Jangan Berhenti Pada Sebuah
Takdir.
Pada masa-masa awal perkebangan pemikiran Islam bahasan mengenai,
“
Takdir” oleh para mutakalimin atau teolog menjadi bahan perdebatan, dapatkah manusia mengubah takdir yang digariskan oleh Tuhan pada dirinya ? Dalam Islam ada dua aliran pada masa itu, yaitu aliran Qodariyah dan aliran Jabariyah. Aliran pertama percaya bahwa, manusia memiliki kuasa mutlak pada dirinya, sedangkan aliran Jabariyah percaya bahwa manusia tidak mampu merubah dirinya karena tergantung sepenuhnya kehendak Tuhan.
Takdir merupakan sesuatu yang komplek, tapi setidaknya kita bisa mengambil pelajaran dari pendapat Umar bin Khattab ra. Ia mendapat kabar bahwa kota yang akan di masuki tentaranya sedang terjangkit sebuah wabah penyakit menular. Beliau beserta tentaranya tak jadi memasuki kota itu. Hal itu bukan menolak takdir, melainkan berpindah dari satu takdir kepada takdir yang lain. Umar mengakui, kehendak bebas manusia untuk membuat pilihan atas persolan riil yang dihadapinya. Namun disisi lain, Umar menganggap pilihan yang dianggap oleh manusia, pada akhirnya, mau tidak mau, tetap berjalan dalam takdir Tuhan juga.
Jika kita hidup dalam kondisi stagnan/mandeg total dalam sebuah karir, biasanya kita menyalahkan takdir, “ Yah mungkin takdirku memang begini.” Mungkin jawaban seperti itulah biasanya bila kita disodori pertanyaan atas ketidak beruntungan kita. Tetapi Umar memberikan kita pilihan cerdas, memilih takdir lain selain yang kini kita jalani.
Pada akhirnya, apabila kita mendapati takdir yang kurang beruntung, atau kurang hoky/kurang membahagiakan. Pindahlah, carilah takdir lain yang lebih membawa kebahagiaan. Karena sesungguhya Tuhan masih menyediakan takdir lain bagi kita. Jadi, jangan berhenti pada sebuah Takdir.