Dalam
belajar
al Quran, indera pendengaran merupakan suatu hal yang amat
vital sebab pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan Al Quran
hampir semuanya mengandalkan indera yang berupa telinga ini. Seperti
mengetahui ketepatan makhorijul
huruf, tanpa pendengaran hampir dapat dipastikan seorang pelajar Al
Quran tidak akan dapat mempelajarinya dengan baik, dengan kata lain
hampir mustahil, apalagi untuk mengawasi atau mengoreksi kesalahan
bacaan orang lain.Namun kekurangan yang satu ini bukan suatu halangan yang berarti bagi Imam Qalun seorang Qori masyhur pada masa awal-awal Islam.
Beliau adalah Isa
bin Mina bin Wardan bin Isa bin
Abdus Shamad. Qalun adalah julukannya. Imam Nafi, guru beliau
sendirilah yang memberi gelar tersebut disebabkan kebagusan suaranya.
Qalun dalam bahasa Romawi memiliki arti bagus. Imam Qalun juga memiliki
gelar lain yakni Abu Musa.
Imam
Qalun lahir pada tahun 120 H pada masa Khalifah Hisyam bin Malik.
Beliau belajar Al Quran kepada Imam Nafi (150H), salah seorang Imam
yang berjasa besar dalam periwayatan Qiraah sabah, Imam Nafi sendiri adalah murid dari tujuh puluh tabiin.
Pada
masa tuanya Imam Qalun terserang
tuli sehingga beliau tidak bisa
mendengar sama sekali tetapi jika ada orang yang membaca Al Quran
padanya beliau bisa mengetahui kekeliruan-kekeliruannya hanya melalui
gerakan mulut si pembaca.
Di sinilah letak pentingnya makharijul
huruf, bentuk mulut yang salah dalam pelafalan suatu huruf maka salah
pula bunyi huruf tersebut. Seorang Syeikh bisa mengetahui kekeliruan
bacaan muridnya hanya dengan mendengarkannya. Sebaliknya dia juga dapat
mengetahui kekeliruan bacaan sang murid melalui gerakan mulutnya
meskipun ia tidak mendengarnya.
Ringkasan lain tentang tuli, ketahui bacaan al qur''an