• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Kajian Keislaman>Belajar Pengabdian dari Pak Tris

.

Belajar Pengabdian dari Pak Tris

oleh : Kelana     

Pengarang : Nur Cholis Huda
Sutrisno Muhdam (Pak Tris) adalah tokoh Muhammadiyah yang dikenal rendah hati, santun, jujur, tekun dan pekerja keras. Ada
yang mengatakan beliau seakan ‘mewarisi’ sifat-sifat luhur dari mertuanya, Pak AR Fakhruddin. Dalam buku ‘ Sutrisno Muhdam, Demokratis dalam Bersikap Tanpa Pamrih dalam Berkarya’, semua komentar rekannya memperkokoh sifat-sifat mulia itu.
“Akhlaknya nyaris tanpa cacat. Saya tidak pernah mendengar tokoh kita ini tidak bersikap jujur”, kata Pak Amien Rais. “Mas Tris benar-benar seorang yang melibatkan seluruh hidupnya untuk Muhammadiyah. Juga memberikan sumbangan besar pada nusa, bangsa dan agama”, kata Akbar Tanjung.
Pak Malik Fadjar mengatakan: “Sebagai seorang rekan dekat dan seumur, saya menaruh rasa hormat sekaligus rasa haru.” Hormat karena Pak Tris punya pengalaman panjang dalam Muhammadiyah yang patut diteladani: terutama soal semangat, kesahajaan dan dedikasi. Haru karena dalam kondisi kesehatan menurun tetap bersemangat mengurus Muhammadiyah. Pak Din Syamsuddin berkomentar bahwa kekuatan Pak Tris adalah pada keaktifan, dedikasi, kearifan serta figur akomodatif yang toleran terhadap pikiran-pikiran orang lain.
Dokter Sugiat, salah seorang pengurus rumah sakit Islam Jakarta, memberi julukan Pak Tris sebagai ‘Dukun’ di Muhammadiyah. Dukun artinya Duduk Tekun, bukan dukun seperti yang kita kenal. Setiap tugas dipundaknya diselesaikan sampai tuntas. Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) menyebut Pak Tris bapak AMM karena selalu memecahkan masalah mereka. Demikian juga IRM yang sering ditolong Pak Tris ketika mengalami kesulitan.
Sutrisno Muhdam lahir 14 Oktober 1938 di Klaten, Jawa Tengah. Aktif di Muhammadiyah mulai dari bawah. Menjadi anggota pimpinan Pemuda Muhammadiyah tingkat cabang sampai akhirnya dua kali menjadi Ketua Umum PP Pemuda Muhamadiyah. Dia juga mendirikan IPM di Muallimin, aktif di IMM dan terakhir menjadi wakil ketua PP Muhammadiyah. Meskipun Pak Tris punya kegiatan di luar seperti pejabat tinggi BKPM, anggota MPR, anggota DPA dan lainnya, beliau termasuk paling rajin datang di kantor PP, bahkan ketika harus datang dengan kursi roda. Lebih aktif dari pada sebagian anggota pimpinan yang sehat. Tangga di kantor PP akhirnya diberi papan agar kursi roda Pak Tris bisa didorong sampai ke lantai empat. Saat itu beliau juga menjadi ketua panitia muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta tahun 2000.
Pak Tris sekalipun memiliki banyak jabatan tetapi tidak pernah menuntut fasilitas untuk dirinya. Bicaranya datar dan seperlunya saja. Semboyan Muhammdiyah ‘sedikit bicara banyak bekerja’ diamalkan. Meskipun demikian ketokohan Pak Tris sangat diperhitungkan. Ketika Pak Harto akan menyatakan lengser, Pak Tris termasuk 10 tokoh yang diundang.
Ada kejadian lucu ketika Gus Dur menjadi presiden. Suatu hari Pak Tris opname di RS Islam. Karena Gus Dur akan menjenguk, maka Pak Tris dipindah ke kamar yang lebih baik (dia ketua yayasan itu, tapi minta kamar sederhana). Pak Tris sebenarnya sudah sembuh, tetapi dilarang pulang sampai Gus Dur datang. Pak Tris patuh demi ukhuwah. Tetapi yang ditunggu tidak kunjung datang. Akhirnya dengan rasa geli Pak Tris minta pulang. Mestinya hanya opname tiga hari, diperpanjang menjadi satu minggu.
Banyak teladan diberikan Pak Tris. Bagi pengurus yang kurang aktif, ingatlah Pak Tris yang tetap aktif meski dengan kursi roda. Yang merasa orang penting lalu suka minta fasilitas dan layanan khusus, ingatlah pada kesederhanaan dan ketulusan Pak Tris. Yang suka ngotot, ingatlah pada sikap toleransi Pak Tris. Yang hanya suka bicara, ingatlah Pak Tris besar karena mengabdi sepenuh hati. Bukan karena banyak bicara.
Ada lagi pesan unik Pak Tris bahwa pengurus yang aktif sering dilihat salahnya. Sedangkan yang tidak aktif tidak pernah bersalah karena tidak melakukan apa-apa. Namun aktif tetap lebih mulia daripada berpangku tangan, tanda kurang amanah.
Diterbitkan di: Agustus 13, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.