Mengevalusai akitivitas yang kita jalankan selama dalam Fase Setelah Lahir (
fase kehidupan di dunia) merupakan salah
satu cara yang terbaik untuk membuka pintu kecerdasan Spritual, Emotional dan Intellectual. Katena berbagai aktivitas tersebut merupakan refleksi dari karakter dan kepribadian aktornya. Sesungguhnya pembentukan karakter bermula dari pemilihan lahan tempat menyemai bibit (sperma) manusia. Manusia juga ibarat sebatang pohon. Kendati pohon itu berasal dari
bibit unggul, namun jika lahan tempat penyemaian dan tumbuhnya adalah tandus dan kering kerontang, maka pohon tersebut juga tidak akan tumbuh dan berkembang dengan baik, dan kemungkinan juga bisa mati sebelum besar dan berbuah. Namun demikian, jika pohon yang tumbuh di atas lahan tandus tersebut mendapatkan perawatan yang baik dan suplay pupuk yang cukup, maka kemungkinan besar pohon tersebut juga bisa berkembang dengan subur dan menghasilkan buah yang banyak. Demikian juga manusia. Mereka berasal dari bibit super unggul. Jika tumbuh dan berkembang dari orang tua yang shaleh, maka mereka akan tumbuh dan berkembang dengan shaleh pula. Namun demikian, kendati tumbuh dari kedua orang tua yang kurang atau belum shaleh, misalnya, maka masih terbuka peluang untuk menjadi shaleh selama pertumbuhan dan perkembangannya memperoleh perawatan yang shaleh berupa perawatan dan pemberdayaan Spiritual, Emotional dan Intellectual secara benar, konprehensif dan terintegrasi seperti yang dijelaskan pada pembahasan metode SEI Empowerment, dalam Bagian I dan Sepuluh Karakter Mulia yang dilahirkannya seperti yang dijelaskan dalam Bagian II dari buku ini.
Sesungguhnya Allah ciptakan manusi dari bibit super unggul. Bermula dari saripati tanah yang mengandung 92 unsur kimiawi yang sempurna , kemudian diproses menjadi air mani. Setiap air mani yang ditumpahkan ke dalam rahim ibu mengandung sekitar 300 juta sel sperma. Dari 300 juta sel sperma itu, hanya sekitar 1.000 saja yang mencapai sel telur (ovum). Dari 1.000 sel sperma tersebut hanya satu yang Allah pilih untuk berhasil membuahi ovum (telur) ibu. Ini dalah bukti kongkrit bahwa Allah benar-benar concern terhadap bibi tsuper unggul manusia. Namun demikian, jika lahan penyemaian dan tempat tumbuh dan berkembangnya bibit yang super unggul itu, yakni kedua orang tua, kurang subur, atau bahkan tandus, maka lahan tersebut bisa menyebabkan kekerdilan atau kematian karakter dasar positif (Fitrah) yang dimiliki manusia. Yang kami maksudkan dengan kesuburan kedua orang tua di sini ialah kesuburan Spritual, Emotional dan Intellectual mereka yang terefleksi dalam keshalehan prilaku, kebiasan dan kultur yang mereka kembangkan dalam kehidupan di rumah, di tempat kerja, tempat usaha, di jalanan, di masyarakat dan seterusnya.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka
evaluasi terhadap apa yang telah kita lewatkan dan apa yang telah kita kerjakan selama kita melewati Fase Kehidupan Dunia ini, baik sebagai orang tua yang telah Allah pilih menjadi tempat penitipan amanah kesinambungan generasi manusia ataupun sebagai diri sendiri, merupakan hal urgent. Manusia ini pada dasarnya hanya menempati dua posisi dan kedudukan; sebagai orang tua tempat penitipan amanah untuk menjaga eksistensi generasi berikutnya dan atau sebagai diri sendiri. Kedua posisi dan kedudukan tersebut sama-sama memiliki hak, kewajiban dan tanggung jawab yang telah ditetapkan Tuhan Pencipta. Kewajiban dan tanggung jawab sebagai penerima amanah dalam melanjutkan generasi manusia bermula ketika memilih lahan penanaman benih sperma yang akan ditumpahkan (memilih calon istri/suami) berlanjut sampai memperoleh keturunan hingga mereka dewasa. Sedangkan kewajiban dan tanggung jawab sebagai diri sendiri mulai dihitung Tuhan Pencipta setelah memasuki usia ‘akil baligh (remaja yang dewasa) sampai jatah tinggal di dunia ini berakhir.
Untuk mengetahui pelaksanaan hak, kewajiban dan tanggung jawab tersebut sudah maksimal atau belum, maka evaluasi tersebut sangatlah diperlukan. Dalam evaluasi tersebut kita fokuskan pada dua posisi dan kedudukan seperti yang disebutkan di atas. Agar evalusai semasa kita melewati fase kehidupan di dunia dilakukan dengan serius, mendasar, jujur, ikhlas, fokus, dan memiliki efek jangka panjang, mari kita renungkan terlebih dahulu firman Allah, Tuhan Pencipta berikut ini :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (6)
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (Q.S. Attahrim (66) : 6)