan ini
melahirkan metafisik (dianggap gaib) dan fisik (dianggap science).
Masalah lainnya adalah munculnya disintegrasi pada tatanan
klasifikasi ilmu. Penekanan sains modern pada obyek empiris (ilmu-ilmu
fisika) membuat cabang ilmu nonfisik bergeser secara signifikan ke
pinggiran. Akibatnya timbul pandangan negatif bahwa bidang kajian
agama hanya menghambat kemajuan. Seperti dalam anggapan Freud
yang menyatakan agama dan terutama pendukungnya yang fanatik
bertanggung jawab terhadap pemiskinan pengetahuan karena melarang
anak didik untuk bertanya secara kritis.
Masalah lainnya yang muncul adalah menyangkut metodologi
ilmiah. Sains pada dasarnya hanya mengenal metode observasi atau
eksperimen. Sedangkan agamawan mengembangkan metode lainnya seperti
metode intuitif. Masalah terakhir adalah sulitnya mengintegrasikan
ilmu dan agama terutama indra, intektual dan intuisi sebagai
pengalaman legitimate dan riil dari manusia.
Diterbitkan di: 10 Maret, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    SUMBER PENGETAHUAN INTUISI DAN AGAMA Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.