Buku ini merupakan kumpulan tulisan Saleh Danasasmita (alm.) yang dimuat di berbagai majalah Sunda dalam kurun waktu 1960-1970-an. Isi buku ini juga dalam bahasa Sunda, tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Bapak Saleh sangat menaruh perhatian pada sejarah dan kebudayaan Sunda, terutama segmen atau era kerajaan Sunda. Apalagi beliau tinggal lama di Bogor tempat banyak peninggalan kerajaan Sunda.
Mungkin juga yang menjadi dorongan lainnya untuk menulis segmen ini, karena dalam bunga rampai sejarah Indonesia sejarah Sund ditulis sangat singkat. Apalagi yang diajarkan di sekolah-sekolah, misalnya tiba-tiba saja disebutkan Pajajaran dikalahkan sewaktu direbutnya Sunda Kalapa oleh Fadhillah. Raja Wastu Kancana dan Sri Baduga yang jelas-jelas ada prasastinya tidak mendapat paparan yang memadai disbanding Ken Arok yang bahannya dari lontar Pararaton.
Bab Pertama membahas arti Pakuan Pajajaran. Berbagai pendapat dari peneliti Belanda dan Indonesia disajikan terakhir ditutup dengnan hasil kajian Saleh sendiri. Dalam Bab Empat dirinci raja-raja setelah Pasunda-Bubat dan yang menarik adalah siapa raja Pajajaran yang gugur di Bubat. Ini akan menjadi mata rantai ke Bab Delapan yang membahas Siliwangi-Susuhunan Pajajaran.
Banyak orang yang menyangka raja yang gugur di Bubat adalah Siliwangi. Tetapi banyak pula yang menyangkal tak mungkin Siliwangi yang menjadi legenda Sunda adalah raja yang gugur di Bubat. Saleh berpendapat bahwa yang disebut Siliwangi adalah Sri Baduga atau Ratu Jayadewata yang menjadi Susuhunan Pajajaran tahun 1482-1521 M. Jauh setelah Peristiwa Bubat tahun 1357 M.
Bagi orang Sunda penting membaca buku ini meskipun berupa tulisan-tulisan lepas di berbagai Majalah. Memang tidak akan seperti membaca buku
Sejarah Jawa Barat. Penerbit telah berusaha menghimpun dan menyusun sedemikian rupa. Terima kasih atas usaha-usaha menggali khasanan sejarah dan kebudayaan seperti ini.