Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Hamzah Fansury

oleh: Stargoldman    
ª
 
Hamzah Fansury dikenal sebagai seorang tokoh tasawuf dari Aceh. Tidak banyak catatan sejarah yang mengungkap jati diri Hamzah Fansury. Catatan sejarah hanya menyebutkan tempat lahirnya di Sumatra Utara. Ia hidup antara akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17 M. Tokoh sufi ini membawa paham Wahdatul Wujud, yang dibangun oleh Ibnu Arabi. Keluarganya diketahui telah lama dan turun-temurun tinggal di Fansur (Barus), sebuah kota pantai di Sumatera.

Sebelum bermukim di Aceh, ia banyak melakukan pengembaraan ke berbagai wilayah. Dalam pengembaraannya dia singgah di Kudus, Banten, Johor (Malaysia), India, Persia, Siam, Mekah, Madinah, dan Irak. Pengembaraannya itu bertujuan mencapai makrifat kepada Allah swt. Sekembalinya dari pengembaraan, ia tinggal di Barus, lalu pindah ke Banda Aceh.

Karya-karya Hamzah Fansury dapat dikatakan sebagai peletak dasar peranan bahasa Melayu sebagai bahasa keempat di dunia Islam, setelah bahasa Arab, Persi, dan Turki. Diperkirakan ia telah mulai menulis pada masa Kesultanan Aceh, tepatnya pada masa Sultan Alauddin Ri'ayat Syah Sayid al-Mukammal (1589-1604). Sultan Iskandar Muda memiliki peran yang sangat besar dalam memopulerkan karya-karya Hamzah Fansury. Berbagai daerah yang dikirimi kitab karya Hamzah antara lain Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Gresik, Kudus, Makassar, Ternate, Malaka, dan Kedah.

Karya-karya Hamzah Fansury merupakan sarana memopulerkan pemikiran Wahdatul Wujud. Pemikirannya tentang kesatuan Tuhan dan mahluk ini mendapat tantangan keras dari Nuruddin ar-Raniri. Hamzah dianggap telah menyebarkan ajaran Panteisme. Memang dalam karyanya, Hamzah Fansury sering mengangkat aspek tasybih (keserupaan/ kemiripan) antara Tuhan dengan alam ciptaan-Nya. Namun dalam karyanya jugs, ia tidak lupa menampilkan aspek tanzih (perbedaan) antara Tuhan dan makhluk.

Berikut merupakan beberapa karyanya.

- Beberapa karya syair: Syair Burung Pingai (melambangkan jiwa manusia dan Tuhan), Syair Burung Punguk, Syair Perahu (mengibaratkan tubuh manusia sebagai perahu yang berlayar di lautan, yang penuh dengan bahaya), Syair Dagang (syair bersifat mistis, melambangkan hubungan Tuhan dengan manusia).

- Karya-karya prosa: Asrar al-'Arifn fi Bayan 'llm al-Suluk wa al-Tauhid (berisi pandangannya tentang makrifat Allah swt., sifat-sifat, dan asma-Nya), Syarab al-'Asyiqin (Minuman Orang-orang yang Cinta kepada Tuhan) atau sering disebut juga Asrar al-'Asyiqin (Rahasia-rahasia Orang yang Mencintai Tuhan) berisi tentang perbuatan syariat, tarekat, hakikat, makrifat, zat dan sifat Allah swt. Karya lainnya berupa kumpulan puisi terdapat dalam kitab Ruba'i, yang kemudian disyarah (diulas) oleh muridnya, Syamsuddin as-Sumatrani.


Sumber : Tim Penyusun. 2008. Menjelajahi Peradaban Islam. Editor : M. Anwar Basit, Nuruddin. Yogyakarta : Pustaka Insan Madani

Diterbitkan di: 24 April, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.