• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Menjadi Muslim di Barat

.

Menjadi Muslim di Barat

oleh : pungki    

Pengarang : Zuhairi Misrawi
Bagi orang-orang Muslim, menjadi kelompok minoritas di Barat sebenarnya bukanlah sebuah ancaman. Mereka justru dapat menikmati
aroma kebebasan dan penghargaan terhadap keragaman.
Bahkan, dalam pelbagai riset dinyatakan, populasi orang-orang Muslim di Barat, khususnya di Eropa dan Amerika, mengalami perkembangan yang cukup pesat. Disinyalir bahwa Islam menyodok sebagai peringkat kedua terbesar agama-agama di dunia. Diana L Eck menyatakan bahwa Amerika bisa disebut sebagai “Dunia Islam” karena besarnya jumlah umat Muslim dari tahun ke tahun. Uniknya, peningkatan jumlah tersebut terjadi setelah Tragedi 9/11.
Akan tetapi, di sisi lain, satu hal yang tidak bisa dimungkiri, bipolarisasi “Islam” dan “Barat” telah menjadi momok tersendiri. Pascatragedi 9/11, kalangan Muslim di Barat masih mencium aroma diskriminasi. Ada apa sebenarnya di balik ini semua? Lalu apa yang semestinya dilakukan oleh orang-orang Muslim untuk menghadapi diskriminasi tersebut?
Menurut Waleed, jika di masa lalu ada beberapa tokoh, seperti Hilderbert dan Duke Eudes, di masa kini juga terdapat Bernard Lewis, Samuel Huntington, Ibnu Warraq, dan Robert Spencer. Mereka ini mempunyai pandangan yang amat negatif terhadap Islam, terutama terhadap tokoh-tokoh kunci dalam Islam. Pandangan mereka tentang Nabi Muhammad SAW, misalnya, terlalu jauh dari konteks, bahkan terkesan antipati.
Hal-hal tersebut sejatinya harus mendapatkan perhatian dari para pemerhati masalah-masalah keislaman di Barat. Aroma kebebasan berpendapat sejatinya tidak menjadi momok negatif yang justru meninggalkan dampak negatif bagi relasi orang-orang Muslim dengan Barat.
Kendatipun demikian, Waleed juga ingin memberikan pencerahan bagi kalangan Muslim bahwa sikap Barat terhadap Islam tidak semuanya negatif. Sebab sejak abad ke-18, sikap simpati terhadap Islam sebenarnya sudah dimulai oleh Voltaire. Menurut Voltaire, Nabi Muhammad SAW adalah tokoh pemikir politik yang ulung. Islam adalah agama yang rasional. Bahkan, ia menyatakan, pemerintahan Islam lebih toleran bila dibandingkan dengan pemerintahan Kristen pada zaman itu (hal 23).
Tidak hanya itu, sikap simpati terhadap Islam pada zaman kontemporer sebenarnya juga ditunjukkan oleh sejumlah tokoh, seperti Jhon Esposito, guru besar studi keislaman di Universitas Georgetown, Amerika Serikat. Di samping itu, ada seorang perempuan Katolik yang mempunyai sikap simpatik terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW, yaitu Karen Armstrong.
Sedangkan dalam perspektif sejarah Islam, menurut Waleed, kendatipun terdapat perbedaan yang sangat tajam antara teologi Islam dan teologi Kristen, seperti pandangan Islam tentang konsep trinitas, tetapi fakta lain justru menunjukkan sikap toleransi yang patut diapresiasi, terutama oleh Dinasti Muslim pada waktu itu. Di antara kalangan Kristiani diangkat oleh khalifah untuk menduduki posisi strategis di pemerintahannya. Ada yang diangkat sebagai psikolog, arsitek, ahli mesin, dan penerjemah khalifah (hal 32).
Dalam hal ini, memahami realitas pergumulan antara kalangan Muslim dan “Barat” tidak sepenuhnya disebabkan oleh “yang lain”, melainkan juga disebabkan oleh negativitas yang dirasakan oleh kalangan Muslim sendiri. Perasaan sebagai “korban” telah menyebabkan sebagian kalangan Muslim sebagai komunitas yang terasing dan tertindas.
Fakta sosiologis ini dapat menjelaskan dengan sangat baik tentang perbedaan antara kalangan Muslim yang hidup di Barat dan kalangan Muslim yang hidup di negara-negara Muslim. Mereka yang hidup di Barat pada umumnya adalah kalangan terpelajar dan mapan secara ekonomi. Di samping itu, mereka merasakan betul manfaat dari kebebasan dan demokrasi yang diterapkan di Barat.
Olivier Roy menulis di majalah Newsweek bahwa orang-orang Muslim yang hidup di Barat lebih moderat dibandingkan orang- orang Muslim yang hidup di Arab. Lebih dari itu, mereka yang di negaranya dicap sebagai kelompok radikal justru dapat hidup di Barat dengan nyaman dan tenang. Misalnya, aktivis Ikhwanul Muslimin yang dilarang di Mesir, mereka justru dapat menghirup udara segar di Eropa. Mereka dengan lantang dapat berbicara di stasiun berita Al Jazeera, menyampaikan kritik mereka terhadap Pemerintah Mesir lebih bebas dibandingkan berbicara lantang di tempat kelahirannya.
Dalam hal ini, faktor sosiologis juga mempunyai peranan penting dalam membangun sikap keberagamaan. Menjadi kelompok minoritas akan membangun sikap keberagamaan yang lebih empatik, apalagi mereka dilindungi oleh kelompok mayoritas. Sebaliknya, mereka yang menjadi kelompok mayoritas kerap kali merasa selalu “kalah dan dikalahkan”. Kondisi sosial ekonomi dan sosial politik yang karut-marut kerap kali menjadikan konflik sebagai salah satu bentuk eskapisme, terutama konflik antaragama. Karena itu, bilamana menelusuri pelbagai konflik antaragama yang terjadi di dunia Islam pada hakikatnya mempunyai motif-motif primer, yaitu sosial-ekonomi dan sosial politik.
Mempertentangkan antara Islam dan Barat merupakan suatu pandangan yang salah kaprah karena di satu sisi keduanya tidak bisa disimplifikasi dalam identitas soliter. Di sisi lain, kalangan Muslim yang hidup di Barat mendapatkan perlakuan hukum yang sama. Mereka lebih bisa merasakan nikmatnya persamaan daripada mereka yang hidup di negara-negara Muslim. Sebab itu, menurut Waleed, mempertentangkan antara Islam dan Barat merupakan sebuah sikap arogan dan tak menunjukkan sikap simpati terhadap persamaan hak.
Pandangan seperti ini terbilang jarang karena pada umumnya tidak banyak orang Muslim yang memberikan testimoni tentang eksistensi mereka di Barat. Pada umumnya orang-orang Muslim di Barat menjadi kelompok silent minority, yang memilih tidak mengibarkan bendera agamanya secara terang-terangan di depan publik karena khawatir pandangan kalangan orientalis bangkit lagi dari kuburannya.
Atas dasar itu, buku ini mendapatkan respons yang amat baik bagi masyarakat non-Muslim di Australia karena image Islam pada umumnya sudah kadung diidentikkan dengan terorisme. Salah satu contoh hangat di Australia adalah kasus dokter Haneef yang dituduh terlibat dalam aksi terorisme telah menimbulkan kesan tersendiri bagi kalangan non- Muslim pada umumnya bahwa orang-orang Muslim diidentikkan dengan terorisme. Belum lagi berita tentang jaringan Jemaah al Islamiyah yang kerap kali menghiasi media massa nasional mereka.
Diterbitkan di: September 23, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.