1.
Penemuan dan sifat peneliti
Penemuan ilmiah
merupakan suatu keterbaruan (novelty) yang menambah pe-ngetahuan
manusia dan berkontribusi pada ekonomi global dan standar hidup manusia,
memecahkan masalah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat contohnya melalui
kesehatan publik, peningkatan masa hidup dan peningkatan produksi pangan.
Penemuan
identik dengan jenius, intelegensia dan motivasi yang kuat. Tapi pada hakekatnya, penemuan adalah hasil dari penerapan
logika dan metoda dalam upaya pe-mecahan masalah,
pengembangan cara pandang (insight),
menerangkan fakta (analogy-based, bisosiasi
atau metaforik). Penemuan ilmiah didapat melalui kerangka kerja dan metoda ilmiah
terstruktur walaupun kadang disertai oleh faktor keberuntungan. Proses
penemuan diawali dengan kemunculan
ide-ide spekulatif, hipotesis kerja yang luas, ske-ma konseptual yang lebar
(teori) dan pengujian eksperimental dari teori dengan metode ilmiah. Tahapan
kerja dalam suatu metode ilmiah adalah pengembangan hipotesa, pe-ngumpulan
data, pengembangan atau perbaikan hipotesa, pengumpulan atau pengujian data
lebih lanjut dan pengembangan suatu teori.
Faktor
individual yang diperlukan untuk pembentukan suatu ide adalah adanya keterbukaan
intelektual dan sensibilitas terhadap masalah;
memiliki pengetahuan iptek yang
luas; memiliki pengetahuan terapan yang terlatih; memiliki pemikiran yang terbu-ka
dan motivasi untuk keberhasilan; punya kemampuan untuk meyakinkan; memiliki
daya nalar kritis, spontanitas yang rasional, dan keterbukaan untuk kerjasama
horizontal dan vertikal serta masuk dalam dinamika kelompok.
2.
Organisasi dan penemuan
Faktor-faktor
organisasi berperan penting dalam penemuan program-program sa-intifik karena
mempengaruhi kinerja riset, proses penemuan dan alokasi sumberdaya ri-set. Agar bisa bekerja dengan standar yang baik
maka sains harus dilakukan dalam suatu Prosedur Operasi Standar (SOP).
Dalam realitas, penemuan tidak menyebar merata tapi terkonsentrasi di
pusat-pu-sat budaya unggul (Centre of
Excellence). Budaya sebagai ’penemu’ biasanya dimiliki oleh negara-negara
yang dana risetnya sangat memadai, memiliki kelembagaan ilmiah yang sangat
mapan dengan sistem dan manajemen riset sangat baik, lingkungan univer-sitas
kreatif – produktif dan didukung oleh kelembagaan filantropis.
Untuk membangun organisasi yang inovatif, beberapa hal harus terpenuhi: me-miliki
visi, kepemimpinan dan keinginan berinovasi dengan struktur yang tepat (kreati-vitas
tinggi); memiliki personalia kunci (promotor, juara, penjaga gawang dan pemeran
lain) yang mendorong inovasi; tim kerja yang efektif (sinergi internal); pengembangan
individual yang berkelanjutan (kompetensi dan keterampilan yang efektif); komunikasi
ekstensif (ke atas, ke bawah dan sejajar); keterlibatan yang tinggi pada
inovasi dan fo-kus pada pelanggan serta memiliki lingkungan yang kreatif dan organisasi
pembelajaran (manajemen pengetahuan). Delapan instrumen pengukuran budaya
inovatif yaitu kebu-tuhan, konfrontatif, kepercayaan, kebenaran/keaslian,
proaktif, otonomi, kerjasama dan melakukan pengkajian.
Efektifitas dan efisiensi
penelitian berpengaruh pada produktifitas dan prestasi
penelitian yang dihasilkan. Bagaimana pentingnya kinerja organisasi terhadap
suatu pe-nemuan bisa dilihat dari kerja tim penelitian yang dibentuk Prof.
Norman Borlaug yang secara konsisten berupaya mencari varietas gandum unggul untuk
mengatasi kekurang-an pangan di Meksiko. Program pengembangan pertanian ini disponsori
oleh The Rockefeller Foundation. Lalu, peran organisasi terhadap pencapaian bisa
dilihat dari upaya ’Bank Desa’ yang didirikan Prof. Muhammad Yunus sehingga mampu
mencipta-kan pembangunan dan perdamaian melalui penciptaan ekonomi yang memberi
akses pa-da perempuan miskin.
Agar suatu
penemuan bisa membawa kesejahteraan pada masyarakat, maka bu-daya penelitian
yang dibangun hendaklah berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Se-orang
peneliti atau lembaga peneliti harus
melakukan sinergi internal agar penelitian menjadi fokus, efektif dan efisien.
Selanjutnya, setiap lembaga penelitian harus melaku-kan sinergi eksternal
dengan melibatkan universitas dan swasta.
Peneliti memiliki ’pa-tokduga’ di tingkat regional (untuk menghadapi
kompetisi langsung), pada negara maju (untuk membangun kesadaran iptek), dan
pada swasta unggul (untuk membentuk kom-petensi inti). Penelitian juga
hendaknya mengutamakan pemanfaatan sumberdaya terse-dia, berorientasi pada
kebutuhan pasar/pengguna, menciptakan nilai tambah yang besar serta konsisten
dengan tahapan penelitian, pengembangan, rekayasa proses/mesin dan komersialisasi.
Ringkasan lain tentang PENEMUAN PENELITI, ORGANISASI DAN PENEMUAN