BATIK MALANGAN, KERESAHAN
IDENTITAS Tepat pada HUT Kota
MALANG ke-94 pada 1 April 2008, Pemerintah Kota Malang "melahirkan"
BATIK malangan. Dari tangan tiga ahli yang ditunjuk, lahirlah batik
MALANGAN dengan motif yang Malang banget. Batik ini akan dikembangkan
dan diharapkan bisa menjadi salah satu ikon Malang. Batik malangan terinspirasi dari batik
di Malang sebelum tahun 1900-an. Motif batik
hias kala itu antara lain modhang koro (biasanya untuk motif hias udengn dan sewek), motif hias sawat kembang pring, dele kecer dengan warna hijau merah, motif kembang kopi dengan warna hitam, kembang juwet dengan biru hijau, kembang manggar dengan warna putih kuning, kembang padma (teratai). Selain dipakai oleh para raja dan permaisuri pada jaman Singasari dan Majapahit, motif hias batika biasanya juga ada pada patung-patung kompleks candi di Malang. Misalnya, motif hias ceplok pada patung Durga dan Pradnyaparamita di Singasari, motif hias sido mukti pada patung Ganesha di Singasari. Pola dasar motif ceplok mempunyai makna simbolik kehidupan manusia di jagad raya. Pada masyarakat Jawa pemaknaan simbolik kehidupan manusia itu ditunangkan ke dalam kosmografi kiblat papat lima pancer, yaitu bumi dilambangkan dengan warna hitam dan arah utara menunjukkan nafsu angongso atau serakah. Api dilambangkan dengan warna merah dengan arah selatan bersifat nafsu amarah. Angin dilambangkan warna kuning dengan arah barat menunjukkan nafsu birahi. Air dilambangkan warna putih dengan arah timur yang menunjukkan ketentraman dan kejujuran. (Simuh, 1988, dalam Darsono 2007;96). Berdasar cerita sejarah itu pemerintah kota Malang dan kabupaten Malang mencoba menggali kembali batik Malangan. Dengan lahirnya batik Malangan ini paling tidak masih ada harapan di tengah pergeseran penanda fisik kota Malang yang telah terjadi. Menurut Guru Besar Bidang Kebijakan Publik Universitas Brawijaya Malang, Prof. Solichin Abdul Wahab PhD, menuturkan bahwa kehilangan ikon merupakan kehilangan besar bagi sebuah bangsa. Layaknya kehilangan identitas dan kebanggan sosio-kultural. Harian Kompas, Jawa Timur, Malang
Sabtu, 5 April 2008
Batik Malangan, Keresahan Identitas
Dahlia Irawati
Ringkasan lain tentang BATIK MALANGAN, KERESAHAN IDENTITAS