Konferensi Pro-Hijab yang berlangsung di ibukota Inggris, London, berakhir dengan sebuah petisi dukungan terhadap jilbab.
Seluruh peserta konferensi juga sepakat menetapkan hari solidaritas jilbab internasional, dan rencana aksi untuk tetap membela hak wanita Muslim mempertahankan busana taqwa mereka.
Karena para mahasiswa/pelajar Muslim di seluruh Eropa akan kembali ke sekolah pada saat itu. Para peserta juga bersumpah akan tetap berjuang membela para gadis muda Muslim yang mendapat perlakuan diskriminatif masyarakat barat hanya lantaran jilbab mereka.
Selanjutnya konferensi mencetuskan rencana aksi untuk mengokohkan rekomendasi konferensi pro-hijab London tersebut. Di antaranya dengan menyerukan para kaum terpelajar tentang pentingnya hijab bagi wanita Muslim, melalui seminar-seminar dan publikasi media-media massa.
Organisasi Pro-Hijab, sebagai pihak penyelenggara konferensi, juga telah mendaftarkan agenda mereka di Parlemen Eropa, untuk bisa memberikan presentasi tentang hijab pada 22 September mendatang. Koordinator Pro-Hijab, Abeer Pharaoh, mengungkapkan pada IslamOnline.net (IOL), bahwa seluruh peserta konferensi telah membahas soal larangan hijab, implikasi dan dampaknya terhadap masyarakat Eropa.
Mereka juga bersepakat akan mengorganisir upaya-upaya individu dan organisasi-organisasi di Eropa, serta di seluruh dunia, untuk mempertahankan hak berjilbab bagi wanita Muslim.
Abeer juga menggarisbawahi, bahwa majelis hijab telah menerima dukungan banyak organisasi-organisasi Muslim maupun non-Muslim dari berbagai keyakinan dan komunitas yang berbeda. Dukungan, lanjutnya, juga mengalir dari sejumlah anggota parlemen Inggris dan parlemen Eropa. Kampanye ini bukan hanya untuk wanita Muslim semata.
Konferensi yang dibuka walikota London, Ken Livingstone itu, diikuti 300 delegasi, mewakili 102 organisasi-organisasi Inggris dan internasional. Dia menegaskan, bahwa yang mengambil keuntungan dari larangan berjilbab, hanyalah kelompok ekstrimis kanan dan kaum fasis. Sebelumnya, lanjut Livingstone, target serangan kelompok itu adalah orang-orang hitam (Negro), Yahudi, dan komunis. Ini bukan yang pertama kali Livingstone menjadi tuan rumah Konferensi Hijab, yang telah menjadi isu sentral di Eropa belakangan ini. Februari silam, dia membela dengan gigih hak-hak wanita
Muslim mengenakan jilbab, dengan mengirimkan isyarat baik ke negara-negara Dalam surat itu Livingstone menggarisbawahi, bahwa bentuk diskriminasi apapun terhadap kebebasan beragama Muslim akan berdampak negatif pada mereka. Selama berlangsung konferensi Pro-Hijab, Livingstone bersumpah, bahwa penempatan tenaga kerja di London, tidak akan didasari pada latar belakang etnis maupun agama.Eropa, khususnya Perancis. Livingstone mengirim sepucuk surat pada PM Perancis, Jean Pierre Raffarin.