• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Kajian Keislaman>Memilih Resiko Terkecil Dalam Hidup

.

Memilih Resiko Terkecil Dalam Hidup

oleh : wongbringin    

Pengarang : Withpras - Qonsis edisi 13/Th.II/2008

Mencoba masuk ke masa para sahabat Rasullulloh kemudian membandingkannya dengan masa sekarang, kesannya

sangat jauh sekali dan membuat kita merasa jadi generasi yang seolah tak punya kekuatan lagi untuk unjuk gigi. Kalau dipikir-pikir, konon kita mengaku cinta pada Allah, Rasullulloh, tetapi apa buktinya? Cinta kita hanya sekedar ucapan, tak ada pembuktian.
Allah berfirman dalam surat Al Ankabut ayat 2-3 : “Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan Kami telah beriman sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”
Sebuah keniscayaan kalau seseorang yang beriman cobaan demi cobaan akan datang silih berganti, seperti sebuah badai yang menerpa batu karang, orang yang beriman ketika diberi cobaan akan kukuh jiwanya, semakin kuat, semakin tajam, semakin terasah, karena dari situ jiwanya akan tertempa, cobaan justru membuat jiwanya semakin bertambah dewasa, dan semakin arif dalam menghadapi hidup dengan landasan petunjuk Allah yang disampaikan oleh Rasullulloh SAW.
Allah menunjukkan pada kita semua, adalah sebuah kewajaran dan lazim kalau kita tertarik dengan jenis-jenis perhiasan dunia, istri yang cantik, anak-anak yang lucu-lucu, pekerjaan yang menyibukkan kita atupun mobil mewah, promosi jabatan yang wah, itu adalah kesenangan yang tak mungkin kita hindarkan, akan menjadi aneh kalau kita tak menginginkannya, karena itu berarti menyalahi sunnatullah. Justru disitulah cobaan itu, kita akan menjadi hamba Allah yang lebih sempurna kalau bisa mengentaskan diri dari semua cobaan itu.
Dibandingkan dengan para sahabat, kita ini kalah jauh, kecintaan mereka pada Allah sudah teruji dengan menanggalkan atribut kesenangan duniawi dengan mengorbankan apa-apa yang dicintainya untuk modal dakwah dan jihad, bahkan keberanian mereka tidak ada yang mengalahkan ketika mereka akan membela Rasullullah, juga agama Allah dengan cara mengorbankan nyawanya dalam peperangan demi peperangan melawan serbuan orang-orang kafir.
Begitu jauhnya kita dengan generasi para sahabat, sehingga zaman kita ini juga ikut berubah, kita hidup di zaman materi, yang seluruh hidup kita diarahkan untuk menghamba pada materi, pada uang, kursi jabatan, kendaraan, keluarga, rumah mewah dan sebagainya. Kita sudah terlena sekarang, perjuangan kita tak ada buktinya, bahkan saking parahnya, ketika berdoa yang kita minta juga materi, bahkan kita nggak mau kehilangan semua itu. Separah itukah?


Diterbitkan di: Juni 25, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.