Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Sejarah>Situs Silurah yang Berubah

Situs Silurah yang Berubah

oleh: kasam     Pengarang : kawe shamudra
ª
 
BELUM ada penjelasan memuaskan tentang keberadaan situs purbakala di Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Batang, Jawa Tengah. Lokasi ditemukannya patung Ganesya (dan benda purbakala lainnya) di sebuah lembah pertemuan antara sungai Retno dengan sungai Semilir masih diliputi misteri. Diduga pada jaman dahulu menjadi tempat pelarian nenek moyang.

Prasasti Canggal sebagai bukti sejarah Indonesia yang dibuat pada tahun 732 M atas perintah Raja Sanjaya menyebutkan bahwa “di Pulau Jawa yang masyhur ada seorang raja bernama “Sanna” atau Mahasanna (Sanna yang agung), yang memerintah rakyatnya dengan adil dalam waktu yang lama. Mahassana kemudian berubah menjadi Mahasin, yang kini dikenal dengan sebutan Masin, sebuah desa di Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang.

Pada tahun 684 M Mahasin digempur oleh Sriwijaya. Senna bersama dengan putra mahkotanya lari selatan mendirikan padepokan di Desa Silurah, ditandai dengan adanya situs misterius dengan patung Ganesya dan peninggalan purbakala bercorak Hindu lainnya, sedangkan Sanjaya sebagai putra mahkota diungsikan ke daerah gunung Merapi. (www.batang.go.id).

Ada hal yang perlu dicermati dari kesaksian warga sekitar. Sebagian warga Sodong misalnya (yang kini berusia di atas 50 tahun), masih bisa menggambarkan kondisi situs sebelum dirusak orang. Sepasang patung dulunya tampil utuh dan di kanan kirinya banyak patung lain yang mengitarinya. Bahkan menurut cerita seorang warga, di dekat patung itu dulu ada sebuah lempengan batu seperti cermin.

Catatan pendek itu kini berbaur dengan mitos-legenda. Masyarakat desa sekitar (Sodong, Gringging, Pedati dll ) mengenal sejumlah tokoh legenda seperti Ajar Pendek, Syekh Abdurrahman Kajoran dan Saripan. Diceritakan, Ajar Pendek adalah tokoh sakti. Suatu ketika terjadi pertempuran dengan Syek Abdurrahman Kajoran, seorang ulama yang berdakwah di Desa Gringgingsari). Ajar Pendek menyerang Desa Gringgingsari dengan mendatangkan hujan cacing, tapi serangan itu mampu ditandingi oleh Syekh Kajoran dengan menghadirkan pasukan bebek untuk memangsa cacing-cacing tersebut. Itu hanya cerita legenda yang terus mengalami disorsi, sekadar dongeng pengantar tidur. Bukan untuk dipercayai sebagai kebenaran sejarah.
Diterbitkan di: 15 April, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.