• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

.

Pertengkaran SUAMI ISTRI

oleh : gimut    

Pengarang : Dame Munthe

Delapan
rumahtangga tinggal dalam

satu bangunan dan tiap rumahtangga mengemban satu fungsi
adat. Besar kemungkin, hanya ada dalam budaya Suku Karo. Sehingga rumah hunian
bersama itu disebut rumah adat alias hunian sekaligus sebagai tempat
diaplikasikannya adat dan tradisi kehidupan Suku Karo.


Petak
hunian tiap rumahtangga, paling  3m X 4m
luasnya. Disitu memasak, makan sekeluarga termasuk cuci piring. Begitu pula
tidur sekeluarga, ibu ayah dan anak yang belum akilbalig. Anak yang sudah akilbalig,
tidur di lumbung padi buat anak laki-laki dan anak perempuanya tidur di jambur  semacam ruang pertemuan warga desa.


Sederhana
saja harta benda keluarga di hunian. Peralatan masak memasak yang disusun atau
disangkutkan di atas langit langit 
tungku yang disebut para-para.


Ada empat tungku masak. Satu tungku digunakan dua
keluarga besisian. Jadi capah tempat
makan terbuat dari kayu bentuk bundar luas permukaan hampir dua kali piring
makan kini. Begitu pula kudin taneh alias
periuk tanah yang biasa digunakan untuk merebus sayur dan lauk. Periuk tanah
dan peralatan dapur termasuk capah piring makan   ditempatkan
di para-para tungku masak keluarga. Belut atau ikan lele sering juga
disangkutkan di para-para untuk diasap menjadi awet sebagai persediaan lauk.
Tidak ada lemari dapur. Jangankan lemari dapur, lemari pakaian pun tidak ada di
sana.


Namanya
suami istri, mestinya pernah bertengkar. Kalau pakai suara  teriak segala 
tentunya terjadi ketika mereka di ladang berdua. Tak ada yang mendengar.
Sebab jarak antar ladang umumnya jauh.


Bagaimana
kalau tengkar pakai teriak segala dalam rumah adat. Tradisi mengatur. Tujuh keluarga
lainnya di beri wewenang menghancurkan harta benda suami istri yang bertengkar.
Sasaran empuknya adalah kudin taneh dan peralatan dapur yang tersangkut di
para-para. Takkan pernah ada keluaga yang melerai. Bertindak langsung,
hancurkan harta benda yang ada.


Kehidupan
leluhur Suku Karo di dalam hunian rumah adat sepi suara, cenderung sahdu dan anggun
dalam kebersamaan penuh pesona. Kekerabatan adat dan tradisi memagari, hangat
seperti kehangatan ruangan yang besar akibat api dan asap dari  ke empat tungku.
memasak
hidangan malam.


Walau
petak hunian per rumahtangga sangat sempit namun hati kekeluargaan sangat
lapang antar keluarga penghuni rumah adat. Hanya tawa ceria balita yang
terdengar tentunya tangisnya juga kadang kala.


gimut Jakarta, 11082009


 


 


Diterbitkan di: Agustus 11, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.