Beliau adalah seorang ahli fikih,alim,mujtahid,dan simpanan ilmu dan pemilik iman yang tidak pernah pudar.Beliau selalu mengajak
kepada jalan Alloh dalam setiap khutbah,buku-bukunya yang berharga dan banyak, dan di semua sarana informasi,baik yang dibaca,didengar maupun dilihat di seluruh penjuru dunia.Beliau tidak takut kepada siapapun untuk mengatakan kebenaran,hatta sekalipun Kepala Negara. Dalam sebuah khutbah Jum’atnya di Masjid Amru bin Ash,beliau menyerang Undang-Undang hukum keluarga yang disebut dengan “Undang-Undang jihad Saddat” karena tidak sesuai dengan syariat Islam. Serangan tajam itu menyebabkan dia tidak diizinkan lagi berkhutbah di beberapa masjid.Setelah itu dia pergi ke Aljazair dan Makkah (Jami’ah Al-Mulk Abdul Aziz) untuk berdakwah. Dia tidak pernah merasa lelah dan tidak surut untuk selalu berjuang di jalan kebenaran.
Pada masa pemerintahan Abdul Nashir, Syaikh Muhammad Al-Ghazali dikritik oleh seorang karikatur bernama Shalah Jahin di Koran Al-Ahram.Pada hari Jum’at dalam khutbahnya di Masjid Al-Azhar Asy-Syarif,beliau menyerang balik Shalah Jahin.Setelah selesai shalat jum’at,secara spontan jamaah melakukan demonstrasi besar-besaran jepada Al Ahram.Di wakttu yang bersamaan terjadi pula demonstrasi lain dari jamaah masjid yang ada di Kairo.Merasa takut,Shalah Jahin melarikan diri lewat jendela kantornya.Dan hari berikutnya,di halaman pertama,Koran Al Ahram meminta maaf kepad Syaikh Muhammad Al-Ghazali serta mengumumkan tentang penghormatannya yang mendalam,dan menyayangkan apa yang telah ditulis di Koran tersebut.
Syaikh Muhammad Al-Ghazali adalah seorang dai yang cerdas,berperasaan lembut,memiliki keimanan yang mendalam,bersemangat tinggi, ungkapan-ungkapannya jekas,berpengaruh, enak bergaul, bertabiat mulia,yang semua itu bisa dirasakan oleh orang-orang yang berinteraksi dengan beliau. Dia tidak senang membebani orang lain, tidak suka mendikte, dan menyuruh. Dia menyelesaikan dan menyelidiki sendiri semua kesulitannya, menyingkap hakekatnya, dan menemukan bahayanya untuk mengingatkan ummat, agar tidak terjatuh dan terjerumus ke dalam bahaya itu, yang dipimpin oleh setan-setan manusia dan jin, baik di timur maupun barat.
Beliau pernah ditahan di tahanan Ath-Thur pada tahun 1949 pada masa Raja Faruq, laludi penjara di penjara Tharrah pada masa Abdul Nashir tahun 1965. Beliau bekerja di Saudi, memimpin majlis ilmiah di Universitas Amir Abdul Qadir Al-Jazairi Al-Islamiyah di Aljazair selama lima tahun. Jabatan terakhirnya di Mesir adalah sebagai wakil Menteri Perwakafan.
Para pemuda Kebangkitan Islam yang penuh berkah telah banyak mengambil ilmu dari Syaikh Muhammad Al-Ghazali. Dia memiliki murid-murid di Al-Azhar Mesir, Ummul Qura Makkah Al-Mukarammah,Fakultas Syari’ah Qatar,dan Universitas Amir Abdul Qadir jurusan Ilmu-Ilmu Keislaman di Aljazair. Para siswa itu jumlahnya mencapai ribuan di seluruh dunia Islam. Mereka aktif menghadiri pelajaran,khutbah, perkuliahan, seminar-seminar, buku-buku, makalah-makalah, perkumpulan-perkumpulan dan muktamar-muktamarnya.
Telah muncul di antara mereka guru-guru besar dan ulama-ulama hebat yang mengundang perhatian, yang mana sejuta harapan disandarkan pada mereka.Di antara mereka adalah DR.Yusuf Al-Qaradhawi,DR.Ahmad Al-Assal dan sebagainya.
Syaikh Al-Ghazali memiliki lebih dari enam puluh buku. Sedangkan khutbah-khutbahnya di Universitas Al-azhar, Universitas Amru bin Ash, Universitas Mahmud, dan lapangan Abidin,memiliki peran dan pengaruh besar, yang selalu dihadiri oleh ribuan manusia. Sebagian buku-bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,Turki,Persi,Yordan dan Indonesia.
Beliau berkata tentang Imam Hasan Al-Banna, bahwa dia adalah pembaharu abad empat belas Hijriyah.Dia adalah peletak prinsip-prinsip dasar yang mengumpulkan kelompok-kelompok yang berbeda-beda,membangunkan orang yang tidur,mengembalikan umat Islam kepada Kitab Alloh dan Sunnah Nabi, dan meluruskan kembali segala sesuatu yang telah bengkok pada masa lalu.
Tentang mursyid Hasan Al-Hudhaibi, Syaikh berkata,”Mengenai sosoknya, saya berkat bahwa dia adalah orang yang tidak berusaha untuk menjadi pemimpin Ikhwanul Muslimin, tetapi justru Ikhwanul Muslimin yang berusaha menjadikannya pemimpin. Diantara hal yang perlu diketahui manusia adalah bahwa dia selalu memikul apa yang dibebankan kepadanya dengan teguh dan semangat, tidak pernah mengeluh dan berputus asa. Namun dia sudah tua dan berat,tetapi dia tetap memiliki keimanan yang mendalam dan harapan-harapan yang luas. Sesungguhnya kesabarannyalah yang menjadikan dia mengagungkan keimanan, sehingga derajatnya terangkat dalam pandanganku.Kesusahan yang menimpa diri dan keluarganya,tidak menjadikannya gentar untuk mengatakan kebenaran dalam segala perkara dan tidak menjauhkannyadari manhaj Al-Jamaah Al-Islamiyah sejak awal sejarahnya. Saya selalu menemuinya setelah masa ujiannya berlalu untuk memperbaiki hubungan antara saya dan dirinya. Semoga Alloh mengampuni kita semua.
Tentang Ustadz Umar Tilmisani, dia berkata,”Pada tahun 1949,pada saat kami dipenjara Ath_Thur bersama ribuan Ikhwanul Muslimin, setelah Imam Hasan Al-Banna mati syahid, saya melihat Ustadz Umar Tilmisani dalam khalwatnnya yang hening dan pandangannya yang tenang, dia berjalan di atas opasir-pasir tahanan, dalam keadaan giat dan optimis menyuruh para Ikhwanul Muslimin agar bersabar dalam menjalani masa pengasingan dan kekerasan itu dengan senantiasa mengharapkan kebaikan di masa mendatang. Menurutku, dia adalah seorang yang sangat dihormati. Di dunia dia digerakkan oleh rasa cinta dan damai. Dia benci kemunafikan dan akhlak tercela. Dia memilih menyendiri dan tidak berputus asa. Tidak pernah terlintas dalam benaknya ingin dipuji.Saya pernah menemuinya. Dia sendirian dalam mengabdikan dirinya kepada Islam sehingga berkata, “Tahukah kamu bahwa ini adalah beban berat yang harus saya pikul, walaupun saya sebenarnya menerimanya karena terpaksa?” saya jawab, “Ya,saya tahu bahwa kamu tidak mencari nama, tidak meminta jabatan dan orang sepertimu pantas mendapatkan perlindungan dan pertolongan Alloh.”
Imam Syaikh Abdul Halim Mahmud berkata tentangnya,”Kami tidak memiliki siapa-siapa kecuali Al-Ghazali Al-Ahya’ dan Al-Ihya’.”Maksudnya adalah Al-Ghazali modern, yaitu Syaikh Al-Ghazali dan Al-Ghazali Abu Hamid, penulis “Ihya ‘Ulum Ad-Din”.
Syaikh Muhammad Al-Ghazali meninggal di Riyadh pada saat dia sedang berbicara dalam sebuah seminar pada tanggal 9 Maret 1996, dia kemudian dipindahkan ke Madinah untuk dimakamkan di Baqi”.