Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Sejarah>Pengoperasian Pesawat Tempur Oleh TNI Angkatan Udara

Pengoperasian Pesawat Tempur Oleh TNI Angkatan Udara

oleh: harris42    
ª
 
Pengoperasian pesawat tempur di Indonesia dimulai pada saat pasca kemerdekaan Republik Indonesia dengan bermodalkan pesawat rampasan Jepang. Pesawat tersebut adalah pesawat latih Cureng, pesawat pembom Nishikoren dan Guntei, dan pesawat tempur Hayabusha. Pesawat tempur Hayabusha dirancang oleh dua orang insinyur Jepang, yaitu Yasushi Koyama dan Hideo Itokawa. Pesawat tersebut dibuat di pabrik Nakajima dan mulai beroperasi pada tahun 1939. Pada tanggal 29 Juli 1947, pesawat ini semula akan digunakan oleh AURI untuk mengawal pesawat pembom yang akan menyerang tangsi militer Belanda di Semarang, namun pesawat ini tidak jadi mengikuti operasi tersebut karena mengalami masalah teknis.

Pada dekade 50-an, pasca Konferensi Meja Bundar (KMB), kekuatan AURI bertambah dengan adanya pesawat-pesawat pemberian Belanda yang ditempatkan di Indonesia. Salah satunya ialah pesawat tempur yang sangat popular pada Perang Dunia II, P-51 Mustang. Pesawat buatan pabrikan North American ini ditempatkan di Skadron Udara 3. Tidak seperti pesawat Hayabusha yang tidak pernah turun ke medan tempur, pesawat Mustang ini justru terlibat di berbagai palagan operasi ABRI seperti penumpasan PRRI di Sumatera dan Permesta di Sulawesi. Hingga saat ini, pesawat ini diklaim sebagi satu-satunya pesawat AURI yang mampu menembak jatuh pesawat musuh yaitu pesawat pembom B-26 Invader milik AUREV (Angkatan Udara Revolusioner, Angkatan Udara Permesta) yang disuplai oleh CIA. Namun masih ada kontroversi antara AURI dan ALRI tentang siapa yang menjatuhkan pesawat yang dipiloti pilot CIA berkebangsaan Amerika Serikat, Allan Pope. Pada masa ini juga AURI memiliki Skadron Tempur Pancar Gas (Skadron Tempur Jet) yaitu Skadron Udara 11 yang diperkuat pesawat deHavilland Vampire, namun pesawat ini tidak lama beroperasi di AURI dan kemudian digantikan oleh pesawat MiG- 17 Fresco.

Pada dekade 60-an, demi mendukung Operasi Trikora, maka AURI mendatangkan pesawat-pesawat tempur buatan Uni Soviet seperti MiG 17 Fresco, MiG 19 Farmer, dan pesawat tempur berkecepatan supersonik MiG 21 Fishbed. Pada masa inilah AURI dijuluki sebagai Angkatan Udara terkuat di belahan bumi selatan sehingga menjadi masa keemasan AURI. Walaupun pesawat-pesawat tempur buatan Uni Soviet tersebut tidak beraksi di medan tempur, tapi pesawat-pesawat ini mempunyai kisah tersendiri. Salah satunya adalah kisah penembakan depot minyak di Plumpang, Istana Negara, dan Istana Bogor dengan menggunakan pesawat tempur MiG 17 Fresco oleh Letnan II Pnb (penerbang) Daniel Alexander “Tiger” Maukar. Namun pasca G-30S/PKI, kekuatan AURI berangsur-angsur menurun karena kekurangan teknisi sehingga kesiapan pesawat pun menurun drastis.

Pada dekade 70-an, TNI AU hanya memiliki pesawat tempur Avon Sabre buatan Australia yang merupakan lisensi dari pesawat North American F-86 Sabre. Pesawat ini dihibahkan oleh Angkatan Udara Australia.

Pada dekade 80-an dan 90-an, kekuatan TNI AU secara bertahap mulai bertambah. Pada dekade 80-an TNI mendatang pesawat tempur F-5 E/F Tiger II buatan Amerika melalui Operasi Komodo serta pesawat A-4 Skyhawk buatan Amerika melalui Operasi Alpha. Di akhir 80-an, TNI AU mendatangkan pesawat tempur buatan Amerika, Lockheed Martin F-16 Fighting Falcon yang didatangkan melalui proyek Peace Bima Sena. Dan pada pertengahan 90-an, TNI AU mendatangkan pesawat tempur Hawk 109/209 buatan Inggris dalam jumlah besar sebanyak 40 unit. Pada masa tersebut, hanya pesawat A-4 Skyhawk yang turun ke medan tempur di Timor-Timur guna mendukung pergerakan pasukan darat.

Pada dekade 2000-an, TNI mendapat embargo persenjataan dari Amerika yang mengakibatkan turunnya kesiapan pesawat. Pada tahun 2002, dua unit pesawat F-16 TNI AU meng-intercept lima unit pesawat F/A-18 Hornet Angkatan Laut Amerika di Bawean TNI AU. Misi tersebut tergolong sukses karena akhirnya pesawat Amerika kembali ke pangkalannya di kapal induk USS Carl Vinson. Pasca peristiwa tersebut mendapat tambahan 10 unit pesawat Sukhoi 27 SK/SKM dan Sukhoi 30 MK/MK2. Pesawat tersebut datang secara bertahap sebanyak 4 unit batch pertama dan 6 unit batch kedua dan ditempatkan di Skadron Udara 11. Dengan pesawat ini pula TNI AU membentuk tim aerobatic Thunder Aerobatic Team dimana Thunder merupakan sebutan untuk pilot di lingkungan Skadron Udara 11.

Kedepannya, TNI AU akan diperkuat tambahan 6 unit Sukhoi 30 MK2, 24 unit F-16 C/D, serta pesawat latih lanjut dengan kemampuan tempur T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan sebanyak 16 unit.

Diterbitkan di: 02 April, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.