Banyak cerita dari kawan-kawan yang pulang
umrah dan haji: ada penggusuran bangunan besar-besaran di sekitar Masjidil Haram
dan
masjid Nabawi. Tetapi saya tidak menyangka bahwa perubahan besar-besaran juga terjadi pada kebebasan membawa alat komunikasi ke dalam masjid. “Sudah sejak 2006 kita boleh membawa HP atau tustel ke dalam masjid,” kata Yasin, mukimin pemandu
umrah.
dan masjid Nabawi. Tetapi saya tidak menyangka bahwa perubahan besar-besaran juga terjadi pada kebebasan membawa alat komunikasi ke dalam masjid. “Sudah sejak 2006 kita boleh membawa HP atau tustel ke dalam masjid,” kata Yasin, mukimin pemandu umrah.
Saya ketinggalan perkembangan karena ke tanah suci terakhir sudah lima tahun lalu. Tustel, HP, apalagi memotret, dulu menjadi larangan keras di dalam Masjidil Haram, atau masjid Nabawi. “musykilah, mamnu’” (bermasalah atau terlarang) kata Askar (aparat keamanan di tanah suci). Tustel akan dirampas, atau kita digiring pihak keamanan dan menjadi masalah panjang. Atau paling untung hasil jepretan kita diambil. Maka dengan pikiran yang ketinggalan perkembangan itu, saya ke masjid pantang membawa HP atau tustel.
Karena itu, pada mulanya saya sangat terganggu dengan kebebasan ini. Kita datang ke Baitullah untuk berdoa dan memohon dengan cara merendahkan diri dan suara perlahan, meresapkan setiap kata ke dalam hati. Tiba-tiba di sisi kita HP berdering, lalu pemiliknya berbicara berteriak-teriak dengan suara keras. Kalau orang Indonesia mungkin suaranya pelan karena tepo selira. Tetapi orang Timur Tengah atau orang Afrika, kalau bicara tidak pernah pelan. Memang gayanya begitu. Antara bicara dan membentak hampir sama. Maka konsentrasi saya seketika buyar. Itu terjadi berkali-kali.
Tentu saya tidak boleh mengeluh terus-menerus. Saya harus berdamai dengan keadaan yang tidak bisa diubah. Kalau di tanah air ketika di masjid dekat jalan raya bisa mengabaikan suara deru mobil dan sepeda motor yang kencang, maka mengabaikan suara orang berteriak juga harus bisa. Diacuhkan saja, tidak direken. Ternyata tidak sulit. Malah saya ikut menikmati keadaan. Besoknya saya bawa tustel dan ambil gambar dekat ka’bah. Jadi betul kata orang bijak bahwa sesuatu itu menjadi masalah yang menggangu atau tidak mengganggu, tergantung cara kita merespon. Kalau direspon dengan keluhan akan jadi kesulitan, kalau dilihat dari sisi positif, akan selalu ada hikmahnya.
Salah satu hikmahnya, suami istri atau rombongan jamaah mudah bertemu setelah selesai shalat. Tidak banyak yang hilang atau saling menunggu atau tersesat seperti dulu. Dengan HP masing-masing bisa menyebutkan posisinya lewat SMS atau bicara langsung.Saya ketinggalan perkembangan karena ke tanah suci terakhir sudah lima tahun lalu. Tustel, HP, apalagi memotret, dulu menjadi larangan keras di dalam Masjidil Haram, atau masjid Nabawi. “musykilah, mamnu’” (bermasalah atau terlarang) kata Askar (aparat keamanan di tanah suci). Tustel akan dirampas, atau kita digiring pihak keamanan dan menjadi masalah panjang. Atau paling untung hasil jepretan kita diambil. Maka dengan pikiran yang ketinggalan perkembangan itu, saya ke masjid pantang membawa HP atau tustel.
Karena itu, pada mulanya saya sangat terganggu dengan kebebasan ini. Kita datang ke Baitullah untuk berdoa dan memohon dengan cara merendahkan diri dan suara perlahan, meresapkan setiap kata ke dalam hati. Tiba-tiba di sisi kita HP berdering, lalu pemiliknya berbicara berteriak-teriak dengan suara keras. Kalau orang Indonesia mungkin suaranya pelan karena tepo selira. Tetapi orang Timur Tengah atau orang Afrika, kalau bicara tidak pernah pelan. Memang gayanya begitu. Antara bicara dan membentak hampir sama. Maka konsentrasi saya seketika buyar. Itu terjadi berkali-kali.
Tentu saya tidak boleh mengeluh terus-menerus. Saya harus berdamai dengan keadaan yang tidak bisa diubah. Kalau di tanah air ketika di masjid dekat jalan raya bisa mengabaikan suara deru mobil dan sepeda motor yang kencang, maka mengabaikan suara orang berteriak juga harus bisa. Diacuhkan saja, tidak direken. Ternyata tidak sulit. Malah saya ikut menikmati keadaan. Besoknya saya bawa tustel dan ambil gambar dekat ka’bah. Jadi betul kata orang bijak bahwa sesuatu itu menjadi masalah yang menggangu atau tidak mengganggu, tergantung cara kita merespon. Kalau direspon dengan keluhan akan jadi kesulitan, kalau dilihat dari sisi positif, akan selalu ada hikmahnya.
Salah satu hikmahnya, suami istri atau rombongan jamaah mudah bertemu setelah selesai shalat. Tidak banyak yang hilang atau saling menunggu atau tersesat seperti dulu. Dengan HP masing-masing bisa menyebutkan posisinya lewat SMS atau bicara langsung.