Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Pengertian Skenario

oleh: garengpung     Pengarang : Ilham Zoebazary
ª
 
SCREENPLAY. Naskah lengkap yang menjadi bahan untuk melaksanakan produksi film. Sebuah skenario dapat dilihat melalui dua sisi. 1) Sisi fungsional, mengacu pada fungsi skenario sebagai petunjuk untuk membuat film. Skenario yang baik harus berupa blue print yang jelas sebagai rancangan untuk memproduksi film. 2) Sisi substansial, merujuk pada kekuatan sebuah skenario sebagai suatu karya tekstual yang mandiri, yang mampu menggerakkan emosi dan merangsang pikiran pembaca.

Skenario film (screenplay atau script) merupakan blue print bagi seorang sutradara dalam membuat film. Skenario yang baik harus memiliki efektivitas sebagai petunjuk pembuatan sebuah film. Film adalah bahasa gambar, maka deskripsi visual harus diutamakan. Dialog hanya digunakan dalam film apabila sarana visual tidak mampu lagi menyampaikan gagasan. Secara kronologis, tahap penulisan skenario adalah:

- penentuan gagasan/ide (basic story),

- penulisan sinopsis,

- treatment, yakni pengembangan lebih jauh terhadap sinopsis cerita,

- penulisan skenario (kemungkinan tidak langsung jadi, tetapi melalui beberapa tahap revisi, sebelum menjadi skenario final).

Berdasarkan pemilihan model bertutur, skenario film cerita dapat dikategorikan menjadi empat jenis, yakni: struktur tiga babak, mozaik, linear, dan eliptis.

STRUKTUR TIGA BABAK. Jenis skenario ini berkembang dengan baik di Hollywood. Ia mementingkan keterikatan penonton pada jalan cerita, tanpa membebaninya. Juga merupakan cara bertutur yang dianggap klasik, yaitu lewat cerita yang bergerak menuju klimaks lewat struktur tiga babak. Film yang menggunakan skenario jenis ini terbagi dalam tiga pembabakan.

Babak I (pembukaan)

- Memperkenalkan karakter tokoh dengan segenap persoalannya,

- Menghadapkan para tokoh pada problema / krisis yang seolah-olah tak bisa diselesaikannya,

- Memperkenalkan tokoh antagonis,

- Membangun alternatif yang mengerikan.

Babak II (tengah)

- Mengintensifkan problem sang tokoh dengan sejumlah komplikasi.

Babak III (penutup)

- Memecahkan masalah seperti yang dikehendaki penonton, yakni sang tokoh selamat, sukses (atau sebaliknya, nasib sang tokoh berakhir secara tragis).

Struktur tiga babak dianut hampir semua film komersial produksi Hollywood, misalnya First Blood (Ted Kotcheff, 1982), Rambo. First Blood Part II (George P. Cosmatos,1985), dan Witness (Peter Weir, 1985).

MOZAIK. Dalam skenario dengan desain mozaik, akan banyak muncul adegan yang tidak secara ketat saling berhubungan. Contoh skenario model ini adalah tetralogi karya Francois Truffaut: The 400 Blows (Les Quatre Cents Coups, 1958); Love at Twenty (L’Amour a vingt Ans, 1962); Stolen Kisses (Baisers Voles, 1968); dan Bed and Board (Domicile Conjugal, 1970). Film-film Truffaut tersebut merupakan mozaik kehidupan sehari-hari, para tokohnya bukan jagoan yang mampu mengatasi segala rintangan, namun manusia biasa. Penonton mendapat realitas, bukan dongeng. Keempat film Truffaut menunjukkan, bahwa ceritanya tidak dibuat untuk menjebak reaksi psikologi penonton. Di dalamnya, tidak terdapat faktor-faktor yang ada pada cerita dalam Struktur tiga babak. Segenap elemen filmis dimanfaatkan untuk menegaskan gagasan sutradara, dan untuk itu tidak harus selalu ada alasan langsung dengan konstruksi cerita. Dalam hubungannya dengan penulisan skenario, Truffaut berpendapat, “Karakter lebih penting daripada konstruksi, lebih penting dari apa pun dalam film.” Itulah sebabnya, bagi Truffaut, pemilihan aktor menjadi sesuatu yang sangat penting, dan aktornya merupakan faktor dominan untuk membentuk karakter dalam film.

LINEAR. Contoh untuk skenario jenis ini adalah film karya Ingmar Bergman Scenes from a Marriage. Film berdurasi 168 menit ini sebagian besar isinya berupa percakapan antara sepasang suami-istri, nyaris tanpa adegan yang diusahakan membunuh kebosanan. Penulisan skenarionya tidak diupayakan untuk menggiring reaksi psikologis penonton, seperti adanya suspense, jenjang menuju klimaks, dan penyelesaian yang tuntas. Bergman seolah menolak sebuah film menjadi manis dan menyenangkan dengan cara apapun. Ia membebaskan penonton untuk membuat tafsiran yang berbeda sama sekali. Ia hanya membeberkannya, tidak lewat pengadeganan yang bisa simbolis, melainkan melulu lewat percakapan. Dalam filmnya tersebut, penonton betul-betul hanya melihat orang bercakap-cakap lama sekali. Alur cerita bergman adalah isi percakapan itu. ELIPTIS. Skenario dengan desain eliptis diperkenalkan pertama kali oleh Akira Kurosawa melalui filmnya Rashomon. Umumnya sebuah cerita mempunyai awal dan akhir, namun dalam Rashomon awal dan akhir itu hanyalah dalam pengertian fisik, yakni ada halaman terakhir. Secara struktural, cerita dalam film ini tidak bergerak ke mana-mana. Tepatnya, setiap kali maju ia melingkar, dan seterusnya. Film Rashomon ini bercerita tentang penyelidikan terbunuhnya seorang samurai. Tiga orang saksi dihadirkan, namun ketiganya membuat kesaksian yang berbeda. Mereka bisa benar, sekaligus semuanya bisa bohong. Setiap versi yang ditampilkan para saksi bisa dianggap berdiri sendiri-sendiri, yang merupakan pengulangan tanpa kesimpulan siapa yang benar. Dengan begitu cerita Rashomon melingkar ke atas. eliptis.

Catatan:

Istilah di atas dikutip dari Kamus Istilah Televisi dan Film (Gramedia). Kamus tersebut merupakan karya langka. Sebagaimana kita tahu, di Indonesia telah berdiri sederet lembaga penyiaran televisi profesional dan sejumlah perguruan tinggi yang bergerak di bidang televisi dan film (yang terbaru adalah Program Studi Televisi & Film Fak. Sastra Univ. Jember), tapi harus diakui alangkah sulit mencari buku mengenai istilah-istilah yang biasa digunakan dalam proses produksi televisi maupun film.

Nah, buku karya Ilham Zoebazary ini memuat lebih dari 2000 entri yang bertautan erat dengan dunia televisi dan film. Di dalamnya tercakup beragam istilah yang sering digunakan dalam proses produksi program televisi dan karya film, juga beraneka istilah teknis operasional di dalam studio televisi, studio editing, penulisan skenario, hingga istilah-istilah yang biasa digunakan para ahli dalam mengkaji televisi dan film. Sebagian besar entri, khususnya yang bertalian dengan karya film, disertai contoh-contoh dengan menyebutkan judul film, nama sutradara serta tahun pembuatannya.

Diterbitkan di: 08 April, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa arti sekenario? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    Apakah film skrip sama dengan naskah drama dan termasuk kedalam sastra? ada teorinya? Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/film-and-theater-studies/2281054-pengertian-skenario/#ixzz2MnfeFbSs Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    Apakah film skrip sama dengan naskah drama dan termasuk kedalam sastra? ada teorinya? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.