• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Arts>Sunat Tradisional Leluhur Suku Karo

.

Sunat Tradisional Leluhur Suku Karo

oleh : gimut     

Pengarang : Dame Munthe
  SUNAT TRADISIONIL LELUHUR SUKU KARO

style="text-align: justify;">



Magin tinggal di Medan, umurnya 14 tahun.
Layaknya remaja laki-laki sebaya dia di lingkungan permainannya, telah disunat.


Magin pulang kampung yang
terletak di lereng gunung Sinabung. Libur sekolah digunakan untuk mengunjungi
Iting, nenek kesayangannya yang tinggal di rumah adat Suku Karo. Delapan
rumahtangga tinggal di rumah adat itu. Salah satunya Iting yang tinggal
sendirian.


Menjelang malam, Iting dan
Magin makan berdua. Iting pakai piring kaleng, Magin diberikan capah.
Tangan kiri Iting menggapai belut kering  yang
sengaja digantung dibawah para-para. sebagai lauk utama dengan
sambal enak buatan Iting.
Habis makan, habis
berbincang rindu, Magin permisi ke luar. Seperti remaja laki-laki di rumah adat
itu, semua keluar menuju lumbung padi tempat biasanya mereka  tidur.
Sekaligus kelompok ini merupakan geng istilah masa kini. Di sanalah Magin
ketemu Gindo yang menerangkan teknik sunat tradisionil leluhur Suku Karo.
Diterangkannya takkala mereka berdua mandi kesungai. Hanya mereka berdua
disana, karena hari sudah siang.


Diambilnya sobekan daun
pisang. Digulung selingkaran buah pisang.
“Ini bagian ujung burung”.  Katanya, maksudnya bagian kulupnya laki-laki
yang dipegangnya dengan ibu jari dan telujuk tangan kiri.. Kemudian tangan kanannya
membentuk gunting, jari telujuk di  atas
dan jari tengah di bawah. Formasi gunting membelah lingkaran daun pisang bagian
atas.
“’Gunting dibuat dari lidi
daun enau. Lidinya dibersihkan, diserut dengan pisau dan kemudian dipotong  kurang lebih 5 cm”. Diambilnya ranting sebagai
alat peraga dan lanjutnya.
“Lidi ini dibelah
sepanjang 3 cm” Kukunya bergerak dari ujung yang satu menuju bagian tengah
ranting..
“Bagian lidi yang terbelah
diserut lagi hingga berbentuk segitiga memanjang baik belahan yang satu maupun
belahan yang kedua. Permukaan yang tajam belahan lidi saling bertemu.” Magin
dengan seksama memperhatikan, dan lanjut Gindo.
“Dari bagian lidi yang
utuh, kemudian geser ½ cm bagian terbelah, dipasang benang pengikat. Tapi
jangan diikat mati. Supaya nantinya setiap pagi ikatannya bisa dikencangkan”
“Tidak sakit, Bang”
“Ah … lebih sakit digigit
semut merah” Jawab Gindo dengan senyum.
Ada darahnya, enggak bang”

“Enggak ada, kayak pohon dililit kawat, mana ada getah
yang keluar”.
“Jadi
enggak dipotong, ya bang?”
“Tidak”
kata Gindo.
“Hanya
dibelah” sahut Gindo, kembali
memperagakan bundaran daun pisang yang dibelah bagian atasnya.
“Seandainya
bagian yang terbelah ini, dijahit, ya kembali seperti bentuk semula” tegas Gindo.
“Pagi
dan sore sehabis mandi diolesi air kunyit sekitar kulup yang dicepit maupun
lidinya”.
“Berapa
dalam dicepit, bang?”.
“Dua
cm juga cukup, tergantung lah” jawab Gindo, langsung terjun ke sungai, diikuti
Magin.


Magin
kembali ke Medan
langsung praktek.
Lidi
enau penjepit disiapkan dan direndam dalam air kunyit, lalu dipasang sesuai
petunjuk Gindo. Seluruh permukaan kulup diolesi air kunyit.
Esoknya
di pagi hari. Sehabis mandi, ikatan dikencangkan dan  diolesi air kunyit kemudian pergi ke sekolah
tanpa memakai celana dalam.


Pagi
hari kedua, ketiga, keempat, dilakukan hal yang sama.
Pagi
hari kelima, lidi penjepit melekat hanya pada satu sisi, diolesi dan pergi ke
sekolah.
Pulang
dari sekolah lidi penjepit sudah tidak ada.
Magin
bingung, tak tahu jatuh di mana.
Magin
ingat Gindo. Lalu ketawa sendiri.



Agar sopan dan bagus
kedengaran maka sunat dalam suku Karo disebut “Milasi sinuan dilaki"  terjemahan bebas

“Memper Indah bentuk bibit lelaki”


Bijak
juga leluhur yang bermukim di Tanah Karo, Sumatera Utara. dikandung
makna leluhur melakukan sunat tradisionil.

Supaya  kelak bila dia menikah, bahagia laki bini
dalam  bercampur. Tak ada yang kurang,
seperti syayur yang komplit dan mantap rasanya.
Begitulah kata senior kepada remaja
laki berinteraksi di lumbung padi.


Sunat
dilakukan remaja laki-laki Suku Karo tanpa ada berita, orang tua kandung pun biasanya
tidak tahu.
Sunat masa kini, tentu lebih baik dilakukan oleh Dokter Spesialis
Bedah. Aman dan sehat.



Dame
Munthe

Duren Sawit,  26072009


 
Capah. tempat makan terbuat dari
kayu.  Bundar dua kali piring masa kini.

Para-para, bagian atas dapur tradisionil Suku Karo untuk
menyimpan dan mengawetkan cadangan makanan.


Diterbitkan di: Juli 27, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.