Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Arts>Latar Belakang Lahirnya Pujangga Baru

Latar Belakang Lahirnya Pujangga Baru

oleh: bondot    
ª
 
Dari awal abad ke-10, orang pribumi negara Hindia Belanda mulai menjadi bersemangat nasionalisme tinggi, yang diwujudkan dengan terbitnya beberapa publikasi nasionalis. Armijn Pane, Amir Hamzah, dan Sutan Takdir Alisjahbana (STA), tiga penulis dari Pulau Sumatra, memulai proses pembentukan majalah baru pada bulan September 1932. Mereka menngirimkan surat kepada 40 penulis yang aktif dalam bagian sastra dari koran Pandji Poestaka dan meminta tulisan, serta sepuluh surat kepada para sultan untuk meminta dukungan. Setelah kontrak dengan penerbit milik Belanda Kolff & Co. tidak dapat terwujudkan, para pendiri bersepakatan untuk menerbitkan majalah mereka sendiri. Majalah yang dihasilkan, Poedjangga Baroe, diterbitkan untuk pertama kalinya pada bulan Juli 1933. Selama masa terbitnya, majalah itu mencakupi ruang gerak yang semakin luas dan lebih banyak memuat tulisan berbau politik. Setelah kekaisaran Jepang mendudukan Nusantara pada tahun 1942, majalah ini pun tidak dapat diterbitkan. Suatu majalah lain dengan judul Pudjangga Baru diterbitkan dari tahun 1948 sampai 1954.

Secara ideologis, majalah Pujangga Baru mendukung negara yang modern dan bersatu di bawah satu bahasa, yakni bahasa Indonesia. Namun, pandangan budaya dan politik para penulisnya membuat pendirian majalah ini kurang tetap. Untuk menjamin kenetralan politiknya, Pujangga Baru memuat tulisan dari segala macam teori politk. Dalam pembahasannya mengenai budaya, majalah ini menerbitkan polemik-polemik yang bertentangan mengenai pentingnya budaya Barat dan tradisi untuk perkembangan negara yang terbaik.

Selama sembilan tahun terbit, Pujangga Baru menerbitkan 90 edisi, yang memuat lebih dari tiga ratus butir puisi, lima buah drama, tiga buah antologi puisi, sebuah novel, berbagai esai, dan beberapa cerpen. Publikasi ini yang tidak pernah mempunyai lebih dari 150 langganan, mendapatkan resepsi yang tercampur. Penulis muda memuji-mujinya karena dianggap mencerminkan keadaan sosio-politik pada zaman itu, sementara orang Melayu yang tradisionalis menolak penggunaan bahasanya, yang dianggap merusak ciri khas bahasa Melayu.
Diterbitkan di: 06 Mei, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.