Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Arts>Seribu Tahun Nusantara, Si burung merak

Seribu Tahun Nusantara, Si burung merak

oleh: gimut     Pengarang: Bakdi Soemanto; Editor: J. B. Kristanto
ª
 
Menikmati karya-karyanya secara keseluruhan, orang akan dapat melihat dengan gambalang bahwa hidup Rendra sebagai pencipta tampak utuh. Kumpulan sajaknya sangat berbeda dengan puisi ngetren pada 1950-an. Ballada Orang-Orang Tercinta merupakan puisi yang bercerita.yang ditulisnya tatkala umurnya 17 tahun. Dan pada lakon Orang-Orang di Tikungan Jalan yang ditulis pada umur 19 tahun. Begitu pula pada karya lain, misalnya Mastadon dan Burung Kondor, Panembahan Reso, Suku Naga, pada teks pidatonya ditemukan sajak-sajak yang diselipkan. Sementara itu cerpennya, seperti Ia Sudah Bertualang, Hutan itu, Dua Jantan tidak hanya merupakan fiksi pendek yang bercerita, tetapi sekaligus menyentuh tenaga-tenaga puitisnya.
Mulai tahun 1970-an Rendra menulis puisi pamflet, menampakkan diri sebagai analisis keadaan masyarakat di sekelilingnya .Pamflet itu hadir dengan gaya naratif, dan tampak disana dia sebagai penyair menjelaskan kepenyairan dalam bentuk prosa dan dia sebagai pemikir menuliskan pikirannya dalam bentuk puisi. Ada keprihatian di sana, kadang kekesalan dan putus asa tapi juga ada di situ semangat mempertahankan martabat dan daya hidup yang tak kunjung padam.

Ia barngkali memang tepat disebut si Burung Merak, yang tidak hanya ngigel, memamerkan keelokan bulu-bulunya, tetapi juga menari dan menari tidak putus-putusnya. Dijelaskan olehnya dengan gamblang bahwa kumpulan puisinya menandai pergulatannya dengan situasi dirinya dan zamannya. Melakoni dan menghayati perkembangan bentuk seni yang beragam dengan disiplin untuk tidak mengabdi pada bentuk seni tertentu. Harus menguasai daya kekuatan seni yang beragam untuk mampu melayani kebutuhan dinamisme isi rohani dan pikirannya. Dalam mencipta Rendra selalu dalam keadaan apolonik, dia senantiasa merefleksikan kembali apa yang sudah dilakukan.
Tatkala Rendra terpukau dengan lakon-lakon pendek hasil terjemahan atau adaptasi, seperti Hanya Satu Kali, Hai Yang di Luar, Tanda Silang, Lawan Catur, dan Pinangan. penampilannya sebagai aktor di panggungsudah diakui memukau. Di balik tubuhnya yang kurus dan kecilserta wajah yang cantik, menyimpan kemampuan akting, daya pikir, dan kekuatan fisik yang sangat kuat. Dikatakan bahwa Willy dapat menghidupkan setiap pengadegan, bukan hanya tatkala berdialoh dengan lawan bicaranya, melainkan juga relasinya dengan meja, kursi, kostum segala dan akting Rendra di mata penonton awam sangat wajar.
Dapat dikatakan, kepenyairan Rendra adalah jagat dalamnya, keaktorannya adalah jagat luarnya. Kepenyairan dan keaktoran itu menyatu dalam dirinya, sehingga dalam sajaknya terbaca unsur-unsur action yang dramatik; sebaliknya, dalam keaktoran, kederamawan serta keteaterannya, terbaca kepenyiarannya.

Dibentuknya Bengkel Teater dengan hasil pentas Menantikan Godot merupakan produksi terbaik selain Kereta Kencana, Oidipus Sang Raja, Kasidah Berjanzi, Dunia Azwar, dan lain-lain.

Gimut. Jakarta 25 Nopember 2009

Diterbitkan di: 25 Nopember, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.