Kingdom Mentality Kotbah dari : Timotius Arifin Tedjasukmana
Tahun 2006 adalah 100 tahun pencurahan
Roh Kudus yang kedua, yang berawal pada tahun 1906 disebuah rumah di daerah Azusa Street. Dan juga merupakan tahun yang ke 40 dari revival di Indonesia (1966).
Kita harus mempunyai mental Pemilik, dan bukan lagi mental bendahara, sebab bumi ini adalah milik Bapa kita. Kita harus memiliki mentalitas yang berbeda, mentalitas kerajaan:
1. Covenant Mentality (Mentalitas Perjanjian) – Kejadian 13 Semua orang didunia ini mempunyai perjanjian. Ketika Tuhan memerintahkan Abram untuk keluar dari keluarganya dan memberikan kepadanya suatu perjanjian. Perjanjian inilah yang membuat Abram berbeda dengan manusia lain dimuka bumi. Begitu juga setiap kita, Tuhan memberikan perjanjian yang baru bagi setiap kita. Kita memiliki perjanjian dengan Tuhan. Bagian yang harus Abram lakukan adalah meninggalkan rumahnya (menaati perintah), dan Tuhan yang menyediakan tanah perjanjian, Tuhan berjanji untuk memberkati, melindungi dan melipat gandakan, menjadikan keturunannya menjadi berkat. Walaupun pada awalnya yang kelihatan adalah Tuhan menuntun mereka keluar dari Mesir kepada padang belantara, akan tetapi Abram tetap beriman bahwa Tuhan telah berjanji dan pasti akan ditepati. Hal ini terbukti dari sikap Abram dalam menghadapi konflik atau masalah-masalah yang ada. Seorang yang punya perjanjian dengan Tuhan tidak akan takut akan masa depan, karena janji Tuhan adalah jaminan yang luar biasa. Ketika Abram berpisah dari Lot, maka Tuhan berfirman. Demikian juga bagi setiap kita saat ini, kita harus mengadakan pemisahan dengan orang-orang yang tidak membawa pengaruh baik dalam hidupmu. Dalam alkitab mengatakan bahwa harus ada pemisahan, untuk mendapatkan pelipat gandaan. Kalau saat ini anda mempunyai ke khawatiran akan hal apapun, ingatlah akan perjanjian Allah, IA tidak akan pernah mengecewakan atau mengingkar janji. Hiduplah dalam perjanjian Allah, berpegang teguhlah pada perjanjianNya. IA berjanji untuk memberkati, menguatkan, mencukupkan, menyembuhkan, melindungi, dan menyertai kita. Live by Faith and not by Sight!! (Hiduplah dengan Iman dan bukan karena penglihatan).
2. Warfare Mentality (Mentalitas Peperangan) – Kejadian 14 Hebron berarti persekutuan. Akan tetapi di Hebron ada banyak raksasa. Terkadang ketika Tuhan menuntun kita, kita dibawaNya melalui tempat-tempat yang banyak raksasanya; akan tetapi jangan hidup dengan penglihatan melainkan hiduplah dengan iman!!
Ketika Abram mendengar berita tentang apa yang menimpa Lot, maka ia mengerahkan 318 orang-orang yang terlatih!! Kita harus mempunyai Warfare Mentality, yang selalu siap dan terlatih untuk berperang. Efesus mengatakan bahwa kita harus senantiasa mengenakan perlengkapan senjata Allah. Baju Zirah keadilan (kebenaran) yang adalah hidup dalam kebenaran Allah. Perhatikan posisi anda saat ini, apakah anda hidup dalam kebenaran Allah? Jika anda mengalami disakiti, anda harus benci pada roh jahatnya tetapi sayang kepada manusianya. Kita harus siaga setiap saat bahwa hidup kita dalam peperangan rohani.
Dalam Kisah 10:38, kita dapat mempelajari sikap Kristus; kemanapun DIA pergi DIA membebaskan orang yang ditekan iblis. IA berjalan keliling sambil berbuat baik dan melepaskan orang-orang yang dijajah roh jahat, sebab Allah menyertai DIA. Kita harus memiliki warfare mentality, dan orang yang dalam peperangan dia tidak akan itung-itungan dalam maju berperang, ia akan mengerahkan senjata yang terbaik dan memberi yang terbaik yang ia miliki. Ia tidak akan mengirit peluru, melainkan akan mengerahkan sebanyak mungkin yang ia harus berikan. Peluru menggambarkan keuangan. Dalam berperang melawan iblis, jangan irit-irit dalam mengeluarkan peluru anda dalam pemberitaan injil kebenaran! Selain itu dalam mentalitas kerajaan yang benar, kita harus berusaha menghilangkan segala perbedaan yang ada untuk melawan satu musuh yang sama. Suatu kesatuan bukanlah keseragaman; dan perbedaan seharusnya tidak membuat kita terpecah-pecah. Kita mungkin berbeda dalam banyak hal, akan tetapi musuh kita sama, dan kita harus bersatu untuk melawan musuh tersebut. Yang terpenting dalam suatu peperangan adalah menyelamatkan yang tertawan. Jika kita itung-itungan dalam menyelamatkan jiwa-jiwa bagi kerajaan Allah, maka kita tidak akan pernah menang.
3. Worship Mentality (Mentalitas Penyembah) – Kejadian 14 Jangan melihat persembahan sebagai suatu kewajiban, melainkan lihatlah persembahan sebagai suatu kesempatan. Kejadian 22 meceritakan bagaimana Abraham mempersembahkan yang terbaik yang ia miliki, yaitu anaknya Ishak. Abraham mampu melakukannya karena ia memiliki covenant mentality, ia yakin dan berpegang teguh pada perjanjian Tuhan. Ia yakin Allahnya sanggup membangkitkan orang mati. Ia percaya Allah yang ia sembah akan memberikan yang terbaik baginya, sebab Allah telah menetapkan suatu perjajian dengannya. Dan Allahnya pula yang menjanjikan bahwa ia memiliki keturunan yang tak terhitung banyaknya. Worship bukanlah menyanyikan pujian yang lambat, akan tetapi worship adalah sikap hidup anda. Ketika anda memberi yang terbaik dari apa yang anda miliki itulah penyembahan, ketika anda melayani itu adalah penyembahan. Yudas menerima kebaikan Tuhan namun ia tidak menyembah Tuhan. Lain halnya dengan Maria, ia melayani Tuhan karena ia mengasihi Tuhan, ia memberikan yang terbaik yang ia miliki bagi Tuhan. Martha juga melayani Tuhan, akan tetapi ia melayani sebagai suatu kewajiban. Orang yang melayani Tuhan karena kewajiban, suatu saat ia akan mengalami kelelahan. Maria memberikan penyembahan yang terbaik bagi Tuhan, karena ia memiliki sikap hidup yang benar. Kalau anak-anak Tuhan mempunyai mentalitas penyembahan, maka hidup mereka akan diubahkan!! Bagaimana kita memberi menunjukan mentalitas yang kita miliki.
4. Harvest Mentality (Mentalitas Menuai) – Kejadian 14 Kita harus punya mentalitas menuai. Seperti halnya pola pikir agraris, kita harus memiliki mentalitas seperti itu, dimana pada saat menuai mereka tidak hanya melibatkan orang-orang dewasa yang masih muda, melainkan juga anak-anak dan juga orang tua, bahkan mereka juga mengundang tetangga dari desa sebelah untuk ikut menuai bersama-sama.
Abram mengumpulkan teman-teman sekutu sebanyak mungkin untuk menuai. Yohanes 4:34 - Yesus memiliki mentalitas penuai. Kita harus menyediakan gudang sebesar-besarnya karena inilah saatnya kita harus menuai tuaian yang begitu besar. Inilah saatnya kita menjadi penuai akhir jaman!! Milikilah mentalitas penuai, yang mengutamakan keselamatan jiwa!!