Dua hari yang lalu aku bersama temanku pergi ke sebuah kota, kota yang jauh dari keramaian, jauh dari keributan, jauh
dari kesumpekan dan jauh dari segala kehampaan naluri. Disana ku temukan berbagai hal yang tidak ku temukan di kota ini, kota yang penuh dengan berbagai polemik kehidupan dan kesumpekan pernafasan. Ku menemukan apa itu arti kehidupan, apa itu arti persahabatan dan apa itu arti per “cinta”an.
Nuansa itu seakan-akan membawa seluruh manifestasi ke”diri”an ku yang selama ini terpendam dalam tumpukan fenomena realitas semu kepada sebuah dimensi eksotik dari sebuah perjalanan kehidupan. Aku pun dibawa terbang menuju segala impian ku yang terlupakan. Sejenak saja aku diberikan kesadaran, begitu saja aku mendapatkan kenyataan.
Kedua indera penglihatanku terbelalak dibuatnya, semakin kusadari kalau aku hanya melihat kenyataan hanya dengan satu mataku saja. Akal ku bekerja keras mencari-Nya, karena aku tidak ingin taklid mengenali-Nya. Dengan segala kerendahan hati dan atas segala keterbatasan pengetahuanku, ku temukan apa itu arti dari kehidupan. Ternyata kehidupan bukanlah lawan dari kematian. Kehidupan adalah kehidupan saat kehidupan menjadi kehidupan. Kematian tidak pernah ada, kematian tidak pernah dilalui oleh
manusia. Manusia merupakan manifestasi Tuhan yang paling nyata, jika kau mengetahuinya dan semoga kau mengetahuinya. Sebagai contoh Kekuatan transcendental yang Tuhan miliki ternyata manusia pun memilikinya namun hanya sepersekian miliar saja dari milik-Nya.
Cogito ergo sum, begitu kata Descartes dalam sebuah hasil pemikirannya yang artinya “aku berfikir maka aku ada”. Aku pun mulai mengeksplorasikan kata itu kedalam kahidupanku, dan aku menemukan pernyataan lain yang agak mirip, begini bunyinya :
Aku mencari-cari Tuhan, kutemukan diriku
Aku mencari-cari diriku dan kutemukan Tuhan
(Ali Syari’ati)
bagaimanalah aku dapat merelevansinya, itu PR (pekerjaan Rumah) yang aku titipkan untukmu sahabatku. Kehidupan ini terkadang membawa kita pada sejahat-jahatnya kenyataan dan pada sebaik-baiknya perjalanan. Hingga tak heran bila malaikat bertanya pada Tuhan ketika hendak menjadikan manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini (baca Q.S Al-Baqarah ayat 30).
Aku tatap sekelilingku dan ku temukan kehangatan sapa semesta, dalam gemersik suara daun nyiur, dalam beriak percikan air disungai nan panjang, yang aku tak pernah tahu dimana sumbernya. Akupun di tertawakan semesta saat ku mengadu tentang apa yang telah aku alami, aku memaknainya sebagai responsibility sesama makhluk ciptaan-Nya. Ternyata dalam kesendirian tidak pernah ada keheningan, mungkin itu karena Tuhan menjadikan kita dalam pasangan-pasangan kenyataan yang sama dan yang berlainan.
Pasangan-pasangan itulah yang membawa aku pada sebuah makna persahabatan. Dan aku memaknainya sebagai ikatan abstrak yang terbentuk akibat koneksifitas alam bawah sadar manusia. Kecocokan atau ketidakcocokan itu hanyalah proses dari pengenalan, yang senyatanya itu adalah hikmah dari penciptaan yang beranekaragam.
Ketika hikmah-hikmah itu terkumpul dalam sebuah dimensi perasaan manusia dan membengkak, maka dengan itu pula lahir sebuah dimensi baru dari perasaan manusia I call it with cinta. Ya… inilah cinta, yang dengan segala kesuciannya Dia menciptakan kita. Manalah kasih sayang itu membenam pada diri manusia jikalah tiada cinta. Sejahat-jahat manusia kepada semesta masih terdapat cinta yang terpendam. Dan itulah anugerah terindah yang menjadi alasan sebuah kehidupan. Secara essensial cinta adalah manifestasi kasih sayang Tuhan kepada manusia dan secara aksidental cinta adalah perasaan sayang kita kepada makhluk lainnya.
Rasanya rangkaian kata-kata ini tidak dapat mewakili pengalaman yang baru saja terlewati. Namun aku bersikeras untuk menceritakannya pada seluruh makhluk Tuhan yang berfikir dengan akal dan berperasaan dengan hati, agar dijadikan sebuah hikmah dari bagian perjalan kehidupan yang fana ini.