Berhentilah Menjadi Rubah!
Oleh: M. Deman Putra Tarigan
Konon, tidak ada satu pun yang tetap di dunia ini
kecuali perubahan. Perubahan itu pasti terjadi. Sebagai contoh, yang baru saja kita rasakan: perubahan tahun dari 1429 H menjadi 1930 H (Hijriah) dan 2008 menjadi 2009 (Masehi).
Setiap melewati pergantian tahun, kita selalu menggantungkan harapan agar tahun yang baru bisa lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Kita mengharapkan adanya perubahan. Itu sebabnya tahun baru disambut dengan sukacita.
Pada tahun 2009 ini, Amerika Serikat akan mengalami perubahan kepemimpinan. Rakyat di Negeri Paman Sam itu akan memiliki presiden yang baru. Seorang presiden yang juga menjanjikan perubahan (change). Dia adalah Barack Hussein Obama.
Barack Obama akan mengubah sejarah Amerika Serikat karena menjadi presiden berkulit hitam pertama di negara adidaya itu. Jika tidak ada halangan, Obama akan dilantik sebagai presiden pada 20 Januari 2009. Pria yang pernah tinggal di Indonesia itu akan menggantikan Presiden George Walker Bush yang telah berkuasa delapan tahun di Gedung Putih (The White House).
Rakyat Amerika Serikat, bahkan dunia, memang sangat berharap kepada Barack Obama. Kemenangannya disambut dengan sukacita di berbagai kota di dunia. Mengapa demikian? Ya itu tadi, karena Obama, dalam kampanyenya telah menjanjikan perubahan (change). Tema kampanyenya ”Change! We can believe in” dan ”Change we need” ibarat magnet yang berhasil menarik simpati rakyat Amerika Serikat untuk memberikan suara kepadanya.
Rakyat Amerika Serikat ingin berubah. Begitu juga dengan dunia. Semua ingin berubah (ke arah yang lebih baik tentunya). Dan, memang begitulah seharusnya. Jika ingin kehidupan kita lebih baik, kita harus berubah.
Mengubah dan Merubah
Berdasarkan proses pembentukan katanya, perubahan berasal dari kata dasar ubah yang mendapat awalan per-. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, lema ubah berarti (1) menjadi lain (berbeda) dr semula; (2) bertukar (beralih, berganti) menjadi sesuatu yg lain; (3) berganti (tt arah), dan perubahan adalah hal (keadaan) berubah; peralihan; pertukaran. Jika mendapat awalan me- maka ubah menjadi mengubah, yang berarti (1) menjadikan lain dari semula; (2) menukar bentuk (warna, rupa, dsb); (3) mengatur kembali.
Sayangnya, banyak pengguna bahasa yang kerap menyebut mengubah dengan merubah. Begitu juga dengan beberapa media massa yang kadang menggunakan kata merubah untuk maksud menjadikan sesuatu berubah. Kalangan musikus dan penyanyi juga berbuat demikian. Maka, suara Once yang merdu, terdengar ”aneh” ketika melantunkan lirik: ”Kau boleh acuhan diriku… tapi tak ’kan merubah perasaanku kepadamu.”
Mengubah berasal dari me + ubah, sedangkan merubah berasal dari me + rubah (karena tidak ada awalan mer-). Karena kata dasarnya adalah rubah, maka merubah berarti menjadi rubah (binatang sejenis anjing yang bermoncong panjang). Jika ada orang yang menyebut, ”Saya akan merubah…,” itu berarti dia akan menjadi rubah. Tentu bukan itu yang dimaksud oleh si penutur. Ini adalah sebuah kesalahan yang cukup sering kita dengar.
Kemungkinan besar, penyebab kesalahan ini adalah karena pengaruh kata berubah dan perubahan. Sehingga, ketika kata ubah mendapat awalan me- malah menjadi merubah, bukan mengubah. Jadi ada semacam pola ”r”: berubah perubahan merubah.
Ketika saya membaca judul sebuah buku: Merubah Indonesia, saya langsung mengernyitkan dahi. Menjadi rubah Indonesia? Apakah si penulis akan membahas tentang rubah yang hidup di Indonesia, atau…. Sayang sekali, buku bagus ini harus ”ternoda” dengan kesalahan tata bahasa, pada judulnya pula.
Mulai sekarang, marilah kita melakukan perubahan dengan selalu menggunakan kata mengubah, bukan merubah, untuk menyatakan ”menjadikan sesuatu berbeda dari sebelumnya”. Sudah saatnya kita berhenti ”menjadi rubah”. Bukankah lebih baik menjadi kaya, menjadi pintar, menjadi sukses, atau menjadi cantik, daripada menjadi rubah?