Woman Gown
Summary rating: 1 stars
1 Tinjauan
Kunjungan:
112
kata:
600
Diterbitkan di: Februari 27, 2008
Asal Usul Gaun Putri Raja Buat Rakyat Jelata
Pernikahan adalah sebuah buku yang halaman pertamnya dibuka dengan puisi,
dan halaman berikutnya berisi prosa, “ kata Beverly Nichols, seorang pujangga
Inggris. Tak aneh jika hari pernikahan dianggap sebagai salah satu hari paling
istimewa dalam hidup setiap orang. Pada hari itu, segala sesuau harus istimewa,
termasuk baju yang dikenakan. Hari itu rakyat jelata berdandan ala pangeran dan
putri kerajaan.
Dari masa ke masa, model gaun pengantin terus berkembang. Tapi ada satu hal
yang tetap. Apa pun modelnya,s emua jenis busana pengantin umumnya meniru
busana pengantin umumnya meniru busana kebesaran kaum bangsawan setempat. Di
jawa misalnya, pasangan pengantin berdandan seperti keluarga keraton. Tak
peduli kelas sosialnya.
Sutiyem, yang setiap hari pergi ke pasar memakai jarik lusuh, saat di
pelaminan mengenakan kebaya dan bersanggul layaknya putri raja. Sedangkan
Partono, yang setiap hari pergi ke sawah memakai celana usang, di hari istimewa
itu mengenakan blangkon dengan keris di pinggang tak ubahnya putra mahkota.
Semua modal busana pengantin di setiap masyarakat dipengaruhi oleh agama
dan budaya setempat. Tapi dari sekian banyak model busana pengantian, tampaknya
yang paling populer adalah pakaian pengantin ala masyarakat Barat. Pria memakai
setelan jas lengkap. Sedangkan wanita memakai gaun putih khas putri kerajaan
Inggris. Adalah Ratu Victoria, ratu Inggris, yang membuat warna putih menjadi
warna favorit gaun pengantin. Saat menikah dengan pangeran Albert tahun 1840,
ia mengenakan gaun putih dengan rancangan cantik yang membuat para wanita
bermimpi untuk bisa mengenakan gaun serupa saat menikah.
Gaun model putri Inggris ini tidak statis, tapi terus berubah mengikuti
perkembangan zaman. Mesiki putih menjadi warna favorit, warna-warni lain tetap
punya penggemar di kalangan tertentu. Termasuk dalam budaya Barat yang masih
diwarnai kepercayaan tentang adanya hubungan antara warna gaus pengantin dan
kehidupan rumah tangga. Kata kepercayaan itu, hanya warna putih yang
melambangkan segala jenis kebaikan. Dengan warna perlambang kesucian itu. Saat
berada di pelaminan, para mempelai berharap mereka dikelilingi oleh peri-peri
cinta yang datang dari surga.
Setelah era Victoria, taip dasawarsa biasanya muncul model baru gaun
pengantin. Mulai dari model rok yang serupa tabung kerucut, lengan yang menciut
di ujungnya, hingga korset di pinggang sehingga mempelai kelihatan ramping.
Sekitar tahun 1870-an, tren gaun gaya victoria berkembang dengan dua ciri
khas, yaitu cadar dan “buntut” yang dibiarkan menyapu lantai saat mempelai
wanita berjalan. Di samping melambangkan kesucian dan keperawanan, cadar juga
dipercaya melindungi mempelai wanita dari spirit negatif?
Salah satu ciri gaun pengantin yang tak pernah berubah dari masa ke masa
adalah bunga. Selian karena alasan keindahan, bunga juga dipercaya sebagai
simbol cinta dan kesuburan. Pada era Romawi kuno, bunga juga dipakai sebagai
alat pengusir kekuatan jahat. Tak aneh jika mereka memasukkan siung ke bawang
yang baunya langu diantara rangkaian bunga-bunga yang indah dan wangi itu.
Sebagai busana hari istimewa, gaun pengantin punya fungsi utama, membuat
mempelai wanita tampak jauh lebih mempesona dari biasanya. Apa pun modelnya, gaun pengantin tak pernah
kehilangan fungsi ini. Dengan bra khusus, mempelai yang kurang tinggi bisa
kelihatan semampai. Yang berbadan gendut bisa tampak jadi sintal. Bahkan,
dengan pakaian khusus pinggul yang tepos pun bisa tampak berisi.
Saking pentingnya fungsi ini, sering unsur kenyamanan dinomorduakan. Karena
harus tampil cantik luar biasa, tak jarang mempelai perempuan sampai sulit
berjalan. Bagi mereka, tak apalah sedikit susah bergerak asalkan di hari itu
mereka bisa tampil cantik jelita bak bidadari yang baru turun dari pelangi. Toh
menjadi pengantin, Cuma sekali sumur hidup. Jika mungkin, gaun itu harus bisa
mmbuatsemua