Karya Bhaja Govindam yang hanya berisikan 31 sloka merupakan kritikan-kritikan tajam dari Adi Shankara bagi manusia-manusia
yang merasa dirinya bergolongan tinggi dan cara berpikirnya bodoh (jauh dari ilmu-pengetahuan yang sejati). Orang-orang yang kurang pengetahuannya ini disebut bodoh oleh Sri Shankara dan mereka ini bukan saja menyengsarakan diri mereka sendiri tetapi juga orang-orang di sekitar mereka sendiri karena ulah mereka sendiri yang penuh dengan kelemahan-kelemahan
spiritual dan nilai-nilai komersiil, sehingga Hindhu Dharma tampil ibarat suatu keharusan komersiel yang menyengsarakan banyak umat yang mau tidak mau diperas terus dengan alasan keagamaan.
Dengan mempelajari kritik-kritik sosial dari filsuf yang piawai ini, seorang pembaca bahkan bisa memasuki dunia dharmanya dengan penuh keyakinan dan percaya diri. Kita harus menghormati kaum brahmana, pendeta dan para guru agama kita, tetapi harus juga selalu waspada agar tidak “disesatkan” oleh pelaksanaan sesuatu tradisi yang bertentangan dengan Sanathana Dharma, atau dengan alasan bahwa dari dulunya sudah begitu. Setiap ajaran dan ritual dalam Sanathana Dharma ada dasar logika spiritualnya, dan tidak berdasarkan tradisi atau pemaksaan dari satu golongan tertentu yang merasa golongannya lebih mulia dari warna-warna lainnya. Yang dinamakan brahmana sejati adalah mereka-mereka yang kodratnya telah menentukan demikian, yang buddhinya telah terbuka ke arah Yang Maha Esa, bukan mereka-mereka yang lahir dari keturunan seorang brahmana. Anak seorang pendeta tidak otomatis jadi pendeta dan begitupun dengan warna-warna lainnya. Di India seniman dalam bidang apapun juga berwarna brahmana karena berada di bawah naungan Dewi Saraswati yang adalah Shaktinya Dewa Brahma, asal kata dari brahmana itu sendiri.
Bhaja Govindam yang berarti puja-pujilah Govindam (Khresna atau Yang Maha Esa) terdiri dari 31 sloka /syair, tetapi merupakan adi-karya dalam bentuk sastra dan spiritual bagi umat Hindhu di India. Karya yang sederhana ini biasanya dilantunkan oleh para sishya (murid). Bagi kaum bijak, karya ini dianggap sebagai penuntun spiritual yang menakjubkan maknanya, sehingga mereka beranggapan dengan meneguk sari karya ini akan menghapuskan dahaga spiritual mereka, dan menghapuskan moha (khayalan dan ikatan-ikatan duniawi mereka), oleh karena itu karya ini juga disebut Moha-Mudgara (Penghapus ikatan-ikatan duniawi).