• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

.

Fee Masjid

oleh : iqbalun     

Pengarang : Nur Cholis Huda
Fee Masjid
Pembangunan fisik untuk keperluan haji dan umrah tiada henti. Pelebaran Sofa dan Marwah, tempat sa’i, sudah
rampung. Tempat lempar jumrah yang selalu menjadi sumber kerawanan dan sering membawa korban jiwa, kini dibuat lima tingkat, belum selesai. Di seberang halaman luas depan rumah tempat lahir Rasulullah (rumah itu kini menjadi perpustakaan) sekitar 250 meter, sedang dibangun 1000 toilet dan tempat wudhu untuk menambah yang sudah ada. Saya tidak tahu apakah akan dibuat bertingkat-tingkat ke bawah tanah atau hanya satu tingkat di bawah tanah seperti toilet yang sudah ada. Di bawah halaman masjid Haram dan Nabawi adalah tempat parkir mobil yang luas.
Setelah banyak hotel di Mekkah dirobohkan dua tahun lalu untuk perluasan halaman masjid, kini ada dua hotel yang menonjol sedang dibangun: Bin Dawud dan Zam-Zam. Keduanya berdampingan dipisahkan jalan. Keduanya dekat masjid, di seberang halaman. Keduanya besar melampaui hotel Hilton yang sudah lebih lama berdiri. Lantai satu dan dua untuk Mall.
Yang menarik, menurut seorang pemandu umrah, hotel Zam-Zam - yang kini baru dioperasikan sampai tingkat 50 - ada kamar yang hasilnya untuk fee (infaq) Masjidil Haram sebesar 25 persen, ada yang 50 persen, bahkan ada yang sampai 100 persen. Yang 100 persen ini sewanya paling mahal. “Sampai sekitar 100 juta sehari,” katanya. Saya lupa dia menyebut rupiah atau real. Ini artinya infaq dengan jumlah tertentu berbonus tidur di hotel mewah.
Tahun 2010, menurut sumber itu berdasarkan maket, Masjidil Haram akan dilingkari bangunan bertingkat tinggi. Mungkin hotel-hotel tempat menginap jamaah haji. Kalau itu betul, maka Ka’bah akan seperti korek api kecil di tengah mangkok besar yang tinggi. Kalau itu terjadi, rasanya akan ada sesuatu yang hilang. Sekarang saya mulai merasakan itu. Dulu dari kejauhan sudah nampak menara masjid menjulang bersinar gagah membuat hati berdebar ketika pertama kali melihatnya.
Kini rasanya tidak selalu mudah melihat menara-menara itu dari jauh karena tertutup gedung. Nanti lebih-lebih lagi. Beberapa tahun lalu Masjidil Haram nampak gagah dan paling menonjol, tetapi nanti mungkin tidak lagi menonjol karena bangunan yang melingkarinya sudah jauh lebih tinggi dan besar. Pemerintah Bali yang melarang membangun hotel melebihi tinggi pohon kelapa adalah keputusan yang bijak. Tapi kebutuhan Bali lain dengan kebutuhan Arab Saudi.
Ah, mungkin saya terlalu sentimentil. Ka’bah akan tetap anggun dan mulia. Jutaan orang datang dengan doa sekaligus sering dengan airmata haru dan bahagia. Doa mereka pada thawaf wada’, selalu meminta agar kali ini bukan kedatangan terakhir. Ka’bah selamanya selalu dirindukan.
Diterbitkan di: Juni 21, 2009

Komentar

Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.