Buku ini menguraikan, bagaimana setan merampas shalat anda dan strategi apa yang tepat untuk mengusirnya.
Seringkali setan merusak shalat melalui bisikan, lintasan pikiran, dan khayalan yang ditaburkan ke hati. Bahkan, saat berdiri menghadap Allah Swt, kita masih sempat mengingat dan memikirkan urusan-urusan duniawi.
Setan bertekad agar shalat seorang hamba jauh dari sempurna. Ia berusaha membuyarkan konsentrasi dalam shalat dalam berbaga cara. Bisa dikatakan bahwa usaha setan benar-benar berhasil, karena banyak manusia yang berjatuhan dalam menggapai kekhusukan. Begitu banyak keluhan dari orang-orang yang shalat tentang memudarnya rasa khusyuk di hadapan Allah Swt dalam mendirikan shalat karena berbagai bisikan yang merongrong hati dan pikiran kita.
Ada beberapa cara dan langkah untuk mencegah bisikan setan dalam mendirikan shalat. Pertama, mengetahui tipu daya setan dan bentuk-bentuk tipu daya setan seperti menjerumuskan manusia dalam dosa, menanamkan rasa takut dalam hati orang beriman, memanipulasi akal manusia, menjadikan manusia mencintai dunia.
Kedua, Menjauhi setan (muraghamah asy-syaithan). Cara menjauhi setan, memandang kecil ajakannya dan mempersempit ruang geraknya ialah mengerahkan segala upaya untuk menghindar dan menjauhinya. Nabi memiliki prestasi terdepan dalam menjauhi setan. Setelah beluai keluar dari Mekkah untuk berhijrah, beliau kembali lagi ke Mekkah dalam sebuah kelompok terbesar yang pernah dialami para sahabat yakni saat di Arafah. Beliau berkhutbah dihadapan mereka yang dikenal dengan khutbah wada' (khutbah perpisahan). Setan tiada tampak lebih hina-dina dan kecil daripada ketika hari itu (hari Arafah).
Ketiga, Berpaling dari setan. Cara terampuh untuk mencegah bisikan setan adalah dengan berpaling darinya dan tidak menurutinya. Lintasan pikiran itu seperti orang yang lewat, jika Anda tidak memanggilnya ia akan berlalu dan pergi. Dalam shalat tidak boleh ada lintasan pikiran, meski pikiran baik sekalipun. Adapun dorongan pikiran yang menggiring kepada ketaatan dan cinta Allah, maka hal itu bisa diterima.
Buku terjemahan ini dibagi atas enam bab yang intinya terdapat pada bab empat. Bab pertama berisi cara menghadapi bisikan setan; bab kedua, perlindungan Allah adalah perlindungan terkuat; bab ketiga Antara bisikan dan ilham bagi hati; Bab keempat, Mewaspadai bisikan setan; Bab kelima Berlindung kepada Allah; dan bab terakhir Menjaga diri dengan menjaga hati