Buku ini ingin mengangkat sejarah dari perspektif orang pribumi (khususnya pribumi Islam) agar tidak dikelabuhi oleh penulisan
sejarah oleh penjajah tentang perjuangan bangsa. Penulisan sejarah bagi penjajah dengan maksud menghilangkan kesadaran umat Islam dalam perjuangan bangsanya. Salah satunya dalah merancukan saat datangnya Islam dan masa perkembangannya di bumi nusantara.
Selama ini yang populer diketahui bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui Aceh pada abad ke-13. Buktinya adalah Kerajaan Samudra Pasai yang menganut ajaran Islam. Tapi menurut Ahmad Mansur, ada fakta lain yang lebih sahih karena tidak mungkin masuknya Islam langsung mendirikan kekuasaan politik di Kerajaan Pasai. Ahmad Mansur menyebutkan bahwa pada abad ke-11 di Pulau Jawa telah berdiri kekuasaan politik Islam di Leran, Gresik, Jawa Timur yang didirikan oleh Fatimah Binti Maimun. Pendirian kekuasaan politik Islam tersebut bersamaan waktunya dengan tahta kekuasaan politik Hindu di Kediri, Jawa Timur dibawah Raja Airlangga. Berdirinya kekuasaan politik Islam di Gresik jauh sebelum Kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur pada 1294.
Dari fakta sejarah tergambar bahwa kekuasaan politik Islam, Budha dan Hindu dapat dikatakan hampir mempunyai kesamaan waktu keberadaannya di Indonesia. Hanya dalam perjalanan sejarah berikutnya, Agama Islam berhasil memenangkan massa mayoritas. Jadi kemunculan Islam di Indonesia jauh melebihi dari yang ditulis versi penjajah.
Demi memperkuat argumentasi, Ahmad Mansur memetakan Indonesia dalam konteks global. Dia membahas lebih dahulu perkembangan Islam di timur tengah, asia, afrika, dan eropa sebelum dan sesudah meninggalnya Nabi Muhammad pada tahun 632 H. Setelah itu barulah masuk ke pembahasan masuknya Islam di Indonesia. Pembahasan seperti itu perlu dilakukan karena segenap perubahan yang terjadi di Timur Tengah, Asia-Afrika, dan Eropa pada masa Nabi Muhammad dan sesudah wafatnya sangat berpengaruh terhadap masuk dan perkembangan Islam di Indonesia.
Pada saat mengulas tentang Eropa, Ahmad Mansur membahas perihal imperialisme Barat. Pada saat pudarnya kekuasaan Hindu dan Budha serta berkembangnya kekuasaan politik Islam, datanglah orang-orang Barat yang diawali masuknya Portugis menduduki Malaka pada 1511 diikuti Belanda yang menduduki Jayakarta pada 1619. Menyebarnya imperialisme Barat adalah bentuk usaha untuk menaklukkan Islam berdasarkan ide yang dibangun dari Vatikan, Portugis dan Spanyol pada abad ke-15 M. Pihak Vatikan memberikan kewenangan kepada Kerajaan Portugis untuk menguasai dunia belahan timur, sedang Kerajaan Spanyol diberikan diberikan kewenangan untuk menguasai dunia belahan barat.
Dalam perkembangannya, gerakan komunis menentang imperialisme Barat tersebut. Karena itu Karl Marx, pengajur komunisme menyerukan menolak ajaran agama (Kristen) karena menganggapnya agama para penjajah. Karl Marx menilai agama Kristen sebagai candu dan menjadi alat penjajahan untuk menidurkan rakyat yang tertindas oleh para penjajah Barat yang didukung oleh Vatikan untuk merealisasikan tujuannya yaitu tiga G: God, Glory dan Gospel.
Ketika Imperialisme Barat menjajah Indonesia mencoba menaklukkan masyarakat Muslim. Dari sinilah lahir embrio nasionalisme Indonesia menentang penjajah dari spirit kaum Muslim Indonesia sehingga banyak perlawanan-perlawanan di berbagai daerah yang berbasis penduduk Muslim. Salah satu upaya menaklukkan masyarakat Muslim adalah menghancurkan situs-situs Islam dan menonjolkan situs-situs Hindu dan Budha seperti memugar Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Salah satu situs Islam yang dibiarkan terbengkalai adalah situs Kerajaan Banten yang dibiarkan rata dengan tanah. Pada masa Kerajaan Banten berdiri megah, kerajaan Belanda sangat mengkhawatirkan kekuasaannya yang berpusat di Jayakarta (sekarang Jakarta).
Buku yang sangat tebal ini mencoba memaparkan sejarah Islam Indonesia dari kemunculannya hingga pada tahun 1950. Kelebihan buku ini adalah fakta-fakta yang terungkap dalam buku ini sangat jarang diulas pada buku sejarah Islam Indonesia lainnya.