Siapa menyangka di balik
parfum seseorang yang semerbak mungkin tersembunyi
perasaan tertekan dsn
depresi. Seorang wanita yang memakai parfum terlalu
wangi, misalnya, bisa jadi tak sadar bahwa dirinya tengah dilanda depresi.
Begitulah kira-kira simpulan seorang dokter
dan peneliti penyakit
autoimmune dari Universitas Tel Aviv, Israel,
Dr. Yehuda Shoenfeld, saat mempelajari autoantibody. Pada kondisi
normal antibodi digunakan untuk menyerang kuman, virus, dan penyebab penyakit
lain yang masuk ke dalam tubuh. Namun, pada penderita penyakit-penyakit autoimmune,
misalnya lupus, produksi antibodi terlalu berlebihan sehingga justru menyerang
sel-sel tubuh.
Analisis
tersebut diperoleh dari percobaan terhadap
tikus yang merupakan
model yang cukup baik untuk mempelajari fungsi organ dan otak manusia.
Shoenfeld dan koleganya menyuntikkan autoantibodi ke tubuh tikus betina sampai
mengelami depresi. Selain gelisah, tikus tersebut ternyata kehilangan kemampuan
mencium bau. Autoantibodi mematikan sel-sel kelenjar indera penciumannya. Lebih
lanjut, tikus tak lagi mengandalkan moncongnya untuk mengendus makanan dan
dalam beberapa hari kemudian berat badannya turun.
"Kehilangan berat badan adalah salah satu gejala pertama depresi pada
pasien penderita penyakit autoimmune," ujar Shoenfeld. Jika Anda
tidak dapat mencium bau, Anda akan malas makan karena Anda tidak menikmatinya.
Jika Anda malas makan, dipastikan Anda kehilangan berat badan. Namun, apakah
hubungan depresi dan kehilangan kemampuan mencium bau hanya terbatas pada
penderita penyakit autoimmune? Untuk menjawab pertanyaan tersebut,
para dokter termasuk dirinya harus lebih fokus meneliti lebih dalam hubungan
antara kemampuan indera penciuman dengan kesehatan.
Sebagai catatan, depresi bekerja sama saja baik pada orang yang menderita
penyakit tersebut maupun yang tidak. Hasil penelitian Shoenfeld mungkin juga
dapat menjelaskan mengapa pria juga seringkali menggunakan parfum secara
berlebihan.
Ringkasan lain tentang Depresi Di Balik Semerbak Parfum