CITRA
RUMAH TRADISIONAL
MELAYU
Kenyataan yang tidak dapat
diabaikan dengan adanya ilmu pengetahuan , manusia dihadapkan berbagai
tantangan . Tetapi pada sisi lain
identitas sebagai suatu bangsa haruslah kuat dan kokoh nilai – nilai budayanya
.Kekayaan dan keragaman seni budaya merupakan dasar fundamental sebagai suatu
bangsa yang kokoh .
Kehidupan manusia pada dasarnya
ingin saling berkomunikasi satu dengan lainnya dengan jalinan ini
terjadilah komunitas - sebagai wadah dari sekelompok orang yang berkeingan
hidup bersama . Hubungan ini menjembatani rasa kekeluargaan dan membentuk suatu masyarakat baru ,
sehingga berdirinya sebuah kampung .
Pola perkampungan masyarakat
Melayu tidaklah berpagar biasanya
terbuka dengan halaman , ladang maupun kebun .Dan umunya masyarakat Melayu
memilih lokasi perkampungan didaerah ditepi sungai ataupun pantai .Bahkan bentuk pola perkampungannya pun berbentuk
memanjang mengikuti alur sungai ataupun pantai .
Kekhasan lainnya bahwa pola
perkampungan tidak memiliki jalan khusus tetapi terdapat disela – sela
antar rumah saja dan bagian tengah
kampung terdapat jalan yang lurus dan lebar . Dalam pelaksanaan tata cara hidup
diatur dengan adat yang mengikat perikehidupan damn perilaku masyarakat atas
hak dan kewajibannya . Kekuasaan penghulu sangat besar ia bertindak sebagai juru damai , pemegang hukum adat ,
juru periksa dan sebagai penunut umum dan pelaksana dan menetapkan sesuatu
usaha untuk kepentingan penduduk .
Adat resam budaya yang merupakan unsur penting yang menjiwai masyarakat Melayu
,menjadi kepribadian daerah dan ditafsirkan sebagai kedaulatan rakyat dalam
kesatuan hukum .
Dalam masyarakat Melayu suatu
kampung terdiri dari 40 rumah , dengan
bentuk pola terpencar dan sebagaian ada yang berbentuk pola
berbanjar . Ada
juga sekelompok perumahan yang hanya terdiri dari 2 atau 3 rumah terletak
didaearh terpencil maka kumpulan ini dinamakan dusun yang berindukkan pada sebuah kampung .
Tempat tinggal ( papan ) dam
lingkungan bukanlah masalah baru , mungkin setelah manusia berhenti mengembara
dalam perburuan , bercocok tanam , memelihara /menjinakkan hewan , manusia
telah mempersoalkan tentang arti tempat tinggal .
Kehidupan yang demikian telah
mampu untuk mengembangkan konsep perumahan dan lingkungan dengan desain tempat
tinggal yang khas .
Hal ini dapat diamati bahwa
setiap etnis /suku yang ada di bumi nusantara ini mempunyai bentuk tempat
tinggal ( rumah adat ) yang berbeda – beda
sesuai dengan filosofis , tata karma
serta adat istiadat dari masing – masing etnis.
Bangsa Indonesia yang dikenal dengan alam
agraris mempunyai suatu keunggulan dan menemukan keseimbangan alam serta
lingkungan . Juga factor keamanan dalam
melindungi komunitasnya . Rumah bukan hanya sekadar tempat tinggal saja ,
tetapi merupakan arena komunikasi untuk penghuninya , lingkungan dan alam
sekitarnya .
Maka akan sukar membayangkan ,
umpamanya tata letak rumah Toraja terpisah dengan lingkungan dan desain sawah –
sawah , tata letak rumah Minangkabau dengan surau dan tebatnya terpisah dari
sawah – sawah , tata letak rumah – rumah Jawa dengan karang – kitrinya terpisah dengan sawah – sawahnya. Dan desain
rumah – rumah itu semua yang Toraja, yang Minangkabau , yang Jawa alangkah
tidak terpisah dari konsep kepercayaan mereka tentang jagat besar dan jagat
kecil , tentang ikatan keluarga , tentang iklim dan cuaca ( Umar Kayam ,
Arsitektur dan Keseimbangannya ,1983 )
Rumah Tradisional Melayu dalam memiliki suatu kekhasannya yang cukup
unik dan menarik dengan
filosofisnya yang bentuk ragam hiasnya memiliki
pemaknaan tentang nilai – nilai kearifan .Atap dapur yang berbentuk “ Gajah Minum” , seolah belali gajah
yang dinaikan keatas dan bagian inilah nampak jelas pada ujung atap rumah . Berbeda dengan rumah adat Mingkabau
ataupun rumah adat Batak dengan bentuk tanduk nya . Kekhasan lainnya terlihat
pada bentuk ragam hias “ Roda Labu “ yang melambangkan sumber makanan dan kekayaan
bagi masyarakat Melayu .
Mendirikan rumah Melayu mempunayi landasan pada adat resam , iklim dan syariat
Islam . Adat Resam menjadikan pola penghayatan hidup yang
teratur dan tersusun , guna memberikan ketenangan dan kebahagian seseorang , keluarga dan
masyarakat . Adat resam ini harus serasi , selaras dan seimbang terhadap
berbagai kepentingan baik untuk kepentingan pribadi maupun masyarakat .
Iklim pada hakekatnya turut berperan seba
perkampungan Melayu bersifat memajang , berbanjar mengikuti alur sungai ataupun
pantai. Dimana setiap rumah mempunyai pekaranag luas yang ditumbuhi
pepohonan buah – buahan , sehingga udaya
yang masuk ruangan rumahpun harus nyaman bagi penghuninya .
Syariat Islam , dalam mendirikan – membangun rumah yang
harus diperhatikan letak ruang lelaki dan wanita berbeda sesuai dengan norma
agama Islam .
Hal lain pengaruh iklim dan alam bahwa rumah Melayu bertiang tinggi yang
sangat berguna untuk penyelamatan dari marabahaya baik bahaya banjir, ancaman
binatang buas dan lainnya. Menghindari kelembapan yang membawa dampak kurang
baik dari factor kesehatan , ini tentunya menjadi perhatian dalam membangun
sebuah rumah .