Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Berbahasa Secara Santun

oleh: titiksidji     Pengarang: Prof. Dr. Pranowo; M.Pd.
ª
 
Buku ini secara khusus berbicara mengenai kesantunan dalam berbahasa. Pada bagian awal, penulis menjelaskan tentang pentingnya berbahasa secara santun. Berbahasa secara langsung dianggap penting karena setiap manusia tentunya ingin hidup dengan sejahtera. Hal ini dapat dicapai salah satunya dengan bersikap santun terhadap orang lain sehingga menciptakan suasana Nyaman bagi orang lain dan orang lain tentu juga akan bersikap serupa. Bersikap secara santun dapat diwujudkan dalam cara berbahasa.
Kesantunan berbahasa tentunya tidak memandang bahasa itu dari segi baik dan buruk. Semua bahasa itu pada hakikatnya baik, hanya terkadang cara pemiliknya dalam menggunakan bahasa itu yang kurang tepat sehingga terasa kurang santun. Hal ini menyangkut adanya kebiasaan dalam berbahasa. Bila dalam kehidupan sehari-hari seseorang berbahasa dengan kurang santun maka dapat dipastikan ia telah membentuk pola tidak santun dalam berbahasa.Terkadang berbahasa secara santun dianggap sebagai suatu hal yang sulit. Kesulitan ini muncul salah satunya dikarena penutur kurang memahami konteks dan dengan siapa ia bertutur.
Tiga strategi yang diutarakan penulis agar dapat berkomunikasi secara santun, yaitu ; apa yang dikomunikasikan atau pokok pembicaraan. Pokok pembicaraan hendaknya jelas dan berkembang. Hal ini disebabkan karena pokok sebuah pembicaraan terkadang membentuk citra diri seseorang. Kedua adalah cara mengkomunikasikannya. dalam hal ini, penulis menggunakan metafora rumah joglo dengan tiga lantainya : dhupak bujang, semu mantri, dan esem bupati. Dhupak bujang merupakan lantai pertama yang kedudukannya sedikit lebih tinggi dari halaman. Biasannya yang duduk di lantai ini adalah masyarakat biasa. Hal ini mengandaikan bila berkomunikasi dengan masyarakat pada tingkat ini perlu adanya tuturan yang jelas dan tidak ditutup-tutupi supaya dimengerti.
Lantai kedua adalah semu mantra. Lantai ini kedudukannya lebih tinggi dari lantai sebelumnya, dhupak bujang. Lantai ini diperuntukkan orang-orang yang telah mengenal ketatasusilaan. Hal ini digambarkan orang-orang golongan setaraf mantra atau pejabat di bawah bupati. Di sini diandaikan mereka sudah dapat berkomunikasi dengan memahami bentuk-bentuk tuturan tidak langsung dalam bahasa verbal. Lantai ketiga adalah esem bupati. Lantai ini diperuntukkan mereka yang memiliki golongan setingkat bupati. Golongan ini dianggap telah dewasa dan memiliki pemahaman lambang-lambang bahasa non-verbal dalam berkomunikasi. Hal ini diasumsikan bahwa golongan ini mampu berkomunikasi dengan sesedikit mungkin bahasa verbal dan dimengerti oleh orang-orang yang setingkat golongan ini. Cara berkomunikasi tentu perlu memperhatikan hal ini, kepada siapa kiranya seseorang itu bertutur.
Strategi ketiga adalah mengapa pokok masalah harus dikomunikasikan. Pada strategi ketiga ini, seseorang benar-benar diuji kejujuran terhadap nuraninya. Banyak orang pandai berkomunikasi tetapi apa yang dikomunikasikan belum tentu sesuai dengan apa yang ia rasakan atau berbeda dengan hati nuraninya. Seseorang diharapkan mampu berkomunikasi dengan mengolah perasaannya sehingga apa yang dikatakannya tepat bagi dirinya dan tidak menyinggung orang lain dan hal ini diperlukan pengolahan rasa yang mendalam.
Buku ini juga memaparkan tentang gejala penutur yang berbicara secara santun dapat dilihat dari enam hal, yaitu berbicara secara wajar dengan menggunakan akal sehat, mengedepankan pokok masalah yang diungkapkan, selalu berprasangka baik kepada mitra tutur, penutur selalu bersikap terbuka dan menyampaikan kritik secara umum, menggunakan bentuk lugas atau bentuk pembelaan diri secara lugas sambil menyindir, dan mampu membedakan situasi bercanda dengan situasi serius. tidak hanya itu, gejala penutur yang bertutur secara tidak santun dapat dilihat dari lima hal, yaitu menyampaikan kritik secara langsung dengan menggunakan kata atau frasa kasar, didorong rasa emosi ketika bertutur, protektif terhadap pendapatnya, sengaja ingin memojokkan mitra tutur dalam bertutur, dan menyampaikan tuduhan atas dasar kecurigaan terhadap mitra tutur.
Faktor penentu kesantunan sendiri dibagi menjadi dua, yaitu aspek kebahasaan dan aspek non-kebahasaan. Aspek kebahasaan meliputi intonasi, nada, pilihan kata, gaya bahasa, ungkapan, panjang pendek struktur kalimat, gerak tubuh, dan sebagainya. Sedangkan aspek non-kebahasaan meliputi pranata sosial budaya masyarakat, pranata adat, dan sebagainya. Namun, komunikasi terkadang juga tidak mencapai tujuannya. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu : mitra tutur tidak memiliki informasi lama sebagai dasar memahami informasi baru yang disampaikan penutur, mitra tutur tidak tertarik dengan isi informasi yang disampaikan penutur, mitra tutur tidak berkenan dengan cara menyampaikan informasi si penutur, apa yang diinginkan memang tidak ada atau tidak dimiliki oleh mitra tutur, mitra tutur tidak memahami yang dimaksud oleh penutur, dan dalam menjawab pertanyaan, mitra tutur justru melanggar kode etik.

Diterbitkan di: 28 Juni, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    kesantunan yang positif adalah kesantunan yang obyektif bukan subyektif maksudnya pa y? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    tiga hal yang tidakboleh dilakukan pewawancara saat mewawancarai narasumber? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mengapa pewawancara menggunakan kalimat yang santun saat bertanya? ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    supaya mendapatkan hasil dari tuannya berwawancara tentunya. 14 Nopember 2013
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa tujuan kita menggunakan kalimat sopan pada mitra bicara ( 2 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    like this 14 Nopember 2013
  1. Jawaban  :    Penggunaan kalimat santun terhadap mitra bicara tentu memiliki tujuan. salah satunya adalah menjaga perasaan mitra bicara. selain itu juga akan menciptakan suasana nyaman dalam sebuah kegiatan komunikasi. 05 Januari 2012
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.