Tujuhbelas fotografer Makassar menerbitkan buku bertajuk 1357 KM Tour of Photography: South Sulawesi in 17 Photographer's
Eyes. Buku ini merupakan hasil dari kegiatan Tour of Photography 2008 yang menempuh jarak sepanjang 1357 KM yang menjadi inspirasi dari judul buku. Kegiatan itu mengelilingi wilayah Sulsel pada bulan Januari 2008 lalu. Tur ini untuk mengabadikan segala potensi alam dan budaya yang ada di daerah yang dilalui. Memasuki pelosok, mengabadikan kehidupan di jantung pedesaan, menggali
pesona alam dan lingkungan. Pemotretan obyek-obyek tersebut dilakukan dengan pendekatan human interest, landscape, portrait, dan foto jurnalistik.
Sebagian foto-foto yang terdapat dalam buku ini telah dipamerkan pada bulan Juni 2008 lalu dan telah melalui proses kurasi untuk menghadirkannya dalam bentuk buku. Buku ini dikemas dalam dua versi cetakan: hard-cover dan soft-cover. Juga dengan naskah dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris.
Secara teknis, buku dibagi dalam empat bab atau kategori, yakni landscape, aktivitas masyarakat, sosial budaya dan anak-anak. Pemilihan kategori ini berdasarkan ketertarikan para fotografer terhadap kekayaan obyek foto yang ada. Sebagai pembuka, buku menyajikan paparan singkat tentang Sulsel. Di tiap kategori, disertakan pula uraian singkat tentang objek dan lokasi pemotretan sebagai pelengkap foto.
Secara keseluruhan buku ini menampilkan 175 foto yang cukup memberi gambaran tentang Sulsel. Di antara foto-foto itu, terdapat obyek-obyek wisata dan budaya yang selama ini sudah dikenal secara meluas, pesona budaya Tana Toraja dan keunikan suku Kajang. Kedua obyek ini memang menjadi daya tarik pariwisata Sulsel. Tana Toraja dan Kajang dengan segala atribut kebudayaannya adalah potret dari pergumulan peradaban yang mempertaruhkan tradisi lama dan masuknya modernitas.
Ke 175 foto yang disajikan dalam buku setebal v halaman pendahuluan, 84 halaman isi dan 4 halaman iklan ini pun mengajak kita "berdialog" kembali dengan alam dan beragam sisi kehidupan manusia yang terjadi di dalamnya. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota tempat para fotografer ini bermukim dan beraktifitas. Di luar itu, para fotografer yang rata-rata masih berusia muda ini lebih memilih menyampaikan pesan lewat bidikan kameranya. Menyodorkan keindahan alam Sulsel dan mengabadikan kehidupannya.
Sayangnya, buku ini tak menampilkan semua daerah yang ada di Sulsel termasuk Kota Makassar sebagai ibukota Sulsel dan gerbang Indonesia Timur. Meski begitu, di mata Chalie Suyata, fotografer dari Lembaga
Fotografi Chandra Naya Jakarta, buku ini adalah sebuah karya kreatif, dokumentatif, dan edukatif, sekaligus motivasi bagi masyarakat pelaku maupun penikmat seni fotografi Indonesia. Dan ke 17 fotografer ini pun sadar kalau “fotografi adalah media untuk mengabadikan kehidupan.”