• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Humor jadi Tumor di Televisi Indonesia

.

Humor jadi Tumor di Televisi Indonesia

oleh : ihsyah     

Pengarang : Veven Sp. Wardhana
Nampaknya, Mick Maltin dan Marsha Porter penyusun buku tahunan Video Movie Guide (Ballantine Book, New York) dan Leonard
Maltin penyusun buku (juga tahunan) Leonard Maltin’s Television Movie and Video Guide (New American Library, New York), perlu bertandang ke Indonesia, terutama untuk menengok jagad persinemaan, lebih khusus lagi: sinema Televisi—baik yang serial, seri, maupun film lepas yang sekali tayang langsung tamat.
Dalam buku-buku itu, dengan sedikit perbedaan, mereka membagi-bagi kategorisasi film atau sinema yang terdiri dari: action (alias laga) atau adventure film, lalu children’s viewing alias film untuk anak-anak, komedi, dokumenter, drama, horor, musikal, misteri atawa suspens, fantasi atau science-fiction, western yang model-model film koboi itu, dan film berbahasa asing. Namun, tak ada kategorisasi sinema reliji—satu hal yang ada dalam hampir seluruh tayangan televisi Indonesia-Raya, setidaknya macam itulah terminologi yang diusung para pengelola siaran televisi Indonesia.
RELIJI(US) ITU KOMEDI(K)
Macam mana pula tayangan yang dimaksudkan sinema reliji? Contoh terawal terdapat lewat layar Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), yakni seri Rahasia Ilahi dan Takdir Ilahi. Saya katakan terawal, tengah Maret 2005, karena di kemudian hari, tayangan ala TPI ini menjadi trend-setter atau kiblat bagi televisi-televisi lain dalam memproduksi dan memprogram sinema reliji atau relijius.
Rahasia Ilahi maupun Takdir Ilahi mempunyai pola kisah yang sama, yakni perihal berbagai hal yang menurut umum berada di luar nalar, misalnya: sesosok jenazah gagal dikebumikan karena liang lahatnya mengerut-mengecil dan/atau jenazah tersebut kian memanjang bahkan sejak dalam keranda. Stasiun lain, Surya Citra Televisi (SCTV), saban pekan, sejak 28 Maret 2005, menayangkan seri Astaghfirullah, yang diniatkan sebagai sinema relijius pula.
Jika disederhanakan, jalinan kisahnya adalah: kekuatan jahat akan segera sirna jika dilawan oleh kekuatan baik, sementara kekuatan baik itu digambarkan lewat sosok kiai, atau ustad, atau ulama yang menyitir ayat-ayat suci al-Quran. Dengan pola dramaturgi dan jalinan kisah macam ini, sesungguhnya kisah-kisah drakula, vampire, atau yang sejenisnya punya kesejajaran dengan sinema reliji made in Indonesia itu.
RUMOR ITU HUMOR
Selain murah senyum (yang tak berkait dengan kelucuan), bangsa Indonesia nyatanya juga murah—bahkan royal—menciptakan istilah. “Sinema relijius” adalah salah satu contoh konkretnya. Contoh lainnya: istilah “ infotainmen”, yang dimaksudkan sebagai informasi perihal dunia entertainmen. Dunia hiburan. Padahal, dengan mengacu pada istilah edutainment, sebagai misal, yang berarti pendidikan dalam format nan menghibur, semestinyalah “infotainmen” itu dijabarkan sebagai: informasi dalam bentuk yang menghibur. Yang terjadi, dalam bukti di layar segenap televisi Indonesia adalah: tayangan infotainmen berisi informasi mengenai dunia penghibur, entertainer, dan lebih khusus lagi sas-sus (dari: desas-desus) perihal para penghibur itu.
Jabarannya, infotainmen tak hendak memilah dan memisah mana telor mana bebuahan (baca: mana rumor mana kenyataan) semata karena keduanya bisa sama-sama terkesan bulat!
Sudah media salah menempatkan makna figur publik, eh… para pesohor inipun menyebut diri mereka sebagai public figure, seakan-akan para pesohor ini telah menciptakan sebuah kebijakan yang berakibat pada nasib publik. Adakah para pesohor atau artis atau selebritas ini narsistik? Tidak. Mereka sedang memainkan peran komedik. Sungguh bikin gemas sekaligus lucu.
IKLAN SUNGGUH SIALAN, TAPI KPI ADALAH KOMISI PEMBIARAN IKLAN
Pembloonan, penjungkirbalikan, pencampuradukan istilah, dan sebangsanya tadi, muaranya hanya satu: mendapat atau masuk dalam hitungan peringkat. Rating! Karena itu, alangkah menggelikan jika kita berharap, bahkan menuntut, agar televisi Indonesia itu mempercerdas bangsa; wong niyat ingsun awal didirikannya perusahaan media penyiaran itu adalah menampung dan menangguk ongkos pemasangan iklan yang angka nominalnya berpangkat miliaran itu.
Biaya pemasangan iklan itulah yang menjadi ‘ibadah’ pemproduksian mata tayangan dan perancangan program itu—setelah tayangan iklan yang mewanti-wanti “teliti sebelum membeli” bagi “mana suka siaran niaga” diharamkan dari layar Televisi Republik Indonesia (TVRI), 1 April 1981.
Sekadar contoh, dalam siaran Dahsyat (RCTI, Kamis, 9 April 2009: 09.00), usai Olga Syahputra menyanyi, artis Luna Maya yang menjadi pembawa acara kemudian mengomentari bahwa suara Olga memang ekspresif, namun “tidak seekspresif XL Expressive untuk SMS”. XL adalah nama operator telepon seluler. Jelas, celetukan Luna Maya adalah iklan.
Kata seorang pengelola pemasok tayangan infotainmen, pada hari-hari ini (dalam obrolan Mei 2009), hampir semua tayangan infotainmen menyiarkan ‘berita tapi iklan’ itu. Lucu, jika penonton tak menganggap itu sebagai iklan. Lebih lucu lagi jika pengelola siaran begitu yakin bahwa penonton akan menganggap tayangan itu bukan sebagai iklan. Dengan meminjam emoticon (yang tak bisa saya pindahkan dalam teks ini), visualisasinya tak sebatas gambar mulut senyum, atau gambar mulut tertawa hingga seluruh gigi kelihatan, melainkan gambar kepala yang kerowak bagian mulut saking terbahaknya itu ketawa ditambah seluruh badan bergulung-guling di lantai lantaran gagal menahan gelitikan syaraf geli.
HUMOR SEJATI ITU TUMOR
Jadi, jangan mencari tayangan khusus humor di televisi jika berniat terbahak. Dari mulai siaran hingga akhir siaran, semuanya merupakan ladang tak pernah kerontang tumbuhan yang memicu kita tertawa bahkan hingga tergugu-gugu.
Bagaimana dengan mata acara yang by design di-niyat ingsun-kan sebagai humor? Hmmm…, tahu tumor kan? Menahan diri untuk tidak ketawa padahal syaraf ketawa sudah tergelitik jauh lebih bagus ketimbang harus ketawa saat melihat sesuatu yang sama sekali sangat tidak lucu, atau gagal menjadi lucu. Syahdan, itu bisa menimbulkan penyakit tumor.
Diterbitkan di: September 01, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.