KEHANGATAN CINTA DI JALUR SA’I
Ketika sedang melakukan sa’i, saya terkesan dengan seorang kakek yang mendorong istrinya
di kursi roda melakukan sa’i. Keduanya berusianya lanjut. Dia bukan satu-satunya yang menggunakan kursi roda. Banyak orang lain. Tetapi bagi saya dia terasa beda. Sang kakek mendorong dengan langkah perlahan. Sekali-sekali nenek di kursi roda itu mendongak melihat wajah sang suami. Lalu saling senyum. Sinar kemesraan nampak jelas dalam senyum itu. Kadang berhenti, lalu sang kakek mengambil air zam-zam dari galon yang tersedia di sepanjang tempat sa’i. Dia ambil dua gelas, satu untuk dia dan satu untuk sang istri di kursi roda.
Saya yang sedang sa’i tidak bisa mendekati mereka karena jalur kursi roda beda dengan jalur jalan kaki. Tetapi saya berencana menunggu mereka di Marwa, tempat berakhirnya ritual ini setelah perjalanan ketujuh. Saya ingin berbincang dan menyatakan kekaguman. Saya yakin, kalau mau, kakek itu bisa membayar tenaga untuk mendorong sang istri di kursi roda itu sebagaimana banyak orang lain membayar tenaga untuk itu, tidak harus didorong sendiri. Banyak tenaga yang menawarkan jasa ini. Rekan saya, seorang wakil bupati dari Irian Jaya yang merasa capai memilih naik kursi roda. Tetapi kakek itu memilih bersusah payah mendorong sendiri karena mungkin itulah cara dia mengungkapkan cinta dan kasih sayangnya kepada sang istri yang tak lagi kuat berjalan. Alangkah bahagianya sang istri.
Sayang, ketika selesai sa’i, saya tidak menemukan mereka. Mungkin mereka selesai lebih dahulu karena ketika saya baru mulai mereka mungkin sudah pada perjalanan ketujuh. Bagi saya itu pemandangan indah yang mengesankan. Saya yang kini usia pernikahan memasuki 30 tahun diam-diam berharap nanti pada saatnya, jika sudah setua mereka, saya juga akan merasakan kehangatan cinta seperti mereka. Insya Allah.
Ternyata cinta selalu menyegarkan. Cinta tidak pernah melahirkan keluhan, apalagi pengkhianatan.