• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

.

Memandang dengan Empati

oleh : clenoro    

Pengarang : Clenoro
Para psikiater dan psikolog pasti pernah
merasakan betapa sulinya berkomunikasi dengan insan autistik.
Istilah
autistik adalah kata sifat. Kata bendanya adalah autisme ,
yang berarti miskin kontak sosial. Insan autistik itu seolah hanya
hidup dalam alam pribadinya sendiri, yang nyaris terpisah total dari
dunia masyarakat pada umumnya.

Padahal,
para psikiater dalam psikolog amat memerlukan komunikasi yang lancar
dan efektif dengan setiap kliennya demi pemahaman yang menyeluruh
tentang diri klien dan problemnya. Pemahaman itu sangat penting karena,
dengan landangan pemahaman tersebut, psikiater dan psikolog memberikan
bantuan dan usulan untuk klien mereka.


Ada
satu pertanda yang gampang dikenali dan dirasakah keberadaannya apda
insan autistik, yakni tatapan mata yang miskin empati. Cara memandang
atau menatap orang lain yang dilakukan insan autistik punya ciri khas.
Dingin sama sekali tidak hangat, terasa asing, dan jauh. Tatapan
matanya tak bersahabat, tidak mencerminkan keinginan berkomunikasi yang
hangat, dan tidak membersitkan human understanding (pengertian
manusiawi). Oleh karena itu, obyek atau orang yang dipandang oleh insan
autistik akan merasakan betapa dirinya tidak cukup diperhitungkan.
Seolah memang insan autistik tidak pernah memberikan perhatian pada
orang lain.


Jadi,insan
autistik yang punya cara menatap atau melihat orang lain secara khas
seperti disebut di atas, tampil seolah sebagai manusia yang meremehkan
dan tak membutuhkan orang lain. Orang yang tidak tahu, sering kali
menganggap insan autistik sebagai ”orang yang sombong”, “manusia
angkuh”, bahkan ada pulayang mengira “insan taktahu diri dan tak sopan”.


Pada
titik ini dapat ditangkap satu kristal penting dalam hubungan antar
manusia. Kristal penting ini berpusat pada cara manusia menatap atau
memandang orang lain. Cara menatap orang lain bisa sangat menentukan
kualitas relasi antar manusia. Itu sangat menentukan kesan, sejauh mana
seseorang memiliki daya empati, yaitu kemampuan memahamiperasaan,
pikiran, kemauan, sikap, dan tindakan orang lain. Orang yang memandang
orang lain dengan tatapan mata empatetik, akan membuat orang yang
dipandang merasa “diorangkan”, dihargai, dan diperlakukan sebagai orang
penting, setidaknya merasa tidak diremehkan.


Pada
dasarnya setiap insan sangat mendambakan perlakuan seperti itu. Setiap
insan adalah makhluk yang memiliki kebutuhan psikis penting yang
disebut need of acceptance dan need of understanding .
Setiap insan membutuhkan perasaan diterima dan dimengerti orang lain.
Ketika kedua kebutuhan tersebut dihayati manusia, niscaya dia akan
merasa ditempatkan pada posisi kemanusiaan yang optimal. Pada posisi
itu dia akan memakarkan potensi-potensi kreatif yang dimilikinya secara
optimal pula. Di sinilah letak kekuatan tatapan mata empatetik.


Tatapan
mata empatetik adalah cara memandang yang tidak egosentris. Tatapan
mata tersebut meruyak dari kesadaran manusia yang penuh oleh keinginan
memahami dan menerima orang lain dengan kehangatan wajar. Justru
manusia dengan tatapan mata empatetik ini, akan menuai banyak kebaikan
dan “keuntungan” sejati dari orang lain. Orang yang dipandang dengan
tatapan mata empatetik cenderung akan meluapkan segenap potensi kreatif
yang ada pada dirinya. Luapan potensi kreatif ini pada gilirannya akan
memandang dengan tatapan mata empatetik itu.


Seorang
pemimpin, direktur, atau komandan yang memandang anak buahnya dengan
tatapan empatetik, sungguh menempatkan anak buahnya pada posisi
kemanusiaan optimal. Dengandemikian si anak buah akan mampu menumbuh
kembangkan dan meluapkan segenap potensi kreatif yang ada dalam
khazanah jiwanya secara optimal. Dia tidak akan sekadar bekerja karena
perintah yang digariskan oleh pemimpinnya. Dia tidak semata berkarya
sesuai dengan batasan pekerjaan yang terangkum dalam job description .
Lebih dari semua itu, dia akan bekerja dan berkarya secara kreatif,
dengan hasil berlipat ganda, tidak sekadar terbatas pada hasilyang
ditargetkan.


Tatapan
mata empatetik merupakan satu kristal penting dalam relasi antar
manusia yang positif. Pada dasarnya setiap insan yang ingin membina
relasi dengan orang lain, niscaya belajar memandang sesamanya dengan
tatapan empatetik. Tatapan mata empatetik bukanlah tatapan munafik yang
memancar karena daya kehendak memperalat orang lain. Tetapi tatapan
mata yangmemancar dari pikiran sehat yang dimuati kesadaran tentang
betapa pentingnya memperhatikan orang lain. Ini terpancar dari nurani
bening yang bisa merasakan betapa setiap insan pada dasarnya adalah
makhluk yang butuh diterima dan dimengerti oleh orang lain.

Sudahkah Anda berupaya memandang setiap insan yang berelasi dengan Anda dengan
tatapan mata empatetik? Ataukah Anda cenderung memandang orang lain
seolah sebagai semacam instrumen yang harus bekerja mendatangkan
keuntungan berlimpah buat Anda sendiri? Sadarkah Anda, cara memandang
seperti itu justru tidak menguntungkan kebaikan dan keuntungan sejati
buat Anda? Sadarkah Anda, hanya cara memandang penuh empatilah yang
akan memicu semangat kerja dan kary kreatif yang membuahkan hasil
berlipat ganda?


Penumbuhkembangkan
tatapan mata empatetik bisa dimulai dari kesudian memangdang setiap
orang yang baru berkenalan dengan Anda, dengan penuh perhatian
kemanusiaan yang hangat. Pandanglah setiap insan, sejak saat pertama
kali Anda berkenalan sebagai manusia yang akan berprestasi optimal dan
meluapkan kebaikan-kebaikan, kalau need of acceptance dan need of understanding -nya terpenuhi.

Diterbitkan di: Juni 05, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca:

.