Cerita-cerita tentang wanita simpanan selalu bisa dijadikan sebagai bahan perbincangan menarik dari masa ke masa. Dimasa
Kerajaan Nusantara para wanita simpanan yang umum disebut selir biasa dikumpulkan disalah satu ruang pendopo khusus . Tidak ada tugas tertentu yang harus dilakukan kecuali (maaf) sebagai pemuas nafsu atau teman bercerita Raja dan kerabat kerajaan.
Nasib selir tak ubahnya seperti budak pada umumnya. Meskipun terkadang lebih beruntung dari sisi materi, tetapi kehidupan selir diatur oleh majikannya. Jika sang majikan merasa jenuh dan tidak lagi menyukai mereka, ia dapat membuang mereka layaknya sampah. Tetapi, jika sang majikan menyukai prilaku apalagi sampai jatuh cinta maka kehidupan para selir ini dijamin akan bergelimang harta dan kesenangan.
Dimasa terbentuknya Batavia, cerita tentang kehidupan selir juga banyak terjadi dan menjadi buah bibir. Sejak masa awal pemerintahan J.P Coen memelihara selir dianggap sebagai penanda status dan menjadi trend bagi bangsawan, prajurit serta tuan tanah Eropa.
Nyai (sebutan selir dimasa kolonial ), umumnya berasal dari wanita bumiputera berparas cantik yang akibat desakan ekonomi atau terjebak dalam perdagangan budak terpaksa menjadi istri diluar nikah. Kehidupan mereka umumnya mapan dari segi materi, namun dalam status sosial kehadiran Nyai sering dianggap sebagai wanita murahan. Mereka tidak pernah bisa mendapatkan status “istri” meskipun banyak diantara mereka telah memiliki anak dari hasil hubungan dengan majikannya. Bahkan, dikalangan bumiputera sendiri cap sebagai “penzina” sering dialamatkan kepada para nyai.
Kisah tentang keberadaan Nyai yang cukup terkenal di Batavia adalah kisah tentang kehadiran “Nyai Dasima” (1811-1816). Wanita asal Parung, gundik Meener Edward William ( warga Inggris yang menetap diBatavia ) ini diriwayatkan lari dari tuannya untuk menjadi istri ke-dua supir sado (delman) bernama Samiun. Kisahnya berakhir tragis. Dasima ditemukan mati terbunuh diwilayah sekitar kali Kwitang.
Cerita Nyai Dasima ditulis dalam dua versi berbeda oleh G. Francis (Tjerita Njai Dasima; 1896 ) dan seorang budayawan Betawi bernama SM. Ardan yang menerbitkannya sebagai roman sejarah (Nyai Dasima; 1965 ).
Kisah lain yang tak kalah tragisnya adalah kisah Mariam. Gundik peliharaan sinyo Belanda bernama John yang menjalin cinta segitiga dengan seorang supir sado bernama Husin ( Toko Merah; Saksi kejayaan Batavia lama ditepian Muara Ciliwung ) . Mariam ditemukan mati terbunuh disekitar jembatan Ancol.
Selain Mariam, kisah Rossina, budak jelita turunan Bali yang menjalani hukum gantung didepan Stadhuis (sekarang Museum Fatahillah ) juga menyimpan sejarah kelam kehidupan Nyai di Batavia. ( Cerita Rossina; F.D.J Pangemanan )