Dubai, salah satu kota besar di Uni Emirat Arab ternyata mempunyai sebuah harta karun yang tidak kalah dengan Opera House
di Sidney atau Menara Eiffel di Paris. Harta karun itu berupa sebuah
hotel yang super
mewah, Burj Al Arab.
Burj Al Arab, menjadi hotel yang super mewah, selain karena desainnya juga karena fasilitas yang diberikan pada konsumen.
Desain bangunannya dikerjakan oleh Tom Wright, arsitek dari biro konsultan arsitek, konstruksi, dan bisnis, Atkins. Bentuknya mengadaptasi dari bentuk layar dhow (perahu tradisional Arab), dibangun pada sebuah pulau buatan yang terletak 280m dari bibir pantai Jumeirah. Bangunannya setinggi 321m dan pada ketinggian sekitar 210m terdapat helipad selebar 24m. Burj Al Arab mempunyai atrium tertinggi di dunia, mencapai 180m.
Orang-orang yang bisa masuk ke dalam hotel ini hanya tamu yang menginap dan pengunjung restoran yang sudah reserfasi. Kendaraan pun tidak boleh sembarangan masuk, disediakan mobil golf untuk tamu yang tidak membawa kendaraan sendiri.
Hotel ini hanya mempunya 202 kamar, dengan kamar terkecil berukuran 169 meter
2 dan terbesar mencapai 780 meter
2. Interior kamar merupakan perpaduan Timur dan Barat, kamar mandi setara dengan ruang spa, dan lantai serta dindingnya dipenuhi mozaik yang membentuk pola lantai dengan bentuk geometris khas arab.
Burj Al Arab dilengkapi dengan 2 restoran yang super wah. Restoran pertama bernama Al Mahara yang berarti tiram, untuk masuk pengunjung diantar dengan simulasi kapal selam yang membuat seakan-akan seperti menyelam di laut. Restoran kedua bernama Al Muntaha yang artinya tertinggi, terletak di ketinggian 200m dan untuk mencapainya digunakan lift dari kaca. Dari Al Muntaha ini tamu dapat menikmati pemandangan kota Dubai yang indah.
*Bintang Home, edisi 134/minggu k-4 Oktober 2008,Hal 18-19