Bangun tidur, segala nikmat tak henti kita nikmati, tetapi menyaksikan kehidupan dengan sekian tugas menumpuk,
banyak hal yang membuat kita jadi jengkel. Pagi hari ketika seharusnya pikiran kita jernih dengan rutinitas keduniaan, kita isi pagi yang indah itu dengan apel pagi shalat subuh, tetapi para budak dunia ini langsung melayangkan pikirannya pada suasana kerja yang harus dipersiapkan dengan sangat payah, karyawan yang lamban, segenap beban dan urusan kantor yang ruwet ditambah dengan staff yang tak faham memposisikan dirinya dengan job description yang seharusnya segera merka isi. Maka suasana jengkel ini semakin menjadi-jadi melihat suasana rumah tinggal yang ikut-ikutan semrawut.
Bagaimana sikap kita dalam memandang hidup akan tergantung pada suasana hati kita, jika hati sedang panas karena beban pekerjaan di kantor, maka itu akan berpengaruh juga dengan suasana lainnya. Rumah rasanya seperti neraka, pembantu tiba-tiba tidak becus bekerja, anak jadi menjengkelkan, istri tiba-tiba sangat menyebalkan, rumah juga kelihatan sangat kotor-sumpek.
Benarkah seperti itu? Ternyata tidak. Banyak hal yang membuat kita mempunyai kesan negatif terhadap dunia, itu semua karena beban kita sendiri, kita kurang pandai bersyukur dan tidak mahir dalam mengelola masalah kita sendiri dan akibatnya yang jadi pelampiasan adalah orang-orang di sekitar kita.
Allah Berfirman, “Jika engkau bersyukur, maka akan tambah nikmatmu tetapi jika engkau kufur, ketahuilah bahwa azab Allah sangat besar” (QS. Ibrahim: 14)
Sebelum kita marah-marah dan melampiaskan kesalahan itu pada orang lain, alangkah baiknya kita introspeksi dahulu.
Coba kita tengok ke bawah dan kita lihat, apakah selama ini kita bersyukur dengan segala karunia Allah? Sebelum kita melampiaskan kesalahan-kesalahan pada orang-orang yang tak sepatutnya kita persalahkan, apakah kita pernah berfikir bahwa Allah mengkaruniakan nikmat kepada kita begitu besar?
Pekerjaan tetap, adalah kita berfikir tentang jumlah pengangguran yang tiap tahun kian membludak. Rumah tinggal, adakah kita berpikir tentang para tunawisma alias gelandangan yang tersudut di emperan toko kemudian mereka kedinginan dikala hujan dan kepanasan dikala panas terik? Istri dan anak-anak? Adakah kita masih menyudutkan mereka dengan perkataan kotor yang tak sepantasnya kita ucapkan, padahal anak dan istri kita adalah aset, investasi yang kita tanamkan di akhirat kelak, bahkan bisa mengantarkan kita ke surga jika kita tahu ilmunya. Coba tengok ke bawah, berapa banyak saudara kita yang menginginkan anak tetapi tidak berhasil melakukannya. Mari kita mengoreksi diri kita. Introspeksi.