1.
Logika
Ilmu adalah kumpulan pengetahuan yang
ditata sehingga menampilkan pola-po-la yang teratur
dan berlaku secara umum.
Menurut paham empirisme, pengetahuan diperoleh melalui pengamatan atas fakta
yang ditemukan di alam; sementara menurut paham rasionalisme, kebenaran pengetahuan
hanya dapat ditemukan melalui proses pemikiran atau
penalaran.
Proses berpikir untuk menarik suatu
kesimpulan yang berupa ilmu pengetahuan disebut proses bernalar. Penalaran menghasilkan
ilmu pengetahuan yang dikaitkan de-ngan kegiatan berpikir dan bukan dengan
perasaan. Agar pengetahuan yang
dihasilkan dari penalaran itu mempunyai dasar kebenaran, maka proses berpikir
harus dilakukan dengan cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan dianggap sahih
(valid) jika proses pe-narikan kesimpulannya dilakukan menurut cara tertentu
tersebut yang disebut logika.
Logika dapat didefinisikan sebagai
pengkajian untuk berpikir secara sahih. Paham
empirisme melakukan penarikan kesimpulan dengan menggunakan logika induktif,
sementara penganut paham rasionalisme melakukan penarikan kesimpulan dengan
logika deduktif. Logika induktif digunakan untuk penarikan kesimpulan dari
kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan umum. Sedangkan logika
deduktif biasanya mem-bantu kita dalam menarik kesimpulan dari hal yang
bersifat umum menjadi khusus yang bersifat individual.
Penalaran secara induktif dimulai dengan
mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan
terbatas untuk menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang
bersifat umum. Misalnya, kita memiliki fakta bahwa harimau, gajah, sapi, kera
dan ayam memiliki mata maka kita menarik kesimpulan umum bahwa semua binatang
memiliki mata. Pada penalaran dengan logika deduktif, kesimpulan yang ditarik
merupakan konsekuensi logis dari fakta-fakta yang mendasarinya sehingga
dilakukan penarikan kesimpulan yang bersifat khusus dengan menggunakan
pernyataan yang bersifat umum menggunakan pola pikir silogisme. Silogisme dibentuk
oleh dua pernyataan alasan (
premis mayor dan premis minor) dan kesimpulan yang
ditarik secara logis dari dua premis pendukungnya. Sebagai contoh: jika semua makhluk hidup
memiliki mata (premis mayor-umum) dan si Polan adalah makhluk hidup (premis
minor) maka si Polan mempunyai mata (kesimpulan).
2. Pertumbuhan, pergantian dan
penyerapan
teori Ilmu atau pengetahuan ilmiah dikembangkan dengan
menggabungkan pendekatan rasionalis dan pengalaman empiris sehingga suatu pernyataan
ilmiah merupakan penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan objek yang
dijelaskannya. Metode deduksi digunakan untuk menemukan aturan-aturan yang
berlaku secara pasti, dengan bersandar pada aksioma yang kebenarannya telah
ditentukan sementara metoda induksi digunakan untuk menguji apakah aksioma yang
digunakan tersebut dapat terus dipertahankan sehingga bisa dikembangkan lebih
lanjut) atau tidak.
Suatu penjelasan
rasional yang belum teruji kebenarannya secara empiris statusnya masih bersifat
hipotesis. Hipotesis disusun secara deduktif menggunakan premis-premis dari
ilmu yang sudah diketahui kebenarannya, sebagai dugaan atau jawaban sementara terhadap
suatu masalah. Proses induksi dilakukan pada tahap verifikasi atau pengujian
hipotesis, dimana dilakukan pengumpulan fakta-fakta empiris untuk menilai
apakah hipotesis didukung oleh fakta (dapat dibuktikan) atau tidak. Penggunaan
logika deduksi dan induksi secara berkesinambungan inilah yang menyebabkan
terjadinya pertumbuhan, pergantian dan penyerapan suatu teori (ilmu).
Ringkasan lain tentang LOGIKA, DEDUKSI DAN INDUKSI