Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Sejarah>Raden Ngabehi Ronggowarsito

Raden Ngabehi Ronggowarsito

oleh: Stargoldman    
ª
 
Raden Ngabehi Ronggowarsito, 14 Maret 1802-24 Desember 1873, ahli kesusastraan Jawa, pujangga kraton Surakarta. Keturunan keluarga sastrawan, dilahirkan di Surakarta, cucu pujangga Raden Ngabehi Yasadipura II (Raden Tumenggung Sastranagara). Dalam masa mudanya banyak mengembara mencari ilmu di perguruan-perguruan agama, di antaranya memasuki pondok pesantren di Ponorogo, Madiun. Ronggowarsito hidup di zaman Sri Mangkunegara IV, sastrawan penyair terkenal yang banyak memberikan pengaruh. Pada waktu itu ada beberapa pegawai bahasa (taalambtenaar; pegawai pemerintah jajahan) di Surakarta, di antaranya J.F.C. Gericke, C.F. Winter, Dr. Palmer van den Broek. Mereka ini banyak berguru kepada Ronggowarsito tentang bahasa dan kesusastraan Jawa, sebaliknya Ronggowarsito banyak juga mendapat pengetahuan yang luas tentang kesusatraan Barat.

Pada zaman itulah pengaruh Barat mulai terasa dalam perkembangan kesusastraan Jawa. Menurut pandangan masyarakat waktu itu, yang disebut kesusastraan ialah karya-karya yang berbentuk puisi atau Tembang yang erat sekali hubungannya dengan seni suara gamelan (boleh dikatakan, kesusastraan Jawa tidak dapat dipisahkan dengan seni gamelan). Ronggowarsito mendobrak keadaan ini; ia mulai mengarang dalam bentuk prosa, karena kesusastraan ialah segala karya kesusastraan, baik puisi maupun prosa. Sejak itu lahirlah babak baru dalam sejarah kesusastraan Jawa. Masyarakat mula-mula belum dapat menerima gerakan Ronggowarsito, tetapi lambat laun mendapat sambutan yang besar juga.


Karangan-karangan Ronggowarsito bersifat kesusastraan, pendidikan, hukum, ekonomi, filsafah, sejarah, kebatinan, kemasyarakatan, ramalan-ramalan, dongeng-dongeng dll. Karangan-karangannya yang bercorak kefilsafatan banyak menjadi pegangan hidup rakyat. Ronggowarsito sebagai pengarang kritis dan militan terhadap masyarakatnya. Dalam usia lanjut dan keadaan badan lemah ia masih sempat menulis Serat Kalatida (Buku Zaman Keraguan) berbentuk puisi sebagai reaksi atas kemerosotan akhlak dalam berbagai segi kehidupan masyarakat waktu itu. Salah satu baitnya yang terkenal berbunyi: "Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan ora tahan, yen tan melu anglakoni, boya keduman melik, kaliren wekasanipun, dilalah kersa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lan waspada", yang kira-kira dapat diterjemahkan: "Mengalami zaman gila, sulit rumit dalam bertindak, ikut menggila tidak tahan, jika tidak ikut menjalani, tak dapat bagian rezeki, kelaparan akhirnya, (tetapi) sudah takdir kehendak Allah, semujurmujurnya (orang) yang lupa (akan Tuhan), lebih mujur bagi yang ingat (akan Tuhan) dan waspada".


Pameran buku-buku karya Ronggowarsito pernah diadakan pada 11 November 1953 yang meliputi empat puluh tujuh judul, buku-buku dalam bentuk puisi (tembang) dan prosa (gancaran).


Judul buku-buku Ronggowarsito a.l. Djajabaja; Djaka Lodang; Kalatida; Sabdatama; Sabdadjati, Paramajoga; Niti-sruti; Tjandrarini; Tjemporet, Purtakaradja; Wirid; dll. Untuk mengenangkan dan mengabadikan pujangga besar ini telah dibangun tugu peringatan dengan arca sang pujangga di muka gedung Radya Pustaka di Surakarta. Pada badan tugu dituliskan bait petikan buku Kalatida tersebut. Pula makamnya yang terletak di desa Palar, Klaten.

Diterbitkan di: 21 April, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    dimana saya bisa dapatkan judul buku-buku ronggowarsito. Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.