Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Sejarah>Biografi Ki Hajar Dewantara Lengkap

Biografi Ki Hajar Dewantara Lengkap

oleh: 3handoyo     Pengarang : JB Soedarmanta
ª
 
Ki Hajar Dewantara atau dalam ejaan Jawa Ki Hajar Dewantoro adalah tokoh pendidikan
Indonesia. Ia percaya bahwa untuk memerdekakan orang Indonesia
secara nyata, maka jalur pendidikanlah jalannya. Ia telah menginspirasi
banyak orang, salah satunya Ki Suratman ketua perguruan Taman siswa..
Dikisahkan suatu hari Ki Suratman tidak masuk sekolah karena ayahnya sakit,
sebelum mengawali pelajarannya, Ki Hajar Dewantara bertanya dalam bahasa Jawa: "Piye
gerahe Bapak?* (Bagaimana kcsehatan Bapak?). Sapaan yang
sederhana itu sangat mengesankan sang murid yang hingga kini
tidak dapat melepaskan hidupnya dari Taman Siswa (TS). Hubungan dengan guru itu juga
menumbuhkan motivasinya untuk menjadi guru hingga kini.

Biografi atau Riwayat Hidup Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara adalah putera Pangeran Sasraningrat dan cucu
Paku Alam III. Sejak kecil di Pura Pakualaman, dia telah merasakan
kekuasaan Bclanda yang menjajah lewar campur cangan mereka
dalam pergantian tahta di istana itu. Hal itu diperkuat tatkala Ki
hajar yang dilahirkan pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta itu,
setelah ia menamatican ELS (Europesse Lager School, Sekolah Dasar
Belanda) dan belajar di STOVIA (School tot Opkuling van InLmdsche
Aartsen, Sekolah Dokter Pribumi) pada tahun 1903-1909. di sekolah
dokter ini, ia mulai mengenal politik, bukan saja lewat pergaulannya
dengan banyak pelajar dari berbagai daerah, melainkan keadaan
intern di asrama STOVIA yang tidak memuaskan para pelajar.
Peraturan asrama di sekolah itu sangat diskriminatif seperti tara cara
berpakaian siswa pribumi tidak boleh sama dengan siswa keturunan
Belanda. Hari Raya Idul Fitri juga tidak boleh dirayakan oleh para
pelajar. Tidak menghcrankan bahwa justru di dalam ruangan gedung
STOVIA itu lahir untuk pertama kalinya kesadaran nasional.

Pada tahun 1909 Suwardi terpaksa keluar dari sekolah itu karena
biaya untuk meneruskan pelajaran tidak mencukupi lagi. Ia
bekerja sebagai analis pada pabrik gula di Bojong, Purbalingga,
kemudian kembali ke Yogyakarta dan bekerja di Apotik
Rathkamp. Dari lingkungan itu, Suwardi mulai tertarik kepada
dunia kewartawanan. Ia menjadi pembanru surat kabar
Sedyatama, Midden Java, De Express dan Oetoesan Hindia. Dua
surat kabar yang terakhir itu di bawah pimpinan E.F.E. Douwes
Dekker dan H.O.S. Tjokroaminoto.

Perkenalan dengan Douwes Dekker itu membawanya pindah
ke Bandung hingga mendirikan Indische Partij (Partai Hindia),
partai politik yang pertama yang memperjuangkan kemerdekaan
Hindia. Keikutsertaannya dalam partai itu menghantarkannya
kc tempat pcmbuangan. Suwardi dengan sengaja memilih
dibuang ke negeri Belanda agar dapat mempelajari situasi
pendidikan di negeri itu.

Di negeri Belanda, pahlawan dari Istana Pakualam itu menuntut
ilmu hingga memperoleh ijazah Middleware Acte yang memberinya
wewenang untuk mengajar di sekolah dasar. Di samping itu,
disadarinya bahwa pendidikan Belanda yang dinilai sebagai
pendidikan "kolonial" di Indonesia itu sangat sesuai untuk anak-anak
Belanda. Oleh karena itu, ia berkesimpulan bahwa pendidikan
yang sesuai untuk Indonesia adalah pendidikan nasional, bukan
pendidikan kolonial. Pendidikan yang bercorak Barat harus
diselaraskan dengan keadaan alam dan budaya Indonesia.

MendirikanTaman Siswa
Sekembalinya ke tanah air, Suwardi bergabung dengan kakaknya
Suryopranoto yang membuka Sekolah Adhi Dharma yang
menggunakan metode Montessori-Tagore. Hakikat membuka
pendidikan itu adalah hendak melepaskan ikatan-ikatan yang
sangat menyempitkan budi manusia serta menurunkan derajat
kemanusiaan supaya manusia dapat hidup merdeka lahir dan
batin. Dengan mengajar di sekolah milik kakaknya itu Suwardi
ridak merasa bebas mengekspresikan ide-idenya. Untuk dapat
lebih bebas menjalankan pemikiran dan gagasannya dalam
pendidikan ia mendirikan Taman Siswa. Ia mengubah namanya
menjadi Ki Hajar Dewantara.

Prinsip yang mendasari pendidikan adalah sistem among.
Seorang pendidik, entah itu orang tua atau guru, dan pemimpin
tidak boleh bersikap tut wuri (permisif, keserbabolehan) atau
handayani (otoriter), tetapi harus bersikap tut wuri handayani
(otoritarian, dibelakang memberi dorongan). Murid dibina agar
mampu "berjalan sendiri", menjadi manusia merdeka yang dapat
mengambil keputusan bebas {value judgement). Menurut Ki
Hajar, pendidikan Barac terlalu incelekcualiscik dan materialistik.
Cara pendidikan itu tidak menjawab kebucuhan bangsanya.
Kebijaksanaan {wisdom)^ seni, dan ilmu pengetahuan yang
terbukti lcbih unggul, ditcrima untuk memperkaya kcbudayaan
nasional. Dengan demikian, perkembangan kcbudayaan yang
sudah berlangsung berabad-abad tidak musnah dengan
kedatangan bangsa Eropa, tetapi menemukan coraknya yang
baru. Unsur-unsur "Barat" itu harus diselaraskan dengan nilai,
adat-istiadat, dan kehidupan bangsa. Prinsip harmoni merupakan
prinsip dasar untuk "mencerna" pengaruh dari luar.

Pendidikan dan Perjuangan

Ki Hajar Dewantara sangat menjunjung tinggi kemandirian
lembaa pendidikan yang diselenggarakannya. Sikap itu tentu
mendapat banyak hambatan dari pemerintah kolonial. Pada
tanggal 13 Juni 1932, Direktu Pengajaran Pemerintah Hindia
Belanda B.J.O. Schrieke menyusun rencana penertiban sekolahsekolah
swasta yang tidak bersubsidi, seperti Taman Siswa.
Usaha ini sangat didukung oleh Kiewet de Jonge, Gubernur
Jendral pada waktu itu. Schrieke menamakan sekolah-sekolah
swasta yang tidak bersubsidi sebagai "Sekolah Liar". Oleh karena
itu peraturan atau ordonasi dinamakan Wildescholen Ordonantie
(Ordonansi Sekolah "Liar" = sekolah yang tidak disubsidi oleh
Pemerintah). Tujuannya, agar pemerintah kolonial dapat
mengendalikan sekolah-sekolah itu seperti memberi izin kepada
guru, membangun sekolah di lain daerah, dan mengontrol bahan
pengajarannya. Bila peraturan itu diberlakukan maka tiada tempat
bagi sekolah maupun guru-guru "nasionalis" seperti yang ada di
Taman Siswa. Ki Hajar tidak mau berkompromi dan menghadap
Gubernur Jendral. Bila rencana pcraturan itu tidak dicabut ia
akan melakukan "perlawanan diam" (Leidelijk verzet). Rencana
ordonansi itu akhirnya batal.

Hambatan yang dihadapi Ki Hajar tetap berlangsung hingga
zaman Jepang. Sebanyak tiga ribu siswa Taman Dewasa (sejajar
dengan SMP) dibubarkan oleh peerintah Dai Nippon. Dengan
usaha keras Ki Hajar, Taman Siswa akhirnya diperbolehkan
membuka sekolah kejuruan, yaitu Taman Tani dan Taman Rini
(pendidikan kerumahtanggaan). Namun demikian, kegiatan Ki
Hajar Dewantara dalam dunia politik tetap berjalan. Pada tahun
1943, Ki Hajar yang ikut membentuk Pusat Tenaga Rakyat
(Putera) menjadi salah seorang pemimpinnya di samping Ir.
Soekarno, Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur.
Pada masa kemerdekaan, Pendiri Taman Siswa ini pernah
diserahi tanggung jawab menjabat sebagai Menteri Pendidikan,
Pengajaran, dan Kebudayaan. Ia tetap aktif di medan bakti
pendirian generasi muda hingga tutup usia dengan tenang pada
tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta.

Demikian Biografi Ki Hajar Dewantara

Sumber:
JEJAK - JEJAK PAHLAWAN
Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia, J.B. Soedarmanta, Grasindo,
Jakarta, 1992. Edisi Revisi I 1999, Edisi Revisi II 2007
Diterbitkan di: 28 Januari, 2013   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.