Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Saija DAN ADINDA

oleh: buYett     Pengarang: Multatuli; terjemah HB Jassin
ª
 
SAIJA DAN ADINDA
( Bab XVII Max Havelaar )
Saija bersama ayah,ibu dan adik-adiknya tinggal di desa Badur, Parangkujang, Bantam.Begitu juga Adinda, gadis yang sudah dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Masa kecil yang menggembirakan berakhir ketika ayah Saijah tidak bisa membayar pajak tanah sehingga kerbaunya dirampas oleh kepala distrik. Ia diam-diam pergi ke Bogor setelah peninggalan orang tua dan mertuanya habis terjual karena harus memenuhi kewajiban cultuurstelsel, tetapi ia dihukum karena pergi ke Bogor tanpa surat pas,dan dikembalikan lagi ke Badur dan dipenjarakan. Tidak lama di penjara ayahnya meninggal sementara ibunyapun meninggal karena menderita. Ketika ayahnya pergi ke Bogor, Saijah yang berangkat remaja tidak mau ikut ayahnyake Bogor, ia mempunyai rencana sendiri yaitu ke Betawi. Ia mau mengumpulkan uang dengan menjadi jongos di Betawi. Saijah meminta Adinda untuk menunggunya. Ia akan pulang setelah 3 kali 12 bulan. Adinda akan menandai lesungnya dengan sebuah guratan setiap bulan purnama.Mereka berjanji akan ketemu di hutan jati, dibawah pohon ketapang, tempat Adinda pernah membrinya bunga melati.
Waktu yang dijanjikan tiba, Saija pulang ke desa Badur,Parangkujang. Ia menanti Adinda di hutan jati di bawah pohon ketapang,tetapi Adinda tidak datang.Hari semakin tinggi, Adinda belum juga datang. Ia melihat bajing berlompatan mencari makan, ia juga memperhatikan kupu-kupu yang beterbangan mencari bunga kenari, tetapi Adinda belum juga datang. Matahari sudah hampir tenggelam, yang dinanti belum juga datang. Khawatir terjadi sesuatu kepada Adinda,maka Saija menghambur lari masuk ke desa Badur menuju rumah Adinda tetapi rumah itu dan rumahnya tidak ditemukan. Ia tidak mendengar orang memanggil-manggil namanya,karena pikirannya hanya tertuju kepada Adinda. Ia tidak mendengar bahwa ayah ibunya sudah meninggal, adiknya entah kemana, ibu Adinda telah meninggal juga karena sedih setelah kepala distrik merampas harta mereka. Ia juga tidak memperhatikan cerita bahwa ayah Adinda mengajak anak-anaknya meninggalkan Badur karena tidak bisa lagi membayar pajak tanah dan mereka melarikan diri ke Lampung, Ia tidak mendengar….hanya berlarian hilir mudik sambil berteriak dan tertawa sehingga dikira gila. Seorang perempuan tua membawanya ke rumahnya. Ia tidak lagi berteriak-teriak tetapi sesekali ia mengejutkan penghuni pondok itu jika ia menyanyi tanpa nada:”tidak kutahu dimana ku kan mati” . suatu malam ketika bulan purnama ia keluar rumah menuju tempat dimana dulu Adinda berdiam. Tersaruk-saruk diantara reruntuhan tiang dan dinding bambu setengah lapuk dan kepingan-kepingan atap . Keesokan harinya ia tanyakan kepada perempuan yang merawatnya, dimana lesung Adinda. Setelah ditemukannya ia melihat guratan-guratan yang ada pada lesung itu. Dihitungnya ada 32 guratan pada lesung itu.
Ia meninggalkan Badur, di Cilangkahan dibelinya sebuah perahu nelayan kemudian berlayar menuju Lampung. Karena disitulah Adinda beserta keluarganya berada,kata orang-0rang Badur. Di Lampung sedang terjadi pemberontakan. Mereka yang tertindas oleh sistem cultuurstelsel melakukan perlawanan terhadap Belanda. Saija mengembara di desa yang baru saja diserang pasukan belanda,ia tahu orang-orang yg diserang Belanda itu sebahagian besar berasal dari Bantam. Ia berkeliling seperti hantu di rumah-rumah yang belum terbakar seluruhnya.Ia menemukan mayat ayah Adinda dengan luka kena klewang di dada. Di sampingnya ketiga adik adinda ,masih anak-anak, tewas terbunuh. Dan agak kesana…..nampak mayat Adinda, telanjang, teraniaya dengan cara yang mengerikan……ada sepotong kain warna biru masuk kedalam luka yang terbuka di dadanya.
Saija menyongsong serdadu yang dengan bedil terkokang menghalau sisa-sisa pemberontak kedalam rumah-rumah yang sedang terbakar. Saija mendekap bayonet-bayonet para serdadu, mendorong ke depan dengan penuh tenaga dan masih berhasil mendesak serdadu-serdadu itu dengan tenaga yang penghabisan sebelum gagang-gagang bayonet tertumbuk pada dadanya……………………………………

Diterbitkan di: 04 Februari, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    Dimana saya bisa mendapatkan bukunya.... Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    D Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    saija dan adinda tidak mencerminkan nama asli orang/suku yang ada pd daerah tersebut. sedangkan kita pd tahu rangkasbitung khususnya adalah orang sunda. Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.