Sesampainya
di Jogja,
mereka langsung menuju ke Fakultas Kehutanan di mana Gonggo
kuliah. Bersama orang tuanya, Evi menuju ke PKM (Pusat Kegiatan
Mahasiwa) di fakultas
itu. Mereka ditemui oleh pengurus BEM. Evi
menyampaikan maksud kedatangannya. Dari pengurus BEM itu diketahui jika
adik Evi ada kemungkinan terlibat gerakan NII (Negara Islam Indonesia).
Menurut pengurus BEM,
sudah ada tiga korban di fakultas itu.Kemudian
mereka menemui bagian akademik, memastikan status Gonggo. Ternyata
memang benar, Gonggo sudah mangkir satu semester. Pihak orang tua
memohon pengertian pihak kampus agar tidak memberikan skorsing kepada
Gonggo. Mereka bahkan sampai menemui pihak rektorat. Mereka
menyampaikan jika Gonggo ada kemungkinan menjadi korban NII. Mereka
mengusulkan
untuk melaporkannya ke pihak kepolisian. Namun usul ini
ditolak oleh UGM. Rektorat kuatir dengan dilaporkannya ke kepolisian
nanti
akan diekspos oleh media, dan nama UGM bisa tercemar. Mereka
memilih orang tua Gonggo bisa menyelesaikan secara kekeluargaan.
Rektorat akan memberikan kesempatan Gonggo untuk kuliah kembali. Status
mangkirnya akan dihitung cuti.Jawaban pihak rektorat UGM yang
memberikan kesempatan kepada Gonggo untuk dapat kuliah kembali memang
cukup bijak. Namun penolakan usulan pihak orang tua Gonggo yang ingin
melaporkan NII ke kepolisian, jelas sangat egois. Bagaimana tidak, yang
dipikirkan adalah nama baik, bukan nasib sivitas akademiknya!Setelah
itu, mereka segera mencari Gonggo dan akhirnya bisa bertemu. Mereka
bertemu di kantin kampus. Kepada bapak dan ibunya Gonggo membantah
dirinya tidak terlibat dengan NII. Padahal sang bapak mengancam akan
melaporkannya ke kepolisian. Tapi dijawab dengan enteng oleh Gonggo.
"Kalau nggak percaya, ya sudah!"Evi mencoba berbicara empat-mata dengan
adiknya. Tapi ia mendapati jawaban yang sungguh sangat tidak
dia perkirakan sebelumnya."Aku
nggak habis pikir dia tega banget melakukan itu semua. Aku sudah
mati-matian cari hutangan, kuliah kutinggal untuk menutup hutang, itu
semuanya demi dia, kok dia membalasnya seperti itu. Ternyata selama ini
dia bohong..." tutur Evi kepada saya belum lama ini di kompleks PKM
Fakultas Sastra Undip.Evi adalah mahasiswa D III Inggris angkatan 2003.
Saat ini berarti dia sudah semesterke-10.
Padahal batas waktu maksimal untuk mahasiswa D III adalah 10 semester.
Beruntung dia masih punya sisa satu semester karena sebelumnya dia
pernah cuti kuliah."Aku sudah capek mengurusi adiku. Saat ini
aku harus menyelesaikan kuliah sambil bekerja untuk membayar hutang,"
ucapnya. Tampak senyum kecut di wajahnya yang dibalut jilbab.Apakah
orang tua Evi mengetahui apa saja yang sudah dilakukan untuk sang
adik?"Aku sengaja tak memberitahu orang tua. Nanti mereka bisa syok,"
jawabnya.Ya,
mereka akan syok bahwa ternyata Gonggo sudah melakukan sejauh itu.
Bukan malah membela Evi yang kini kesusahan, mereka malah bisa
menyalahkannya karena meminjami uang untuk adiknya. Dan yang parah, si
bapak akan kembali mengungkit-ungkit masalah lama. Si bapak ini rupanya
punya dendam dengan Islam. Ia ingin sekali anak-anaknya memeluk
kepercayaan yang dia anut, kepercayaan "kejawen".Hari sudah
sore. Di ruangan tempat kami ngobrol cukup panas. Sepertinya Evi mulai
kelelahan setelah bercerita beberapa jam lamanya. Sesekali ia menyeka
butiran-butiran keringat yang bercucuran di wajahnya. Sepertinya ia
benar-benar lelah, lelah memikirkan jalan keluar untuk mengatasi
masalah yang menimpa adiknya. Saya meminjami sebuah buku berjudul
"Tuhan, Izinkan Aku Menjadi pelacur!" karya Muhidin M Dahlan, sebuah
novel yang mengisahkan pengakuan salah seorang muslimah yang menjadi
korban NII.Hari sudah sore. Di ruangan tempat kami ngobrol
cukup panas. Sepertinya Evi mulai kelelahan setelah bercerita beberapa
jam lamanya. Sesekali ia menyeka butiran-butiran keringat yang
bercucuran di wajahnya. Sepertinya ia benar-benar lelah, lelah
memikirkan jalan keluar untuk mengatasi masalah yang menimpa adiknya.
Saya meminjami sebuah buku berjudul "Tuhan, Izinkan Aku Menjadi
pelacur!" karya Muhidin M Dahlan, sebuah novel yang mengisahkan pengakuan salah seorang muslimah yang menjadi korban NII.
Saya juga menjanjikan akan memberinya beberapa berita yang saya
kliping. Saya kira dia perlu banyak informasi tentang NII. Besok, pada
jam yang sama, kami akan bertemu lagi.
Ringkasan lain tentang Pengakuan Korban NII (2)