Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Kaum Marginal

oleh: ishak_zainal     Pengarang : M. Ishak Zainal
ª
 

KITA mungkin jarang menggunakan mata dan pikiran kita mengamati; bagaimana anak-anak telantar terpaksa mencari nafkah.

Di sekeliling kita, bahkan di tengah kehidupan masyarakat ilmiah pun menyodorkan realitas itu. Kita bangga bahkan orgasme bergelut di masyarakat ilmiah, namun kita jarang berpikir tentang mereka, tentang yang terpojok dalam kehidupan marginal sana; sumbangsi apa yang tepat untuk meringankan beban hidup mereka.

Kita hanya sibuk mencari ilmu, terhisap daya magnik keegoan diri sendiri: Bagaimana saya mencari ilmu sebanyak-banyaknya, lalu saya bekerja dan mendapat kedudukan dan status sosial di atas mereka. Kampus tempat bergelut hanya dipandang sebagai bagian mesin dari industri. Kita siap mengabdi untuk industri bukan untuk kemanusiaan.

Kehidupan mereka, kaum marginal bukanlah keinginan mereka untuk masuk dalam wilayah pertarungan hidup yang keras itu. Ada keterpaksaan lantaran karena keegoan para mantan intelektual yang hanya bangga dengan gelar dan ilmunya. Keegoan para ilmuan yang telah mendapat kedudukan yang hanya mementingkan diri dan proyek mereka.

Di balik jeratan hidup di tengah keterpaksaan itu, apakah mereka susah? Mereka telah terbiasa hidup pahit, sehingga kepahitan tak mereka lagi alami yang sangat. Dalam realitas keseharian, mereka juga memiliki senyum, canda bahwa kepuasan yang jarang mungkin kita rasakan. Tidurnya pun nyenyak.
Iya mereka punya senyum, canda namun di balik semua itu, mereka juga punya rasa marah. Mengapa kemarahan mereka tidak mencuat, padahal himpitan hidup telah menderanya?

Mereka itu sabar bukan karena kesabaran hati mereka, tapi sabar keterpaksaan. Mereka sabar, karena mereka belum memahami tentang hak-haknya. Mereka belum mengetahui bahwa mereka itu hanyalah korban eksploitasi dari para intelektual, mereka belum memahami tentang permainan busuk elit potikus. Mereka itu hanyalah efek dari para koruptor-koruptor yang menjarah hak kebahagiaan atas mereka. Semua itu mereka belum paham, kalau pun mereka paham, mereka hanya memendam kemarahannya saja.

Kini, ada baiknya kita membiasakan diri menengok ke bawah, di pinggir-pinggir jalan, di balik hiruk pikuk politik, bahkan harus menenggok di balik ketidaktahuan mereka, sebelum mereka mengatahui siapa sesungguhnya yang menjarah hak-hak mereka itu.

Klik ishak_zainal untuk membaca karya tulis lainnya.

Diterbitkan di: 18 April, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    judul saya skripsi marginalisasi sosial masyarakat pemulung,, kira kira teori apa yang cocoksaya pakai. terima kasih Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.