Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Sejarah>Menguak PAYUNG AGUNG SUNDA LUHUNG - Bagian Kelima (Tamat)

Menguak PAYUNG AGUNG SUNDA LUHUNG - Bagian Kelima (Tamat)

oleh: dejanmarjuk     Pengarang : Dejan Marjuk
ª
 
MENGUAK PAYUNG AGUNG SUNDA LUHUNG - Bagian Kelima ( Tamat)

• Ptolomaeus (150M)
Dalam bukunya, Ptolomaeus menyebutkan tiga buah pulau disebelah timur India dengan nama Sunda.

• Rouffaer (1905:16)
Menyatakan bahwa kata Sunda merupakan “pinjaman” kata dari kebudayaan Hindu.

• Williams
Menyatakan bahwa kata Sunda berasal dari kata ‘Sund’ atau ‘Suddha’ dalam kata Sansakerta yang mengandung makna : bersinar, terang, putih (Williams, 1872 :, Eringa 1949:289). Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata “Sunda” dengan pengertian : bersih, suci, murni, tak bercela/bernoda, air, tumpukan, waspada, pangkat (Mardiwarsito, 1990, Anandakusuma, 1986, Winter, 1928 : 219).

Selanjutnya, Sunda dijadikan nama kerajaan di bagian barat Pulau Jawa yang beribukota di Pakuan Pajajaran, sekitar kota Bogor sekarang. Kerajaan Sunda itu telah diketahui berdiri pada abad ke-7 Masehi dan berakhir pada tahun 1579 Masehi.

Istilah Sunda sebagai nama tempat atau kerajaan tercatat pula dalam prasasti lain dan dalam empat buah naskah berbahasa Sunda Kuno yang dibuat pada akhir abad ke-15 atau abad ke-16 Masehi. Prasasti itu adalah prasasti Kebantenan yang ditemukan di Bekasi. Di dalam prasasti itu dikemukakan adanya tempat (Dayeuhan) yang bernama Sundasembawa, disamping tempat lain yang bernama Jayagiri. Kedua tempat itu berada di wilayah kerajaan Sunda (Sutaarga 1984:33). Mungkin yang dimaksud adalah nama daerah Mandala, yaitu daerah suci tempat kegiatan keagamaan (Banasasmita & Anis Ojatisunda, 1986 : 2-7). Adapun 4 naskah dimaksud adalah : Carita Parahyangan (Atja, 1967), Sanghyang Siksakanda Ng Karesian (Atja & Saleh Danasasmita, 1977), Sewaka Dharma (Banasasmita et.al., 1987), dan Bujangga Manik (Noorduyn, 1982 : 413-442).

Dalam naskah-naskah tersebut nama wilayah Sunda disebut bersama atau dalam hubungan dengan wilayah lain seperti Jawa, Lampung, Baluk, Cempa. Bahkan dalam naskah yang terakhir dijelaskan tentang wilayah Sunda dengan wilayah Jawa, yaitu sungai Cipamali (Kali Pemali, sekarang), dekat Brebes. Dikatakan bahwa “sadatang ka tungtung Sunda, meu(n)tasing di Cipamali, datang ka alas Jawa”. Yang artinya ; setibanya diujung (wilayah) Sunda, (kemudian) menyeberang di (Sungai) Cipamali, masuk ke wilayah Jawa (Noorduyn, 1982 : 415). Batas wilayah itu (Sungai Cipamali) diabadikan dalam tradisi lisan Sunda berupa cerita pantun lakon Ciung Wanara yang kisahnya diakhiri dengan sumpah dan perjanjian antara dua tokoh utama kakak-beradik, yaitu Ciung Wanara dan Haria Banga, bahwa mereka akan mengakhiri pertengkaran dan sepakat membagi wilayah kekuasaan di pulau Jawa atas dua bagian, yakni Sunda dan Jawa, dengan batas sungai Cipamali.

Perjalanan Kasundaan sebagai sebuah komunitas dan kultur sangat panjang. Dari semuanya, kita generasi penerus kasundaan, hendaknya bercermin dan membuktikan bahwa Sunda itu Universal. Melintasi wilayah benua-benua yang luas dan ragam kebudayaan yang sangat luhur. Sebuah kawasan hidup kehidupan yang selalu mengagungkan kekayaan ‘harti’ untuk mememelihara kekayaan ‘harta’. Mari kita ‘guar’ semua kejayaan masa lalu dengan kejujuran, kerja keras, serta kerjasama berdasarkan kearifan ‘pituah buhun’ : silih asah – silih asih – silih asuh.

Reungeukeun tuh sangkakala,
Sangkakala Padjajaran tangara,
mangsa mapag jaman anyar,
mangsa Ki Sunda Tandang
Rempug jukung sauyunan.
Tembongkeun ajen wewesen, satria nu
Pinandita… Teuas peureup lemes usap,
Pageuh kepeul lega awur
Silih asah, silih asih, Bari adil paramarta
Sibatria pilih tanding.
Raden tedak Pasundan

Cag.
(Dedi Djanur dari berbagai sumber – 27 Januari 2010)

Diterbitkan di: 08 September, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    klo mau tau tentang pusat kerajaan jawata dwipantara,dengan di perkirakan kurang lebih,.1200 SM sudah ada dengan pusat penelitian arkeolog bisa di temukan pula kraton wirata di ngawi jogorogo. Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    setauku,...sebelum purnawarman dg membangun istana taruma negaranya di jawa itu sudah ada kerajaan hindu yaitu kerajaan Jawata dwipantara,.dg prabu sambhu lakshanarayan,.dg patihnya arya varmadeva Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    baik,.itu cerita baru,dan pendatang yang baru datang di tanah jawa yaitu di mulai dari purnawarman,anak ke 3 dari kudungga raja kutai martadipura di muarakaman kurang lebih abad ke 7,jd itu crita baru Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.