Kelapa Sawit dan Orang Dayak
Summary rating: 4 stars
4 Tinjauan
Kunjungan:
306
kata:
300
Diterbitkan di: Mei 16, 2007
Kini sudah jutaan hektar hutan dan tanah masyarakat Dayak di Kalimantan telah dirubah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit demi melaksanakan tuntutan dunia akan minyak kelapa sawit. Kebutuhan tersebut sangat meningkat di pasar dunia. Banyak perusahaan berlomba untuk menanam kelapa sawit di berbagai daerah di Indonesia yang dianggap berpotensi, baik dari kalangan pemerintah maupun swasta. Tidak sedikit pula diantaranya yang meminjam uang dari negara-negara di Eropa dan Bank Dunia untuk memodali usaha tersebut karena dianggap menjanjikan. Tetapi tahukah kita bahwa banyak perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan melakukan kegiatannya diatas penderitaan dan air mata orang Dayak. Tanah ratusan bahkan ribuan hektar milik warga dirampas dengan taktik dan politik yang tidak adil. Banyak diantara warga lokal yang menolak perluasan kelapa sawit ditangkap dan bahkan dibunuh seperti pada kasus Adeng di Jangkang Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat Indonesia. Selain itu tidak ada penyerapan tenaga lokal di perusahaan perkebunan apalagi jabatan taktis. Banyak tenaga pendatang yang bekerja dibagian strategis perusahaan dan di kantor-kantor. Pola perkebunan yang ditawarkan kepada rakyat adalah 80% dipegang perusahaan dan hanya 20% saja dipegang masyarakat artinya kebun tersebut dibagi dengan porsi 80:20. Pembagian ini tentu tidak mensejahterakan. Dulu tahun 1990 -1998 penghasilan kelapa sawit masyarakat mampu menghasilkan Rp 1.000.000,- rupiah per bulan, kini hanya Rp 250.000,- rupiah perbulan dan itupun kalau buahnya ada. Kini tidak semua pohon menghasilkan buah sawit karena sudah tua dan tidak produktif lagi. Penanaman kembali atau replanting hanya dilakukan pada kebun inti atau kebun milik perusahaan bukan pada kebun rakyat atau plasma. Jadi dimana konsep pemberdayaan dan kesejahteraannya? Jawabannya, tidak ada. Sebaiknya kebun sawit meneyertakan masyarakat sebagai pemilik modal dan pemegang saham perusahaan karena mereka punya tanah untuk land clearing. Jangan lagi menggunakan konsep lama dan taktik politik yang bermaksud menydutkan masyarakat serta tidak mensejahterakan.