• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Kajian Keislaman>Gerilya NII KW IX di Kampus Semarang (1)

.

Gerilya NII KW IX di Kampus Semarang (1)

oleh : easternwriter     

Pengarang : Muhamad Sulhanudin
Kali pertama saya mendengar pengakuan dari Ema, mahasiswa semester IV
di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Suatu
kali ia diajak seorang
temannya bernama Ratih untuk membeli flash disk di Java Supermall,
salah satu mall terbesar di kota Semarang. Teman Ema itu bilang, ada
pameran komputer di sana. Tanpa curiga, Ema menerima ajakannya.Sesampainya
di Java Supermall Ema diperkenalkan dengan teman Ratih yang secara tak
sengaja bertemu dengan mereka. Beberapa saat mereka terlibat
perbincangan. Tak lama kemudian datang dua orang teman Ratih. Salah
satunya adalah teman lama Ratih di SMA. Salah seorang dari kedua teman
Ratih itu kemudian bilang, hendak memperkenalkan Ratih dan Ema dengan
seorang teman dari Jakarta. Namanya Wawan. Wawan ini telah beberapa
kali mengikuti seminar tentang Islam hingga ke Malaysia. Tak lama
kemudian datanglah orang yang dimaksud."Nah,
mumpung lagi ketemu sama mas Wawan gimana kalau kita ngobrol sebentar.
Soalnya dia banyak pengalaman. Sayangkan kalau kesempatan ini
dilewatkan," kata teman Ratih yang baru saja dikenalkan kepada Ema itu.Mereka
menuju ke restoran siap saji Mc Donald. Di sini Wawan menyampaikan
pengalamannya selama mengikuti seminar tentang islam di beberapa tempat
di tanah air hingga ke luar negeri."Anda muslim? Apa yang anda banggakan dari negara Indonesia ini?" Wawan membuka diskusi.Menurut
Wawan negara Indonesia bukan negara yang ideal bagi umat muslim.
Produk-produk hukum yang ada bukan merupakan hukum Islam. Sebagai
muslim yang taat, maka kita perlu menegakkan syariat Islam.
Satu-satunya yakni dengan membentuk negara Islam. Untuk itu, kita perlu
melakukan jihad menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam.Wawan
memberikan penjelasan dengan penuh semangat. Kata Ema, seperti orang
yang tengah mempresentasikan bisnis MLM. Sesekali ia membuka Al Qur''an
berukuran saku dan membacakan dalil-dalil untuk mendukung
argumentasinya.Dikatakan Wawan jika kita sepakat, maka kita
perlu berjihad. Berjihad secara total, tidak setengah-setengah. Rela
memberikan apa yang kita cintai untuk berjuang di jalan Allah."Sekarang, berapa kemampuan anda untuk bershodaqoh di jalan Alloh," tanya Wawan."Tiga juta," jawab salah seorang."Tujuh juta," jawab lainnya.Kini giliran Ema. Ia masih terdiam. Ia tak membawa uang sebesar itu."Sekarang,
barang apa yang paling anda cintai. Jika anda mengaku sebagai umat
muslim, maka kapanpun harus bersedia menyedekahkan untuk di jalan
Alloh," tanya Wawan lagi."Radio. Salah satu barang milik saya yang saya sukai adalah radio," jawab Ema dengan lugu.Tapi
jawaban Ema itu dimentahkan oleh Wawamn. Menurutnya radio bukan barang
yang layak untuk sedekah, selain barang itu kini tak ada di tangan Ema,
nilai nominal radio relatif rendah. "Yang sekarang anda bawa?" tanya
Wawan lagi.Ema merasa terpojok. Satu-satunya barang yang
dibawanya, yang paling disukainya, tak lain adalah Hand Phone Nokia
N-Gage. Tapi dia berat untuk melepaskannya. Ini handphone satu-satunya."Handphone," jawab Ema, setengah terpaksa."Tapi,
handphone ini bukan milik saya. Ini punya kakak saya. Ia yang
membelinya. Saya harus minta ijin dulu kepada kakak saya," jawabnya
memberi alasan. Sebenarnya ia tak rela jika harus memberikan handphone
itu, entah untuk jihad di jalan tuhan. Maka ia sebisa mungkin mencari
alasan."Tidak, kalau anda mau sodaqoh tak boleh ditunda-tunda.
Harus segera," jawab Wawan. Ia kemudian membacakan dalil yang
menerangkan bahwa Nabi Muhammad bersedekah dengan memberikan harta
miliknya yang sebenarnya sangat disayangi.Maka, dengan berat
hati Ema pun menyerahkan Handphone itu. Salah seorang mengatakan
Handphone itu akan digadaikan. Uangnya nanti akan digunakan untuk
keperluan jihad di jalan Alloh. Beberapa saat kemudian, kurang dari 15
menit, seorang yang menggadaikan handphone itu kembali. Katanya, sudah
beres. Eva mulai curiga, "kok secepat itu," pikirnya."Sekarang,
anda harus segera membersihkan diri. Saya ajak anda untuk hijrah," kata
WawaHijrah kemana? Ke suatu tempat, di sana Ema akan dibersihkan
diri. Hmm...."Tapi saya harus pulang ke kos dulu. Saya belum bawa apa-apa. Saya perlu persiapan," kata Ema.Lagi-lagi
jawaban Ema ditolak. Dikatakan, jika hendak bertaubat maka harus
dilaksanakan dengan segera, tak boleh ditunda-tunda. Anjuran hijrah ini
katanya seperti yang dilakukan oleh Rosulullah saat berhijrah dari
Makkah ke Madinah.Salah seorang bilang kepada Ema jika dirinya
akan diajak pergi ke Jakarta. Dari Java Supermall mereka kemudian
mereka menuju ke stasiun kereta api Poncol. Sore menjelang maghrib
mereka tiba di stasiun. Mereka memesan tiket kereta yang berangkat
pukul 18.00, tapi rupanya tiket yang dimaksud sudah habis dipesan. Jam
keberangkatan selanjutnya sekitar pukul 21.00. Artrinya mereka masih
harus menunggu beberapa jam lagi.Ema merasa ada yang tak beres.
Ia meminjam handphone Ratih untuk menghubungi pacarnya. Selang beberapa
menit kemudian sang pacar menelponnya dengan nada marah-marah setelah
mengetahui Ema hendak pegi ke Jakarta. Tak lama kemudian sang pacar
datang ke stasiun menemui Ema dan memarahinya. Ema diajaknya pulang.
Teman Ema dan orang yang hendak mengajaknya ke Jakarta itu kabur entah
kemana.
Diterbitkan di: Januari 04, 2008

Komentar

Showing 1 out of 1   Tambahkan komentar Anda
  1. 0 Tinjauan 27 Februari 2008
    1

    Lukman Helmi

    Eva

    Yeph, untung pacarnya dateng.. Eva gegabah banget y orangnya??

Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5
Tambahkan komentar Anda

Bookmark & share this post

.