Kenyataan bahwa Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang berlimpah dan memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang paling
tinggi di dunia. Sebagian besar spesies yang ada di dunia ini bisa ditemukan di Indonesia, 17% jenis ikan di dunia, 25% tanaman berbunga, dan unggas-unggasan. Sebenarnya tanah air yang kita huni ini sudah nyaris seperti “neraka”. Sebab kekayaan ibu pertiwi ini sudah terkuras, terbakar dan diobral oleh segelintir orang. seperti dilaporkan bahwa hutan-hutan gundul laju deforestasi (penggundulan hutan) di Indonesia termasuk yang paling tinggi yakni 2 hingga 2 1/2 persen per tahun. Seperti dikutip Walhi dalam World Resource Institute (1997) dikatakan bahwa luas hutan alam asli Indonesia menyusut dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 persen. Laju kerusakannya pada periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta Ha per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta Ha per tahun. Ini menjadikan Indonesia salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Berdasarkan citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta Ha hutan dan lahan Indonesia yang rusak, 59,62 juta Ha diantaranya berada di kawasan hutan.
. Dan terumbu karang terancam punah dilaporkan pula bahwa hanya 8% yang masih dalam kondisi baik artinya 92% sudah dalam kondisi rusak berat, dan sawah mulai hilang diganti dengan tembok dan beton. Kondisi kerusakan ini sepertinya tidak bisa dikurangi atau ditahan, malah sebaliknya terus bertambah. Namun dari semua masalah yang memprihatinkan ini, secara sektoral masalah yang paling parah adalah air dan udara. Indonesia diprediksikan akan mengalami krisis air makin parah di tahun-tahun yang akan datang. Kenyataan sudah membuktikan bahwa masyarakat kita sekarang benar-benar mengalami krisis air. Pulau Jawa sejak tahun 1995 telah mengalami defisit air sebanyak 32,3 miliar meter kubik setiap tahunnya. Maka sebagian besar kawasan Indonesia telah menjadi rentan terhadap bencana. Sejak tahun 1998 hingga pertengahan 2003, tercatat 647 kejadian bencana di Indonesia, dimana 85% dari bencana tersebut merupakan bencana banjir dan longsor yang diakibatkan kerusakan hutan . Ketika musim kemarau kita mengalami kekeringan dan sulit mendapatkan air bersih. Itu baru musim kemarau di mana kita mengarapkan agar segera turun hujan untuk mengatasi krisis kekeringan namun ketika hujan tiba pun masalahnya tidak selesai karena di beberapa daerah malahan terjadi banjir. (Bdk dengan pendapat Longgena Ginting dalam Gerbang Majalah Pendidikan Edisi 12 Th. II Juni 2003).
Akar permasalahan kerusakan lingkungan hidup di Indonesia bahwa pertama, negara sebenarnya kita sudah gagal menyelenggarakan model pengelolaan sumber daya alam yang lestari dan berkelanjutan (sustainanble). Kita seharusnya berpikir untuk pengeloaan sumber daya alam yang mementingkan generasi mendatang. Kedua, Korupsi, yang merajalela di negeri kita membuat banyak orang menggunakan moral hazards, kesempatan kolusi antara pejabat dan pengusaha sehingga tidak adanya keputusan yang mementingkan kepentigan umum namun hanya mengedapankan kepentingan kelompok tertentu yang akan mendapat untung. Ketiga, Kebijakan ekonomi yang lebih beriorientasi pada pasar, pertumbuhan ekonomi, devisa dan sebagainya. Kebijakan ini bersifat dualistis di mana di satu sisi meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi negatifnya adalah mendorong tingkat eksploitasi tinggi yang pada akhirnya akan mendorong kerusakan lingkungan hidup. Kasus yang paling santer adalah kasus Porong, Sidoarjo saat ini di mana kita kebingungan untuk menghentikan luapan lumpur dan ke mana akan membuang lumpur itu. Membuang lumpur saja menimbulkan akibat lanjut yang tidak dapat diperkirakan. Kita belum bisa memastikan apa saja dan berapa banyak akibat negatif yang akan ditanggung masyarakat setempat dan anak cucunya?
Dalam hubungan dengan kebijakan pembangunan ekonomi, pembangunan ekonomi seharusnya menjadikan pembangunan berkelanjutan sebagai pertimbangan utama. Karena dilihat dari konsep pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, maka suatu pembangunan harus mementingkan 3 aspek, yaitu aspek ekonomi, lingkungan dan aspek sosial. Apakah kebijakan pembangunan kita selama ini kurang mementingkan bahkan mengabaikan aspek lingkungan dan sosial sehingga lingkungan kita semakin rusak? Harus diakui bahwa ada perkembangan yang cukup baik. Pemerintah sekarang sudah mulai mempertimbangkan masalah lingkungan hidup. Namun yang dilakukan sampai sekarang masih belum cukup untuk mendorong proses pembangunan yang lebih pro pada lingkungan atau berwawasan lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa berbagai kebijakan yang ada tidak menjadikan aspek lingkungan dan sosial sebagai prioritas, tapi aspek ekonomi yang selalu menjadi prioritas.
Tanggung jawab generasi saat ini tidak hanya, - membenahi lingkungan hidup saat ini khususnya tentang dunia kehutanan di Indonesia-, akan tetapi perlu membangun generasi yang akan datang agar dapat mengelola lingkungan dan sumberdaya alamnya secara lentari, termasuk mempersiapkan para ahlinya, agar program tersebut dapat berkembang serta menyebar merata keseluruh seantero Indonesia.
Bidang pendidikan adalah dunia yang dinilai strategis dalam pembangunan, karena itu, Negara maju sebesar Amerikapun masih mengembangkan bidang ini termasuk sektor pendidikan lingkungan, tentunya bagi Indonesia yang kita bisa rasakan masih jauh dari maju, mungkin dunia pendidikan kita merosot, perlulah kiranya, kita membangun lebih giat lagi sektor pendidikan ini.
Untuk mengatasi amburadulnya sektor lingkungan hidup, dan kehutanan Indonesia yang porakporanda, - penebangan liar yang memberikan kontribusi yang paling banyak akan rusaknya hutan di Indonesia, yang berdampak pada lingkungan hidup, perlu kita atasi sejak dini, melalui pendidikan demi tercapainya kesadaran yang tinggi akan perlunya lingkungan hidup yang baik untuk kepentingan kita dan anak cucu kita. Itu berarti perlu didorong agar pendidikan formal juga makin terbuka untuk masalah yang riil dihadapi oleh masyarakat, khususnya masalah lingkungan. @@@