Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Sejarah>Jaka Tarub Leluhur Raja-raja Mataram

Jaka Tarub Leluhur Raja-raja Mataram

oleh: yunikarlita    
ª
 
Ki Jaka Tarub atau Ki Ageng Tarub merupakan tokoh legendaris yang dalam sejarah sering disebut sebagai leluhur raja-raja Kesultanan Mataram, dari keturunan sang putri yaitu Retno Nawangsih.

Asal Usul
Dalam naskah Babad Tanah Jawi yang berisi sejarah Kesultanan Mataram terdapat kisah Jaka Tarub. Dalam kisah tersebut terdapat pemuda yang bernama Jaka Kudus putra dari Ki Ageng Kudus. Selama dalam pengembaraannya Jaka Kudus menikah dengan putri Ki Ageng Kembanglampir, setelah melahirkan bayi laki-laki sang putri meninggal dunia.

Sejak sang Ibu meninggal, sang bayi diasuh oleh seorang pemburu yang bernama Ki Ageng Selandaka. Bayi laki-laki itu selalu digendong dibawa pergi berburu ke hutan. Suatu hari sang bayi diajak berburu sampai ke desa Tarub, tanpa sengaja Ki Ageng Selandaka meninggalkan si bayi tersebut sendirian di peristirahatan.

Tersebutlah seorang janda bernama Nyi Ageng Tarub menemukan bayi laki-laki sendirian. Oleh nyai bayi tersebut diangkat sebagai anak dan setelah besar orang-orang sekitar memanggilnya dengan nama Jaka Tarub.

Menurut cerita dalam versi Majalah Jayabaya, bahwa Jaka Tarub sebenarnya adalah putra dari Syech Maulana Maghribi Azamat Khan yang menikah dengan Dewi Rosowulan, adik Sunan Kalijaga.
Syech Maulana Maghribi masih mempunyai nasab (garis keturunan) hingga Nabi Muhammad SAW. Cerita versi inilah yang menurut para pakar sejarah diyakini kearah kebenaran.

Pernikahan Jaka Tarub
Dalam perjalanannya Jaka Tarub tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan suka berburu.

Pada suatu ketika Jaka Tarub melanggar larangan ibu angkatnya untuk tidak berburu ke arah Gunung Keramat. Di kaki gunung itu ada telaga yang biasa digunakan untuk mandi para " tujuh bidadari". Dengan bersembunyi dan penuh penasaran Jaka Tarub memperhatikan ke-tujuh bidadari tersebut.

Tanpa berpikir panjang Jaka Tarun mengambil salah satu selendang dari ketujuh bidadari itu. Ketika menjelang senja semua bidadari bergegas untuk kembali pulang ke kahyangan. Keenam bidadari sudah terbang dan tinggallah seorang yang kebingungan tidak dapat terbang karena kehilangan selendangnya..

Sang bidadari menangis sendirian dan datanglah Jaka Tarub menghampiriya untuk menolong. Akhirnya Dewi Nawangwulan nama bidadari tersebut, menurut ketika diajak pulang ke desanya. Tidak lama Jaka Tarub langsung meminang Nawangwulan untuk menjadi istrinya. Dewi Nawangwulan bersedia menerima lamarannya, dengan suatu syarat bahwa Jaka Tarub pantang bertanya tentang pekerjaan rumahnya sehari-hari. Selanjutnya keduanya menikah dan dikaruniai seorang putri yang diberi nama Dewi Nawangsih.

Dalam kehidupan sehari-hari Nawangwulan selalu menggunakan jurus kesaktiannya, agar semua pekerjaan rumahnya dapat selesai dengan baik. Jika akan memasak untuk sebakul nasi, Nawangwulan cukup menanak sebutir padi.

Pada suatu hari Jaka Tarub tanpa sengaja melanggar larangan sang istri, yaitu membuka tutup periuk nasi. Sejak kejadian tersebut hilanglah sudah kesaktian Dewi Nawangwulan. Mulai saat itu Nawangwulan harus bekerja keras menumbuk padi agar menjadi beras untuk dimasak seperti biasa. Nawangwulan bekerja seperti wanita biasa, bekerja menyelesaikan pekerjaan rumah sambil mengurus anak.

Dengan seringnya padi ditumbuk dan dimasak, maka persediaan padi di lumbung cepat habis. Ketika akan menumbuk padi yang tinggal sedikit, di dasar lumbung itulah Nawangwulan menemukan selendang sutranya yang masih utuh. Saat itu Nawangwulan marah, karena tidak menyangka kalau selendangnya dulu telah dicuri dan disembunyikan oleh suaminya.

Jaka Tarub memohon maaf ketika Dewi Nawangwulan pamit akan kembali ke kahyangan sambil menyerahkan anaknya Nawangsih yang masih kecil. Permohonan Jaka Tarub agar istrinya tidak kembali ke kahyangan tidak dapat dipenuhi. Dengan memakai selendangnya Dewi Nawangwulan bertekad terbang ke kahyangan dan berjanji akan menjaga Nawangsih dari kejauhan.

Pernikahan Nawangsih
Pada jamannya Jaka Tarub bergelar Ki Ageng Tarub dan saat itu menjalin persahabatan dengan raja Majapahit yaitu Brawijaya. Raja Brawijaya mengutus Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan (anak angkat Brawijaya) mengirimkan keris pusaka yang bernama Kyai Mahesa Nular kepada Ki Ageng Tarub untuk dapat dirawat.

Ternyata Bondan Kejawan adalah putra kandung Brawijaya. Setelah Ki Ageng Tarub mengetahuinya, maka Bondan Kejawan dikendaki untuk tinggal dan menetap di desa Tarub. Oleh Ki Ageng Tarub pemuda Bondan Kejawan diminta menjadi anak angkat dan berganti nama menjadi Lembu Peteng. Dikemudian hari Nawangsih dinikahkan dengan Lembu Peteng.

Tidak lama setelah Ki Ageng Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng segera menggantikan kedudukannya dan bergelar Ki Ageng Tarub kedua. Selanjutnya mereka mendapat seorang putra dan bergelar Ki Getas Pandawa.

Kelak kemudian hari Ki Getas Pandawa mempunyai putra dan bergelar Ki Ageng Sela. Selanjutnya Ki Ageng Sela mempunyai putra dan cucu serta menuruhkan Panembahan Senapati yang merupakan pendiri Kesultanan Mataram.
******
Kepustakaan :
- Babad Tanah Jawi.2007 (terj)Yogyakarta:Narasi
- Moedjianto.1957.konsep Kekuasaan Jawa:Penerapannya oleh Raja-raja mataram.Yogyakarta:Kanisius
- Slamet Muljana.2005.Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara (terbitan ulang 1968).Yogyakarta:LKIS
(peringkas : Juniar H : juniar_h@yahoo.com )

Diterbitkan di: 15 Maret, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

5 Teratas

.